Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

CSIS: Tekanan Rupiah Dipicu Faktor Fundamental dan Sentimen Global

Naufal Zuhdi
21/1/2026 17:18
CSIS: Tekanan Rupiah Dipicu Faktor Fundamental dan Sentimen Global
ilustrasi(Antara)

NILAI tukar rupiah terus berada di bawah tekanan seiring memburuknya kondisi fundamental ekonomi domestik dan meningkatnya ketidakpastian global. Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menilai pelemahan rupiah merupakan kombinasi antara faktor fundamental dan sentimen pasar.

Menurut Deni, secara teori nilai tukar ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran mata uang. Dalam konteks rupiah, salah satu faktor utama adalah perbedaan tingkat imbal hasil atau return antara aset berdenominasi rupiah dan aset mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS).

“Perbedaan return itu utamanya berasal dari perbedaan suku bunga. Saat ini selisih suku bunga antara BI Rate dan Fed Rate semakin mengecil, sehingga daya tarik memegang aset rupiah juga menurun,” ujar Deni saat dihubungi, Rabu (21/1).

Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan. Deni mencatat, defisit neraca pembayaran Indonesia saat ini membesar dan berpotensi berlanjut ke depan, terutama akibat arus modal keluar (capital outflow).

“Defisit neraca pembayaran kita memburuk dan ekspektasinya ke depan masih negatif. Ini menjadi tekanan fundamental bagi nilai tukar,” katanya.

Di luar faktor fundamental, sentimen dinilai memainkan peran besar dalam pergerakan nilai tukar jangka pendek. Tingginya ketidakpastian global mendorong investor bersikap defensif dan memindahkan dananya ke aset aman (flight to safety), terutama dolar AS. Ketidakpastian tersebut dipicu berbagai isu geopolitik dan ekonomi global, mulai dari ketegangan geopolitik internasional hingga perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kondisi ini memperburuk persepsi terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh kondisi fiskal. Deni menyoroti defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang melebar serta meningkatnya beban pembiayaan utang, termasuk kewajiban jatuh tempo utang pada tahun ini. “Kondisi fiskal yang memburuk menurunkan keyakinan pasar terhadap kemampuan pemerintah mengelola penerimaan dan belanja negara,” katanya.

Lebih jauh, sentimen pasar disebut kian tertekan oleh kekhawatiran terhadap kredibilitas otoritas ekonomi dalam merespons tekanan eksternal dan internal. Salah satu isu yang mencuat adalah persepsi terhadap independensi bank sentral dengan masuknya Thomas Djiwandono di bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia.

“Ada kekhawatiran bahwa independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter bisa terganggu, yang pada akhirnya menyulitkan pengambilan kebijakan yang prudent untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Deni.

Ia menambahkan, latar belakang politik sejumlah figur yang diusulkan dalam struktur Dewan Gubernur Bank Indonesia turut memicu kekhawatiran pasar, meski secara formal yang bersangkutan tidak lagi aktif dalam kepengurusan partai politik. “Sentimen ini memperburuk tekanan yang sudah ada, baik dari sisi fundamental ekonomi maupun kondisi eksternal global,” pungkasnya. (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya