Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

4 Fondasi Bikin BNI Dinilai Siap Hadapi Tantangan Perbankan 2026

Naufal Zuhdi
13/1/2026 19:02
4 Fondasi Bikin BNI Dinilai Siap Hadapi Tantangan Perbankan 2026
Ilustrasi(BNI)

PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya. Kesiapan tersebut tercermin dari kombinasi pertumbuhan kredit yang tetap solid, kondisi likuiditas yang semakin longgar, struktur pendanaan yang relatif kompetitif, serta efisiensi operasional yang terjaga di tengah tekanan industri perbankan.

Analis Bahana Sekuritas, Razqi M Kurniawan, menilai struktur operasional BNI saat ini telah memasuki fase yang lebih matang dibandingkan periode sebelumnya. Perbaikan pada aspek likuiditas dan efisiensi biaya dinilai memberi ruang yang lebih luas bagi BNI untuk mengejar pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. 

“Dengan likuiditas yang longgar dan struktur biaya yang lebih efisien, BBNI berada pada posisi yang lebih siap untuk menangkap peluang pertumbuhan kredit tanpa meningkatkan risiko secara signifikan,” tulis Razqi dalam riset terbarunya, dikutip Selasa (13/1).

Di tengah industri perbankan yang masih dibayangi tekanan suku bunga tinggi serta persaingan pendanaan yang ketat, kinerja operasional BNI sepanjang 2025 dinilai menunjukkan keseimbangan yang relatif lebih baik antara ekspansi dan ketahanan risiko. Dari sisi intermediasi, kredit BNI tumbuh sebesar 10,5% secara tahunan (year-on-year/YoY), sejalan dengan target industri dan mencerminkan kemampuan bank menjaga momentum penyaluran pembiayaan meski standar selektivitas kredit semakin ketat.

Kondisi likuiditas BNI juga mengalami perbaikan signifikan. Hal ini tercermin dari rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) yang turun ke level 86,9%. Posisi ini dinilai jauh lebih longgar dibandingkan sejumlah bank besar lain yang masih mencatatkan LDR di atas 90%, sehingga memberikan ruang ekspansi kredit yang lebih luas tanpa tekanan pendanaan berlebihan.

Dari sisi struktur pendanaan, cost of fund (CoF) BNI tercatat berada di kisaran 2,8%. Meski angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, analis menilai level tersebut masih tergolong kompetitif di tengah tren kenaikan biaya dana industri perbankan. Peningkatan dana murah atau CASA menjadi faktor penting yang membantu BNI menjaga tekanan biaya dana tetap terkendali.

Kombinasi antara likuiditas yang longgar dan biaya dana yang relatif kompetitif dinilai menjadi modal penting bagi BNI untuk menjaga margin sekaligus mendukung ekspansi kredit, terutama ketika siklus penurunan suku bunga mulai terjadi. Kondisi ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi bank dalam mengelola pertumbuhan tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan.

Selain aspek likuiditas dan pendanaan, efisiensi operasional menjadi kekuatan utama BNI lainnya. Rasio beban terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) tercatat stabil di level 46,1%, mencerminkan disiplin pengendalian biaya yang konsisten. Angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah bank besar lain yang masih mencatatkan CIR di kisaran 48% atau lebih, seiring berjalannya proses digitalisasi, optimalisasi jaringan, serta pengendalian beban operasional yang dilakukan secara berkelanjutan.

Sejumlah analis juga menilai kesiapan BNI tidak hanya tercermin dari neraca yang lebih sehat, tetapi juga dari kualitas pertumbuhan bisnisnya. Setelah menjalani proses penurunan risiko atau de-risking selama sekitar lima tahun terakhir, BNI kini dinilai mulai memasuki fase penguatan profitabilitas yang lebih berkelanjutan dan terukur.

Kombinasi pertumbuhan kredit dua digit, likuiditas yang semakin longgar, biaya dana yang masih kompetitif, serta efisiensi operasional yang terjaga membuat BNI dinilai memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan industri perbankan pada 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.

Optimisme tersebut juga tercermin dalam konsensus analis. Berdasarkan konsensus 36 analis yang dihimpun Bloomberg, sebanyak 31 analis memberikan rekomendasi beli untuk saham BNI, dengan target harga rata-rata berada di level Rp5.023 untuk 12 bulan ke depan. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 18% dari harga penutupan Rp4.240 per saham pada 12 Desember 2025, sekaligus menegaskan posisi BNI sebagai salah satu kandidat utama pemimpin pemulihan sektor perbankan nasional pada 2026. (E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik