Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

IESR Ingatkan Risiko Pasokan Energi Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Naufal Zuhdi
01/4/2026 17:09
IESR Ingatkan Risiko Pasokan Energi Meski Konflik Timur Tengah Mereda
Kilang Minyak(MI)

BERAKHIRNYA konflik di Timur Tengah tidak serta-merta menjamin pemulihan pasokan energi global dalam waktu singkat. Hal tersebut disampaikan Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, yang mengingatkan pemerintah dan pelaku pasar agar tetap waspada terhadap dampak lanjutan krisis energi.

Fabby mengungkapkan, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi berakhirnya konflik dalam waktu dekat memang memberikan harapan meredanya ketegangan, termasuk di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

“Apabila apa yang disampaikan Presiden Trump benar, maka kita berharap dalam 2–3 minggu krisis di Selat Hormuz akan berakhir. Tapi kita juga harus waspada bahwa walaupun perang berakhir, pasokan BBM, LNG, dan lain-lain dari Timur Tengah belum tentu langsung pulih,” kata Fabby pada acara Forum Diskusi Denpasar 12 yang digelar secara daring, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan, konflik yang terjadi telah menimbulkan gangguan pada sejumlah fasilitas produksi energi, termasuk infrastruktur gas alam cair (LNG). Kerusakan tersebut membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat.

“Misalnya salah satu terminal LNG di Qatar mengalami kerusakan. Perbaikannya bukan hanya bulanan, tapi bisa tahunan,” jelas Fabby.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi menekan pasokan LNG global dalam jangka menengah, yang pada akhirnya akan berdampak terhadap harga energi di pasar internasional.

“Jadi walaupun perang berakhir, belum tentu pasokan minyak, LNG, dan energi lainnya bisa pulih seperti sebelum konflik. Ini yang harus kita cermati karena implikasinya akan terasa pada harga,” katanya.

Fabby menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pemerintah untuk mengamankan pasokan energi domestik, sekaligus mempercepat diversifikasi sumber energi guna mengurangi ketergantungan pada impor dari kawasan yang rentan konflik. (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya