Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

APBN Februari 2026 Defisit Rp135,7 T, Ekonom: Karena Pengeluaran Meningkat di Awal Tahun

Ihfa Firdausya
11/3/2026 16:45
APBN Februari 2026 Defisit Rp135,7 T, Ekonom: Karena Pengeluaran Meningkat di Awal Tahun
Warga berburu pakaian kebutuhan Hari Raya Idul Fitri 1447 H, di Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (11/3/2026).(MI/Ramdani)

EKONOM PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang memberikan catatan terkait kinerja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) per Februari 2026. Pada periode tersebut, defisit APBN tercatat sekitar Rp135,7 triliun atau 0,53% dari APBN.

“Defisit fiskal Indonesia tercatat sebesar Rp 135,7 triliun (0,53% dari PDB; 19,8% dari Anggaran) pada Februari 2026 karena pengeluaran meningkat di awal tahun,” kata Hosianna dalam keterangan yang diterima, Rabu (11/3).

Pemerintah mencatat belanja negara pada Februari 2026 mencapai Rp 493,8 triliun, meningkat 41,9% (year-on-year/yoy) atau 12,9% dari anggaran. Hal itu didorong oleh pengeluaran material sebesar Rp67,6 triliun (+269,0% yoy) terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (Rp39 triliun terealisasi hingga Februari 2026), dan subsidi serta kompensasi sebesar Rp 51,5 triliun (+385,4% yoy).

“Lonjakan sementara harga minyak dan gas akibat konflik AS-Iran dapat meningkatkan subsidi dan pengeluaran kompensasi. Namun, harga batu bara dan CPO yang lebih tinggi dapat meningkatkan pendapatan non-pajak, terutama setelah kenaikan bea cukai ekspor CPO menjadi 12,5% mulai 2 Maret,” kata Hosianna.

Sementara pendapatan mencapai Rp358,0 triliun, naik 12,8% yoy atau mencapai 11,4% dari anggaran. Hosianna memyebut kinerja pendapatan masih terbebani oleh pendapatan non-pajak sebesar Rp68,0 triliun (11,3% yoy) karena penurunan produksi minyak. Sementara bea cukai mencapai Rp44,9 triliun (+13,4% yoy) di tengah kenaikan harga referensi komoditas.

“Sementara itu, penerimaan pajak pulih menjadi Rp 290,0 triliun (+20,6% yoy; 10,8% dari anggaran), dengan pajak penghasilan naik menjadi Rp104,9 triliun (+18,7% yoy) dan PPN neto melonjak menjadi Rp85,9 triliun (+97,4% yoy) karena restitusi yang lebih rendah,” paparnya.

“Permintaan domestik yang lebih kuat, siklus bisnis sektor riil yang membaik, dan optimalisasi Coretax mendukung kinerja pendapatan pada 2M26. Sementara pembayaran bunga naik menjadi Rp99,8 triliun (+25,9% yoy), menyerap 34% dari penerimaan pajak yang menunjukkan kekakuan fiskal,” pungkasnya. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya