Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pelaku Usaha F&B Dituntut Adaptif pada Perubahan Pola Konsumsi

Naufal Zuhdi
20/1/2026 20:17
Pelaku Usaha F&B Dituntut Adaptif pada Perubahan Pola Konsumsi
Ilustrasi(SBIG)

Ketatnya persaingan di industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) nasional mendorong pelaku usaha untuk terus menyesuaikan strategi bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan gerai F&B tidak lagi hanya ditentukan oleh ekspansi agresif, tetapi juga oleh kemampuan membaca pola konsumsi urban, efisiensi operasional, serta konsistensi kualitas di tengah tekanan biaya dan perubahan selera konsumen.

Di kawasan perkotaan, khususnya Jakarta, segmen kuliner menghadapi tantangan berlapis, mulai meningkatnya jumlah pemain dengan konsep serupa, pergeseran perilaku konsumen yang semakin selektif, hingga kebutuhan menghadirkan pengalaman makan yang relevan tanpa mengorbankan efisiensi. Kondisi ini membuat ekspansi fisik gerai tidak lagi sekadar soal penambahan titik penjualan, melainkan bagian dari strategi adaptasi terhadap dinamika pasar.

Dalam konteks tersebut, Sambal Bakar Indonesia Group (SBIG) membuka gerai ke-30 di kawasan Senen, Jakarta Pusat, sebagai bagian dari penyesuaian strategi bisnis pada 2026. Kehadiran cabang ini menjadi langkah awal perusahaan tahun ini sekaligus menandai masuknya jaringan usaha tersebut ke wilayah Jakarta Pusat yang dikenal memiliki mobilitas dan aktivitas ekonomi tinggi.

Gerai tersebut berlokasi di Jalan Senen Raya, tepat di depan Mall Atrium Senen. Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan karakter kawasan yang didominasi perkantoran, pusat perdagangan, serta arus pekerja harian yang stabil. Itu menjadi faktor yang kerap menjadi perhatian utama pelaku F&B dalam menjaga keberlanjutan trafik pengunjung.

Director of Marketing & Branding Sambal Bakar Indonesia, Renaldo Akhira Ruslan, menyampaikan bahwa pembukaan cabang di Senen merupakan bagian dari upaya menyesuaikan format dan jangkauan usaha dengan kondisi pasar yang semakin kompetitif. Menurutnya, industri F&B menuntut pelaku usaha tidak hanya fokus pada pertumbuhan jumlah gerai, tetapi juga pada relevansi konsep dan konsistensi operasional.

“Kami ingin gerai ini bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan, mulai dari makan bersama keluarga, agenda kantor, hingga acara privat,” kata Renaldo.

Dari sisi pengelolaan, gerai Senen dibangun di atas lahan sekitar 3.000 meter persegi dengan dua lantai dan sejumlah ruang multifungsi. Konsep tersebut disiapkan agar gerai dapat melayani beragam kebutuhan, mulai dari konsumsi harian pekerja hingga kegiatan kelompok, tanpa mengubah karakter dasar layanan yang telah dikenal pelanggan.

Di tengah maraknya pelaku usaha kuliner dengan segmentasi harga dan menu yang beragam, SBIG menilai keberlanjutan bisnis lebih ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas produk, standar operasional, serta pengalaman pelanggan. Pendekatan ini sejalan dengan tren industri F&B nasional yang, menurut sejumlah pengamat, mulai bergerak dari ekspansi cepat ke konsolidasi dan penguatan fondasi usaha.

Pembukaan cabang di Senen menjadi salah satu langkah adaptif perusahaan dalam menghadapi dinamika tersebut. Sepanjang 2026, SBIG masih merencanakan penambahan jaringan usaha di sejumlah wilayah lain, seiring dengan upaya menyesuaikan skala bisnis dengan perkembangan industri F&B dan kebutuhan pasar yang terus berubah. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya