Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

BRI Pegang Dana SAL Rp80 Triliun, Mayoritas Disalurkan ke Kredit Mikro

Insi Nantika Jelita
26/2/2026 13:26
BRI Pegang Dana SAL Rp80 Triliun, Mayoritas Disalurkan ke Kredit Mikro
BRI menyambut positif perpanjangan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL).(MI/Insi Nantika Jelita)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyambut positif perpanjangan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) senilai Rp200 triliun di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah ini dinilai menjadi sentimen baik bagi stabilitas likuiditas perbankan sekaligus memperkuat transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil.

Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin mengatakan, penempatan dana pemerintah yang jatuh tempo di BRI terjadi pada 13 Maret 2026. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers daring Laporan Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025, Kamis (26/2).

“Kita sangat gembira karena ada informasi dari Kementerian Keuangan bahwa penempatan dana pemerintah SAL akan diperpanjang,” ujarnya.

Menurut Farida, perpanjangan tersebut menjadi kabar positif karena memperkuat keyakinan pasar terhadap terjaganya stabilitas likuiditas perbankan. Dengan likuiditas yang tetap kuat, transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil dinilai dapat berjalan lebih optimal.

“Kalau stabilitas likuiditas terjaga, transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil juga semakin terjaga. Jadi ini kondisi yang baik,” katanya.

Dari sisi BRI, total dana SAL yang diterima mencapai Rp80 triliun. Dari jumlah itu, Rp55 triliun merupakan bagian dari total Rp200 triliun yang ditempatkan di bank-bank Himbara. Sementara itu, BRI juga sempat menerima penempatan fase kedua sebesar Rp25 triliun yang bersifat jangka pendek sehingga tidak diperpanjang.

Farida menjelaskan, dana SAL tersebut telah disalurkan BRI dalam bentuk pinjaman ke berbagai segmen, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), konsumer, hingga sebagian kecil korporasi. Penyaluran terbesar diarahkan ke segmen mikro.

“Penyaluran ke sektor mikro hampir mencapai 50% dari total penyaluran SAL yang dilakukan BRI,” ujarnya.

Dari sisi sektor ekonomi, kredit yang bersumber dari SAL menjangkau hampir seluruh sektor, terutama yang berkaitan langsung dengan aktivitas sektor riil. Di antaranya pertanian, kehutanan, perikanan, serta sektor lain yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan perpanjangan SAL, BRI optimistis pertumbuhan kredit perbankan ke depan akan semakin positif. Hingga akhir Desember 2025, kredit BRI tercatat tumbuh 12,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1.521 triliun, dengan porsi pembiayaan didominasi segmen UMKM. Pencapaian tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2025 yang tercatat 9,6% yoy.

Meski begitu, Farida mengingatkan bahwa peningkatan penyaluran kredit tidak hanya ditentukan oleh likuiditas sebagai faktor penawaran, tetapi juga oleh kualitas permintaan dan kesiapan sektor riil.

“Pertumbuhan kredit sangat ditentukan oleh kualitas permintaan dan kesiapan sektor riil. Jadi ada dua pihak,” ucapnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya