Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SAHAM PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menjadi sorotan pasar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan klasifikasi perseroan. INDF turun dari MSCI Global Standard Indexes ke MSCI Small Cap Indexes dalam hasil February 2026 Index Review.
Penyesuaian tersebut diumumkan pada Selasa (10/2) dan akan diimplementasikan pada penutupan perdagangan 27 Februari 2026, serta efektif berlaku mulai 2 Maret 2026.
Rebalancing ini memicu perhatian pelaku pasar karena berpotensi mendorong arus keluar dana asing pasif yang selama ini mengacu pada indeks MSCI Global Standard. Dana berbasis indeks (passive funds) umumnya wajib melakukan penyesuaian portofolio mengikuti perubahan komposisi indeks, sehingga berpotensi menimbulkan tekanan jual dalam jangka pendek.
Di saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (10/2) malam juga menerima audiensi sejumlah konglomerat di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, termasuk Anthony Salim. Pertemuan dilaporkan berlangsung sekitar 19.00-23.00 WIB dan membahas kondisi ekonomi serta sinergi pemerintah-dunia usaha.
Menanggapi hal tersebut, Analis Stocknow.id Hendra Wardana menilai penurunan klasifikasi INDF oleh MSCI lebih dipengaruhi faktor teknis dibandingkan fundamental kinerja perseroan.
“Penyesuaian atau downgrade MSCI terhadap saham INDF dalam rebalancing terbaru perlu dilihat secara proporsional. Keputusan tersebut pada dasarnya lebih didorong oleh faktor teknis indeks, seperti likuiditas perdagangan, besaran free float efektif, serta penyesuaian bobot sektor consumer secara global, bukan karena penurunan kinerja fundamental perusahaan,” ujar Hendra saat dihubungi, Rabu (11/2).
Menurutnya, perubahan klasifikasi dalam indeks global seperti MSCI memang sering kali menimbulkan volatilitas harga dalam jangka pendek, terutama akibat aksi jual dana pasif global yang harus menyesuaikan eksposur.
“Dampak jangka pendek dari rebalancing ini memang memicu tekanan jual, terutama dari dana pasif global yang wajib menyesuaikan portofolio,” katanya.
Meski demikian, Hendra menilai secara fundamental INDF tetap berada dalam kategori emiten consumer defensive dengan model bisnis terintegrasi, mulai dari produksi bahan baku hingga distribusi produk akhir. Struktur bisnis tersebut dinilai memberikan ketahanan yang relatif kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan perlambatan daya beli.
“Secara fundamental, INDF tetap merupakan emiten consumer defensive dengan model bisnis terintegrasi, arus kas yang kuat, serta daya tahan yang baik di tengah perlambatan ekonomi,” lanjutnya.
Ia menambahkan, tekanan harga akibat faktor teknis justru dapat membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang.
“Tekanan harga akibat rebalancing justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang buy on weakness di area 6.450 hingga 6.500, dengan target pemulihan di kisaran 7.424 seiring meredanya tekanan teknis dan masuknya kembali minat investor institusi aktif,” pungkas Hendra.
Pasar selanjutnya akan mencermati besaran potensi arus dana keluar menjelang tanggal efektif implementasi, serta respons investor aktif terhadap valuasi INDF pasca-rebalancing. (Z-10)
Disclaimer: Pernyataan analis merupakan pandangan profesional dan bukan rekomendasi investasi.
Presiden Prabowo sangat marah atas gejolak IHSG setelah MSCI membekukan kenaikan bobot saham Indonesia. Pemerintah bertekad jaga kredibilitas pasar modal.
Pandu menilai Hong Kong berhasil membangun pasar modal yang dalam, likuid, dan kredibel, bahkan mencatat rekor global jumlah IPO pada tahun lalu.
Indonesia berada pada situasi psikologis publik yang menarik. Survei Ipsos awal tahun menunjukkan optimisme masyarakat Indonesia mencapai sekitar 90 persen
Bursa Efek Indonesia dan KSEI telah mengajukan beberapa inisiatif kepada MSCI yang selaras dengan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan BEI dijadwalkan kembali melakukan pertemuan lanjutan dengan MSCI pada 11 Februari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved