Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan penguatan itu tidak terlepas dari dukungan negara (sovereign backing) setelah BSI resmi menjadi bagian dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Menurut Rizal, status sebagai badan usaha milik negara (BUMN) meningkatkan kepercayaan investor, deposan, maupun mitra global karena adanya ekspektasi dukungan negara, terutama dalam kondisi tekanan sistemik.
Dalam praktiknya, hal ini berpotensi menurunkan biaya pendanaan (funding cost), memperluas akses ke pendanaan internasional. Serta, memperkuat posisi BSI dalam pembiayaan proyek strategis dan kerja sama lintas negara khususnya di pasar keuangan syariah global.
Meski demikian, Rizal menegaskan sovereign backing yang lebih kuat tidak otomatis meningkatkan daya saing global BSI. Tantangan utama justru terletak pada skala bisnis, efisiensi, dan kedalaman produk. Dibandingkan bank-bank syariah global berskala besar, BSI masih menghadapi keterbatasan pada kedalaman permodalan (capital depth), inovasi instrumen keuangan syariah, serta kemampuan manajemen risiko untuk pembiayaan lintas yurisdiksi.
“Status BUMN merupakan syarat yang perlu, tetapi belum cukup untuk menjadikan BSI sebagai pemain global yang kompetitif. Oleh karena itu, kapasitasnya perlu diperbesar," ujarnya kepada Media Indonesia, Kamis (25/12).
Tanpa peningkatan produktivitas aset, diversifikasi produk, dan penguatan teknologi, keunggulan BSI dikhawatirkan hanya berhenti pada level reputasi, bukan kinerja.
Rizal juga menyoroti meningkatnya tantangan internal pasca BSI menjadi BUMN. Salah satunya adalah potensi tarik-menarik antara mandat komersial dan penugasan negara yang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menekan profitabilitas dan kualitas aset. Selain itu, standar tata kelola dan akuntabilitas yang lebih ketat berpotensi mempersempit fleksibilitas bisnis akibat proses birokratis.
BSI, menurut dia, perlu membuktikan bahwa bank syariah BUMN bukan sekadar bank pelat merah versi syariah, melainkan institusi yang efisien, inovatif, dan relevan dalam pembiayaan sektor produktif.
"Status persero membuka peluang besar, tetapi juga meningkatkan ekspektasi publik yang jika tidak terpenuhi justru dapat memunculkan risiko reputasi baru," tegas Rizal.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat BUMN sekaligus Managing Director Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto. Ia menilai status BUMN memberikan manfaat signifikan bagi BSI, terutama dari sisi peningkatan reputasi dan kepercayaan publik. Selain itu, akses BSI terhadap proyek strategis nasional (PSN) dinilai akan semakin terbuka melalui skema sinergi antar-BUMN.
"Sekaligus memperkuat peran BSI sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam pengembangan industri keuangan syariah," tuturnya.
Namun, Toto juga mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu dicermati, terutama penguatan tata kelola agar praktik good corporate governance (GCG) dapat ditegakkan dan meminimalkan potensi intervensi negatif. Di samping itu, penguatan sistem inti teknologi informasi menjadi krusial untuk menekan risiko peretasan dan kejahatan siber, mengingat BSI sempat beberapa kali menghadapi persoalan di bidang ini.
Ia menambahkan, BSI yang kuat dan sehat akan berkontribusi besar terhadap penguatan ekonomi berbasis syariah, terutama mengingat potensi permintaan di Indonesia yang sangat besar. Meski demikian, persaingan perbankan syariah harus tetap dijaga secara sehat. Keberadaan bank syariah lain seperti Bank Muamalat, BCA Syariah, dan CIMB Niaga Syariah perlu terus diperkuat agar inovasi dan efisiensi layanan industri perbankan syariah nasional dapat meningkat secara berkelanjutan. (H-3)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) meluncurkan produk BSI Tabungan Umrah sebagai strategi menangkap lonjakan minat beribadah ke Tanah Suci di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat peningkatan permintaan pembiayaan kendaraan menjelang bulan suci Ramadan.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025. Per Desember 2025, perseroan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp318,84 triliun.
Sepanjang 2025, BSI juga secara konsisten terus memberikan kontribusi untuk masyarakat melalui penyaluran zakat melalui program beasiswa pendidikan siswa berprestasi
NAIK kelas menjadi badan usaha milik negara (BUMN), kinerja BSI pada 2025 progresif jauh di atas industri perbankan sekaligus mengubah peta perbankan Indonesia.
Ruang fiskal pemerintah kian terbatas seiring meningkatnya posisi utang hingga Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 40,46 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi investasi jangka panjang pembangunan SDM, tetapi juga menjaga ketahanan fiskal nasional.
Melambatnya pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta mencerminkan adanya tekanan pada sisi pendapatan, khususnya yang dirasakan kelas menengah.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menanggapi optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa rupiah akan menguat dalam dua pekan ke depan.
INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut sejauh ini dampak konflik AS-Venezuela terhadap rupiah masih bersifat sentimen jangka pendek, bukan fundamental.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved