Selasa 07 Mei 2019, 01:10 WIB

Radhar Panca Dahana Tiga Kiat Jaga Intelektualitas

Abdillah M Marzuqi | Hiburan
Radhar Panca Dahana Tiga Kiat Jaga Intelektualitas

MI/Ramdani
Radhar Panca Dahana

 

DAYA kreatif dan kritis menjadi syarat mutlak untuk mempertahankan intelektualitas. Kondisi itu tidak serta-merta bisa diperoleh hanya berdiam diri. Harus ada usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai kondisi itu. Apalagi, di usia yang tidak lagi muda. Kesehatan dan kewarasan seolah menjadi pertaruhan melawan waktu.

Sebagai seorang yang lekat dengan intelektualitas, Radhar Panca Dahana punya kiat tersendiri menjaga diri. Ada tiga hal yang ia perhatikan untuk menjaga intelektualitas, yakni jiwa, batin, dan gaya hidup.

Jiwa dan batin yang tidak cukup mendapat asupan kebaikan akan memicu pada gaya hidup yang merugikan tubuh. Seperti terlalu banyak kopi, bergadang, dan sedikit istirahat.

"Kayak saya punya penyakit, harus dijaga, karena kesehatan fisik akan ikut. Saya mencoba menciptakan kebaikan dalam diri saya," ujar Radhar saat ditemui di sela pembukaan pameran He(Art); Reflection of Nightmare di Balai Budaya Jakarta, Kamis (2/5).

Radhar punya pengalaman buruk tidak menjaga kondisi fisiknya. Ia harus dirawat selama beberapa bulan, bahkan kejadian itu berulang kali.

"Kalau jahat, langsung hancur badanku. Biasanya kalau saya stres, saya stres satu bulan, itu masuk rumah sakit lima bulan. Stres urusin seniman, berkali-kali itu," tandasnya.

 

Niat

Menurut pria berusia 54 tahun itu yang paling penting ialah niat semua perbuatan ialah ibadah sehingga akan membuat tekanan bila hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Niat ibadah pula yang membuatnya ikhlas dalam kerja kebudayaan maupun kerja kesenian.

"Kalau semua perbuatan kita anggap ibadah, kerugian itu tidak ada artinya karena kerugian itu menciptakan hikmah. Hikmah itu tidak ada yang negatif, pasti positif," tegas pendiri Perhimpunan Pengarang Indonesia dan Presiden Federasi Teater Indonesia.

Sementara itu, jiwa harus dijaga dengan memberikan asupan yang baik, seperti tidak berprasangka buruk, curiga, dengki, dan iri. Sebaliknya, jiwa harus bisa merasakan kebaikan dari orang lain. Tidak melulu berpikir negatif terhadap orang lain.

"Kalau jiwa, emosi, atau psike itu asupan negatifnya itu curiga, sirik, dengki, cemburu, prasangka. Kita harus merasakan secara positif, berbaik hati menerima orang lain," lanjutnya.

Selanjutnya ialah batin yang selalu sadar atas kekuatan terbatas manusia sekaligus pengakuan terhadap kekuatan terbesar. Lalu menyerahkan diri terhadap kekuatan tersebut dengan sabar, istikamah, dan ikhlas.

"Kalau batin selalu menyerahkan diri kepada kekuatan yang terbesar di semesta ini, yaitu dengan cara sabar, istikamah, dan ikhlas," tandasnya.

Sikap

Menurutnya, ketika jiwa dan batin terjaga, akan berpengaruh terhadap tubuh secara fisik. Tubuh tidak gampang terjebak dalam pemenuhan kebutuhan biologis. Kemauan pun akan bisa dikendalikan. Menghindari kecenderungan hedonis dengan mengontrol ketiganya.

"Kalau dua ini terjaga, keinginan akan terjaga dengan baik. Kalau keinginan terjaga dengan baik, tidak terjatuh pada desakan biologis. Desakan biologis itu kebutuhan hedonis," tambahnya.

Tidak seorang pun yang bisa berlepas dari pemenuhan kebutuhan fisik. Akan tetapi, pemenuhan itu berlaku sewajarnya, tidak berlebihan.

"Kalau ketiganya baik, bersih, terjaga, keinginan itu tidak muncul. Muncul dalam batas kewajaran. Makan ya makan, sewajarnya," ujar Radhar sembari memberi contoh punya uang Rp500 ribu tidak harus makan seharga Rp700ribu, cukup makan sewajarnya seharga Rp10 ribu.

Hasil lebih dari pendapatan pun tidak dihabiskan secara pribadi. Ada yang bisa dilakukan dengan membagi kepunyaan kepada publik. Radhar juga mencontohkan untuk tidak berlaku berlebihan dengan harta yang dimiliki. Ia juga menerapkan prinsip itu pada anak-anaknya.

"Sisanya buat apa? Kalau tidak bisa menabung, dikembalikan kepada publik. Saya gitu, ada kelebihan jadi kembalikan kepada publik. Anak-anak cukup, jangan dilebihkan. Saya bisa belikan mereka motor, tapi sepeda saja," ujar Radhar sembari mencontohkan dirinya.

Menurutnya sikap hidup itu merupakan inti dari karakter budaya bahari yang menjadi inti budaya bangsa Indonesia. Kesadaran individu sebagai bagian dari yang lebih luas dalam lingkungan dan semesta. Seorang manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia terkait dengan kebaikan yang lain. Jika lingkungan baik, ia juga bisa menjadi baik. Begitu pun sebaliknya.

"Artinya keselamatan masyarakat sekitar juga keselamatan dunia lingkungan itu adalah jaminan dari keselamatan saya. Kalau masyarakat sekitar hancur, saya juga hancur. Kalau alam lingkungan hancur, saya juga hancur. Saya harus menjaga itu," tegasnya.

Sikap itu akan mendorong pada pemahaman menjaga lingkungan tak ubahnya menjaga diri sendiri. "Jadi, kalau saya menjaga lingkungan, tidak berbuat buruk pada orang lain, sebenarnya menjaga diri sendiri," pungkasnya. (M-3)

Baca Juga

dok.foxnews

Ini Dalih Nikki Sixx Motley Crue Ubah Nama Panggungya

👤Sofia 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 10:30 WIB
BASSIST Motley Crue Nikki Sixx menjelaskan alasannya mengunah nama panggungnya menjadi Frank...
dok.wikipedia

TWICE Raih Penghargaan Konser Terbaik

👤Anggi Putri Lestari 🕔Kamis 21 Oktober 2021, 08:30 WIB
TWICE Raih Penghargaan konser terbaik di World In A Day' di '8th Edaily Culture...
dok rockinlilo

ROCKINLILO Apresiasi Arahan BNPB Selenggarakan Konser Aman Covid-19

👤RO/Micom 🕔Rabu 20 Oktober 2021, 23:32 WIB
Kesuksesan even  ini juga tidak luput dari peran dan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Satgas Penanggulangan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menolakkan Ancaman Kemiskinan Ekstrem

Pemerintah perlu memastikan seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem diterima rumah tangga miskin ekstrem yang ada di wilayah prioritas.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya