Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
HARGA minyak mentah dunia kembali meroket melampaui angka US$100 per barel pada Kamis pagi. Lonjakan ini terjadi hanya tiga hari setelah menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan bahan bakar global.
Meskipun negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah sepakat secara bulat untuk melepas 400 juta barel cadangan minyak ke pasar global, para pelaku pasar tampaknya tetap tidak teryakinkan.
Berdasarkan data perdagangan terakhir, minyak mentah Brent yang menjadi tolok ukur global diperdagangkan di kisaran US$100 per barel, melonjak sekitar 8,88%. Setali tiga uang, West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat juga melesat 8,8% ke posisi US$95 per barel.
Intervensi IEA kali ini menandai penarikan cadangan terkoordinasi terbesar sejak badan tersebut didirikan pasca-embargo minyak tahun 1973. Amerika Serikat sendiri berkomitmen melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa pengiriman diperkirakan mulai minggu depan dan akan memakan waktu sekitar 120 hari untuk rampung.
Pasar cenderung mengabaikan pengumuman tersebut karena adanya keraguan besar bahwa langkah darurat ini mampu menutupi celah pasokan, terutama jika arus pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu. Diketahui, sekitar seperlima dari pasokan minyak global melewati jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia tersebut.
Analis energi dari MST Marquee, Saul Kavonic, menilai bahwa pelepasan stok ini hanya mampu menutup sekitar seperempat dari defisit 20 juta barel per hari jika Selat Hormuz ditutup total.
"Keputusan IEA juga memberi sinyal betapa akutnya risiko kekurangan minyak. Ini menunjukkan bahwa IEA tidak percaya perang akan segera berakhir, dan stok yang ditarik sekarang perlu diganti nanti, yang menandakan harga tetap tinggi bahkan setelah perang usai," ujar Kavonic kepada CNBC.
Selain volume pasokan, masalah waktu dan logistik menjadi faktor utama keresahan pasar. IEA belum memberikan rincian mendalam mengenai seberapa cepat tiap negara dapat mendistribusikan cadangannya.
Pavel Molchanov, ahli strategi investasi senior di Raymond James, menyoroti bahwa harga saat ini sedang dalam "mode panik" yang dipenuhi emosi dan ketidakpastian.
"Harga saat ini masih dalam mode panik. Ada banyak emosi, ketakutan, dan ketidakpastian yang terbangun di dalam harga yang kita lihat," kata Molchanov.
Ia memperkirakan butuh waktu 60 hingga 90 hari sebelum minyak tersebut benar-benar mencapai pasar secara signifikan. Padahal, di tengah gangguan pasokan terbesar sejak 1970-an ini, pasar membutuhkan bantuan fisik dalam waktu yang sangat cepat. (CNN/CNBC/Z-2)
Harga minyak mentah Brent jatuh dari level tertinggi empat tahun setelah Donald Trump memberi sinyal berakhirnya konflik di Iran dan rencana penguasaan Selat Hormuz.
Harga minyak dunia melonjak tajam melewati US$114 per barel akibat blokade Selat Hormuz.
Ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia setelah tiga kapal diserang di Selat Hormuz.
Harga minyak dunia melonjak tajam melewati US$114 per barel akibat blokade Selat Hormuz.
Harga minyak Brent dan WTI jatuh hampir 3% setelah pernyataan Donald Trump terkait situasi di Iran meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved