Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Peran PLTS dalam Memperkuat Kinerja ESG Perusahaan dan Menarik Minat Investor

 Gana Buana
18/12/2025 10:00
Peran PLTS dalam Memperkuat Kinerja ESG Perusahaan dan Menarik Minat Investor
SUN Energy telah menyelesaikan proyek instalasi sistem energi surya atap di QBIG Mall di BSD City, dengan total kapasitas 1,9 MWp.(Dok. Sun Energy)

ISU ESG (Environmental, Social, Governance) semakin menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi global. Investor tidak lagi hanya melihat kinerja keuangan, tetapi juga menilai bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, memberikan kontribusi sosial, serta menerapkan tata kelola yang transparan. PwC Global Investor Survey mencatat bahwa 79% investor menjadikan ESG sebagai penentu penting dalam keputusan investasi mereka.

Di Indonesia, kecenderungan serupa mulai menguat seiring meningkatnya praktik green financing dan penerapan regulasi energi bersih. Salah satu langkah ESG yang paling konkret adalah pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dalam konteks ini, SUN Energy berperan sebagai pengembang energi surya yang telah mendampingi berbagai perusahaan industri dan komersial mengintegrasikan PLTS ke dalam strategi keberlanjutan jangka panjang.

Aspek Lingkungan: PLTS sebagai Instrumen Pengurangan Emisi Karbon

Pilar lingkungan menjadi fokus utama dalam penilaian ESG, dan PLTS berada di garda terdepan transisi energi bersih. Berbeda dengan pembangkit berbasis fosil, listrik dari energi surya tidak menghasilkan emisi karbon saat beroperasi. Secara umum, setiap 1 MW kapasitas PLTS mampu menurunkan emisi sekitar 1.000 ton CO₂ per tahun, memberikan dasar kuantitatif yang kuat bagi perusahaan untuk menunjukkan kontribusi mitigasi perubahan iklim.

Dari sisi ekonomi, daya tarik PLTS juga semakin meningkat. Laporan National Renewable Energy Laboratory (NREL) menunjukkan bahwa biaya sistem PLTS atap komersial telah turun hingga 69% sejak 2010, seiring peningkatan efisiensi panel dan teknologi pendukung. Kombinasi antara penurunan biaya dan dampak pengurangan emisi menjadikan PLTS sebagai instrumen ESG yang dinilai investor memiliki risiko relatif rendah dengan dampak yang signifikan.

Aspek Sosial: Menciptakan Dampak Nyata bagi Masyarakat

Pemanfaatan PLTS tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membawa manfaat sosial yang luas. Proyek energi surya membuka lapangan kerja hijau di berbagai tahap, mulai dari konstruksi, instalasi, hingga pemeliharaan. Proyek skala besar bahkan melibatkan ratusan hingga ribuan tenaga kerja, banyak di antaranya berasal dari masyarakat sekitar, sekaligus meningkatkan keterampilan melalui pelatihan teknis energi terbarukan.

Di wilayah terpencil, kehadiran PLTS memberikan akses listrik yang sebelumnya terbatas. Akses ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta mendorong aktivitas ekonomi lokal. Tidak sedikit perusahaan yang mengintegrasikan PLTS dalam program CSR (Corporate Social Responsibility), seperti penyediaan listrik surya untuk sekolah dan fasilitas kesehatan desa, menegaskan bahwa energi surya tidak hanya menekan emisi, tetapi juga memperkuat kesejahteraan sosial.

Aspek Tata Kelola: Transparansi dan Akses Pembiayaan Berkelanjutan

Pilar governance dalam ESG berkaitan erat dengan transparansi dan kepatuhan regulasi. Implementasi PLTS memungkinkan perusahaan menyajikan data yang terukur, mulai dari jumlah energi terbarukan yang dihasilkan, porsi pemenuhan kebutuhan listrik dari sumber bersih, hingga capaian pengurangan emisi karbon. Data ini memperkuat laporan keberlanjutan dan meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata investor.

Selain itu, tata kelola yang baik membuka akses lebih luas terhadap pembiayaan hijau. Banyak lembaga keuangan kini menawarkan skema green financing dengan suku bunga kompetitif bagi proyek ramah lingkungan. Perusahaan yang telah memanfaatkan PLTS cenderung lebih mudah memenuhi kriteria pembiayaan tersebut dibandingkan perusahaan yang masih bergantung pada energi fosil.

Tren Investasi Hijau dan Peluang di Indonesia

Secara global, tren investasi hijau terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. World Economic Forum mencatat investasi energi terbarukan meningkat dari USD 348 miliar pada 2020 menjadi USD 499 miliar pada 2022. Di tingkat nasional, analisis Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menyebut Indonesia membutuhkan total investasi US$285 miliar untuk mencapai target iklim 2030, dengan US$146 miliar di antaranya diharapkan berasal dari sektor swasta.

Pertumbuhan ini juga tercermin di dalam negeri. Pada 2023, investasi energi bersih Indonesia mencapai 498 juta dolar AS, meningkat 78% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu membuktikan aksi keberlanjutan secara nyata, termasuk melalui pemanfaatan PLTS, memiliki peluang lebih besar menarik minat investor.

Sebagai pengembang PLTS berpengalaman di Indonesia, SUN Energy terus mendukung perusahaan dalam meningkatkan kinerja ESG melalui solusi energi surya yang terukur, andal, dan selaras dengan standar keberlanjutan global.

Sumber:

  1. https://www.pwc.com/gx/en/corporate-reporting/assets/pwc-global-investor-survey-2021.pdf
  2. https://www.nrel.gov/news/detail/program/2021/documenting-a-decade-of-cost-declines-for-pv-systems
  3. https://www.weforum.org/stories/2023/10/irena-renewable-energy-jobs/
  4. https://ieefa.org/sites/default/files/2024-07/IEEFA%20Report%20-%20Unlocking%20Indonesia%27s%20renewable%20energy%20investment%20potential%20July2024.pdf
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Climate_finance_in_Indonesia



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya