Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 T Meski Disuntik Dana Danantara Rp23,67 T

Insi Nantika Jelita
19/3/2026 11:07
Garuda Indonesia Rugi Rp5,42 T Meski Disuntik Dana Danantara Rp23,67 T
Teknisi dari GMF(Garuda Maintenance Facility) mengecek kesiapan akhir mesin pesawat Garuda Indonesia yang akan digunakan untuk armada angkutan haji 1446 H/2025 di hanggar GMF Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (24/4/2025(ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.)

PT Garuda Indonesia (GIAA) masih mencatatkan kerugian signifikan pada tahun buku 2025 yakni sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,42 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.969 per dolar AS) meskipun telah memperoleh suntikan dana sebesar Rp23,67 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara (BPI Danantara).

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengungkapkan, pendapatan usaha konsolidasi perseroan sepanjang 2025 tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. 

"Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan," ujarnya dalam keterangan resmi.

Selain itu, kinerja Garuda Indonesia Group turut tertekan oleh terbatasnya kapasitas produksi, terutama pada semester I 2025. Kondisi ini dipicu oleh masih banyaknya armada yang belum dapat dioperasikan (unserviceable aircraft) karena menunggu jadwal perawatan (scheduled maintenance). Selain itu, kerugian juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah serta meningkatnya biaya tetap (fixed cost) seiring intensifnya program pemulihan armada.

Di tengah tantangan tersebut, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan jumlah armada yang dapat dioperasikan. Hingga akhir 2025, jumlah serviceable aircraft meningkat menjadi sedikitnya 99 pesawat, dari sebelumnya sekitar 84 pesawat pada Juni 2025. Sementara itu, sebanyak 43 armada masih dalam proses perawatan. Namun demikian, jumlah penumpang sepanjang tahun tercatat 21,2 juta, turun 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan kinerja pada 2025 juga dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, pelemahan nilai tukar rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan. 

"Meski demikian, Garuda Indonesia optimistis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," kata Glenny.

Dari sisi keuangan, dukungan pendanaan melalui shareholder loan dan capital injection dari Danantara pada 2025 berhasil memperbaiki posisi ekuitas perusahaan. Per akhir Desember 2025, ekuitas Garuda Indonesia tercatat positif sebesar US$91,9 juta, meningkat signifikan dari posisi negatif US$1,35 miliar pada tahun sebelumnya.

Total dukungan pendanaan sekitar Rp23,7 triliun tersebut digunakan untuk mempercepat program perawatan dan reaktivasi armada, serta penyelesaian kewajiban Citilink kepada Pertamina. Dari jumlah tersebut, sekitar 64% atau Rp15 triliun dialokasikan untuk Citilink, sementara Garuda Indonesia memperoleh sekitar Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada yang akan terus dioptimalkan hingga akhir 2026.

Seiring dukungan tersebut, posisi kas dan setara kas Garuda Indonesia meningkat signifikan menjadi US$943,4 juta pada akhir 2025, dibandingkan US$219,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan likuiditas yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional dan mendukung transformasi bisnis yang tengah berlangsung.

Dukungan pendanaan dari Danantara dikatakan mulai berdampak pada pemulihan operasional di semester II 2025, ditandai dengan penyelesaian lebih dari 100 kegiatan perawatan (maintenance) untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Ke depan, Garuda Indonesia menargetkan dapat mengoperasikan sedikitnya 68 pesawat yang siap terbang (serviceable aircraft) pada akhir 2026, sementara Citilink menargetkan 50 pesawat.

Upaya optimalisasi armada pada 2026 akan diperkuat melalui percepatan berbagai inisiatif strategis perawatan, termasuk heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, dan Airbus A330. Selain itu, perseroan juga melakukan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti mesin, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan kinerja armada tetap optimal. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik