Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Volatilitas Global Meningkat, KSSK Perkuat Asesmen dan Mitigasi Risiko

Insi Nantika Jelita
27/1/2026 20:54
Volatilitas Global Meningkat, KSSK Perkuat Asesmen dan Mitigasi Risiko
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan akan memperkuat asesmen dan langkah mitigasi risiko seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global pada awal 2026.(MI/Insi Nantika Jelita)

KOMITE Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan akan memperkuat asesmen dan langkah mitigasi risiko seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global pada awal 2026. 

Hasil asesmen KSSK menunjukkan stabilitas sistem keuangan nasional hingga triwulan IV 2025 tetap terjaga, ditopang oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang kuat antar otoritas.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (27/1).

Perekonomian dunia dikatakan masih menghadapi tantangan dengan ketidakpastian yang meningkat. Purbaya mengatakan dinamika ekonomi pada triwulan IV 2025 masih dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, serta penurunan suku bunga The Fed yang lebih agresif. 

Perlambatan aktivitas ekonomi AS dan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong Bank Sentral AS The Fed memangkas suku bunga fed funds rate sebesar 50 basis poin pada triwulan IV 2025 ke kisaran 3,50% sampai 3,75%. 

"Pemangkasan lanjutan diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi dan meningkatkan arus modal ke emerging markets," kata Bendahara Negara itu.

Pada tahun ini, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi dunia masih akan dipengaruhi oleh dampak lanjutan kebijakan tarif impor AS dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek ekonomi AS membaik didorong investasi di sektor teknologi, dan stimulus fiskal berupa pengurangan pajak. 

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat lemahnya permintaan domestik dan ekspor. 

Purbaya menyebut ketidakpastian pasar uang global juga meningkat, terutama dipicu oleh ketegangan perang dagang serta meluasnya eskalasi tensi geopolitik. 

Di internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia dikatakan tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan ke depan. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung oleh stimulus dari kebijakan fiskal dan moneter. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya