Rabu 19 Agustus 2020, 03:15 WIB

Radhar Panca Dahana Refleksi HUT RI di Tengah Pandemi

Atalya Puspa | Humaniora
Radhar Panca Dahana Refleksi HUT RI di Tengah Pandemi

MI/Panca Syurkani
Budayawan Radhar Panca Dahana

 

HARI ulang tahun Republik Indonesia kali ini diperingati dalam situasi berbeda. 

Pandemi covid-19 telah mengubah tatanan hidup masyarakat. Dengan melihat hal itu, budayawan Radhar Panca Dahana, 55, menilai bahwa hari kemerdekaan kali ini dapat  menjadi satu renungan bagi bangsa bahwa sesungguhnya kemerdekaan merupakan satu hal yang mudah direnggut.

“Harus kita renungkan. Paling jelas bahwa kemerdekaan kita dengan mudah direnggut dengan makhluk kecil yang bernama covid-19,” kata Radhar kepada Media Indonesia, Senin (17/8).

Radhar menyatakan hal ini harus menjadi refl eksi bahwa kita rapuh sebagai manusia. Bahwa kerapuhan dari kebebasan dan kemerdekaan ini ada pada kita. “Kita tidak merdeka tidak bebas, bahkan menjadi tragedi. Kemerdekaan kita semua rapuh,” imbuhnya.

Dengan adanya pandemi ini, Radhar menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada kemerdekaan atau kebebasan secara mutlak. Pasalnya, kemerdekaan dinilainya memiliki sifat yang fakultatif. 

Artinya, itu hanya berlaku pada situasi situasi tertentu.”Kita cuma merdeka secara politis, tetapi tidak utuh. Kita belum merdeka secara ekonomi, agama, dan belum memegang kebebasan,” kata penulis buku Homo Theatricus itu.

“Banyak kalangan yang merasa obsesif atau memanfaatkan orang lain atau situasi dengan alasan untuk kemerdekaan. Padahal, alasan itu gak memadai, enggak punya argumen enggak punya sejarah,” tambahnya.

Untuk itu, dirinya menilai kemerdekaan semestinya dirayakan dengan terus hidup menjadi pribadi yang baik, bekerja keras, dan memberikan manfaat bagi orang banyak.  “Kita sadari dan kita pahami baik, kita lihat dengan mata kepala sendiri, tidak ada kemerdekaan mutlak. Yang terpenting harus terus bekerja keras dan bermanfaat bagi bangsa,” tandas Presiden Federasi Teater Indonesia tersebut.


Kritik

Dalam kanal Youtube-nya, Radhar juga menyentil kritik yang banyak dilontarkan pada saat sini. 

“Dalam kehidupan bernegara, kririk-kritik banyak dilontarkan berbagai pihak. Kita sepakat kritik ialah bagian dari demokrasi, bagian dari cara kita mendewasakan diri. Sekarang semua dipersilakan menjadi bagian dari kebebasan, demokrasi, entah itu kita setujui atau
tidak,” terang Radhar seperti dikutip dari kanal Youtube Radhar Panca Dahana, kemarin.

Ia menambahkan, banyak sekali suara sangat keras dalam mengkritik dan mengoreksi kerja pemerintah. “Apa yang menarik ialah kritik keras itu belakangan semakin lunak atau semakin kecil gaungnya, terutama di kalangan oposan atau petinggi poltik yang berkepentingan besar dalam kehidupan politik,” jelasnya.

Menurut Radhar, oposan atau petinggi politik lebih banyak bersembunyi karena mayoritas dari mereka berpihak pada kubu pemerintah. “Justru kritik keras saat ini bukan dari oposan atau parlemen, tetapi dari masyarakat sipil. Penyelenggaraan kehidupan bernegara akan jauh lebih baik dengan adanya kritik dari elemen sipil tesebut,” imbuh Radhar yang menerima medali Medali Frix de le Francophonie 2007 dari lima belas negara berbahasa Prancis. (H-3)
 

Baca Juga

Antara/Muhammad Iqbal.

Keseimbangan antara Relaksasi Kegiatan dan Terkendalinya Covid-19 Harus Dijaga

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 15:01 WIB
Menjelang akhir tahun para pemangku kepentingan dan semua pihak harus mempersiapkan diri dalam menghadapi potensi pergerakan orang di masa...
MI/Koresponden

Menko PMK Minta BPJS Kesehatan Optimalkan Pemanfaatan Big Data

👤Atalya Puspa 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:46 WIB
Muhadjir Effendy meminta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk mengoptimalkan pemanfaatan big data dalam melakukan...
Antara/Yusuf Nugroho.

Ditanya tentang Hukum Maulid Nabi, Imam As-Sakhawi Jawab Begini

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Oktober 2021, 13:39 WIB
Dalam kitabnya berjudul al-Ajwibah al-Mardliyyah, juz III, halaman 1116, ulama bermazhab Syafii itu menjawab hal tersebut dengan panjang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya