Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nila Yani Hardiyanti, menekankan urgensi penguatan industri pangan nasional agar tetap kokoh di tengah badai geopolitik global. Hal ini disampaikannya saat meninjau langsung fasilitas produksi PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk di Gresik, Jawa Timur.
Dalam kunjungan tersebut, Nila memberikan apresiasi tinggi kepada manajemen GarudaFood atas dedikasinya memperkuat sektor makanan nasional sekaligus menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan. Ia menilai, konsistensi dalam menjaga kualitas dan daya saing adalah fondasi utama keberlanjutan industri.
“Industri pangan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional. Saya mengapresiasi komitmen GarudaFood yang terus menjaga kualitas, memperkuat daya saing, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak sehingga industri pangan nasional tetap mampu bertahan di tengah dinamika global,” kata Nila dalam keterangan yang diterima, Jumat (6/3).
Legislator Muda dari daerah pemilihan Jawa Timur tersebut menekankan bahwa keberlanjutan produksi industri harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap tenaga kerja. Ia berharap produktivitas industri pangan terus meningkat agar sektor ini tetap menjadi salah satu penopang utama penyerapan tenaga kerja nasional.
“Kita berharap produktivitas industri terus meningkat sehingga stabilitas tenaga kerja tetap terjaga. Industri nasional harus mampu bertahan dan berkembang agar tidak terjadi gelombang PHK di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Komisi VII DPR RI juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri makanan nasional, khususnya terkait ketergantungan terhadap bahan baku impor. Sebagian bahan baku industri masih berasal dari luar negeri sehingga dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi kelancaran rantai pasok dan biaya produksi industri.
Nila menuturkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah maupun gangguan pada jalur perdagangan strategis dunia seperti Selat Hormuz dapat berdampak langsung terhadap sektor industri.
Karena itu, ia mendorong perusahaan untuk memperkuat strategi mitigasi melalui diversifikasi sumber bahan baku serta penguatan pasokan domestik.
“Ketahanan industri nasional tidak boleh terlalu bergantung pada faktor eksternal. Diversifikasi sumber bahan baku dan penguatan rantai pasok domestik menjadi langkah penting agar industri kita tetap tangguh menghadapi dinamika global,” tegasnya.
Selain isu ketahanan industri, Nila juga menyoroti pentingnya transformasi industri pangan yang lebih berkelanjutan. Ia mendorong GarudaFood untuk mengambil peran sebagai pionir dalam inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Menurutnya, industri makanan dan minuman memiliki tanggung jawab besar dalam mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan kemasan sekali pakai.
“Ke depan, industri pangan tidak hanya dituntut meningkatkan produksi, tetapi juga harus memikirkan keberlanjutan lingkungan. Saya mendorong GarudaFood menjadi pionir dalam inovasi kemasan makanan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya. (P-4)
Kertas bekas berpotensi mencemari ikan pindang. Kertas ini bisa membawa cemaran mikrobiologis maupun kimiawi yang mempercepat kerusakan pangan dan mengganggu kesehatan konsumen.
Selain kemasan pangan biodegredable, Muslih dan kelompok risetnya juga melakukan riset terkait dengan memperpanjang umur simpan produk makanan.
Jauh lebih penting bagi pemerintah untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingya membaca informasi komposisi dan kandungan dalam suatu produk.
Ralali maksimalkan potensi AI untuk mengembangkan sektor usaha
Pernahkah Anda tertipu dengan kemasan makanan yang terlihat sehat namun ternyata tidak? Membaca label gizi adalah kunci untuk memahami apa yang sebenarnya terkandung dalam produk makanan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved