Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Kinerja aset Indonesia di 2025, jika dilihat dari “kacamata” indeks MSCI dan produk ETF global, menunjukkan dinamika yang tidak selalu sejalan. Dua rujukan yang sering dipakai investor adalah MSCI Indonesia Large Cap Index (kerap dianggap proksi “MSCI Indonesia Big Cap”) dan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang diperdagangkan di bursa AS.
MSCI Indonesia Large Cap berfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar di Indonesia. Dalam metodologi MSCI, indeks ini mencakup sekitar 70% free-float market cap dan pada publikasi profil indeks yang tersedia, tercatat 11 konstituen.
Karena fokusnya large cap, pergerakan indeks ini biasanya lebih sensitif terhadap saham-saham besar yang bobotnya dominan.
Sementara itu, EIDO bukan 'copy-paste' dari MSCI Indonesia Large Cap. EIDO menggunakan benchmark berbeda, yakni MSCI Indonesia IMI 25/50 Index (Net), yang cakupannya lebih lebar (large-mid-small cap) dan memiliki batasan tertentu (25/50) yang umum pada indeks untuk produk investasi yang mengikuti aturan tertentu di pasar AS. Akibatnya, komposisi saham, bobot sektor, dan sumber volatilitasnya dapat berbeda dibanding indeks large cap murni.
Pada Kamis, 18 Desember 2025, EIDO tercatat berada di sekitar US$18,60. Angka ini berguna sebagai patokan cepat untuk melihat posisi ETF Indonesia versi pasar global di penghujung tahun.
Perbedaan kinerja antara “MSCI Big Cap” (Large Cap) dan EIDO pada dasarnya wajar, dan biasanya bersumber dari tiga hal utama:
Large Cap fokus pada saham besar. EIDO memakai IMI 25/50 yang bisa memasukkan mid/small cap, sehingga profil risikonya dan responsnya terhadap sentimen bisa berbeda.
Dalam praktiknya, ETF dapat dilihat dari sisi market price (harga di bursa) atau NAV total return (nilai aset bersih). Keduanya bisa berbeda, terutama saat likuiditas berubah atau ada deviasi kecil antara harga pasar dan nilai aset bersih.
Penyedia ETF menjelaskan bahwa return berbasis NAV bisa terlihat “menyimpang” dari benchmark pada kondisi tertentu karena penyesuaian penilaian (fair value) ketika pasar lokal sudah tutup namun pasar ETF masih aktif. Ini sering terjadi pada aset non-AS karena perbedaan zona waktu dan mekanisme valuasi.
Buat investor yang ingin mengukur performa blue chip Indonesia versi MSCI, tolok ukurnya lebih pas menggunakan MSCI Indonesia Large Cap. Namun bila instrumen yang dipegang adalah EIDO, perbandingan yang lebih adil adalah melawan benchmark resminya (MSCI Indonesia IMI 25/50 Index) dan memperhatikan apakah yang dilihat adalah market price atau NAV total return.
Dengan memahami “beda definisi” ini, investor bisa menghindari kesimpulan keliru, misalnya menganggap EIDO pasti akan menempel ketat pada indeks large cap, padahal keduanya memang dirancang untuk tujuan dan cakupan yang berbeda. (msci/iZ-10)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini pasar modal Indonesia secara jangka menengah-panjang masih sangat prospektif dan menarik bagi investor.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendesak Presiden Prabowo untuk mengambil langkah kepemimpinan langsung dalam mereformasi sektor keuangan dan fiskal nasional.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada pekan ini (periode 2-6 Februari 2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia masih bergerak fluktuatif pada sesi awal perdagangan Kamis, 5 Februari 2026.
IHSG hari ini Kamis 5 Februari 2026 dibuka menguat 20,63 poin (0,28%) ke level 7.316,21. Cek analisis pergerakan saham dan indeks LQ45 di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved