Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

SPAM Masih Hadapi Tantangan Besar, AMDK Dinilai Bantu Ekonomi

Abdillah M Marzuqi
14/11/2025 23:22
SPAM Masih Hadapi Tantangan Besar, AMDK Dinilai Bantu Ekonomi
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono(Dok. Tangkap layar)

ANGGOTA Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono menilai kondisi sistem penyediaan air minum (SPAM) di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dan belum merata. Akses terhadap air layak minum dinilai belum optimal, terutama di daerah padat penduduk dan wilayah terpencil. Meskipun pemerintah terus berupaya memperluas cakupan air bersih, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam ketersediaan air minum aman bagi masyarakat.

“SPAM kita di Indonesia masih sangat parah cakupannya. Di Jawa Barat saja, yang dekat dengan Jakarta, baru sekitar 20 persen. Di Bandung sekitar 70 persen, tapi hampir 100 persen air minum itu tidak bisa langsung diminum. Kondisinya hampir sama di semua wilayah,” ujar anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bertema Standardisasi Bahan Baku Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bersama Kemenperin, BSKJI, dan sejumlah pelaku industri air minum di Gedung DPR RI (10/11).

Ia mengungkapkan air minum merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia bagi seluruh warga negara. Sayangnya, jaringan pipa air belum mampu menghadirkan air layak minum. Bambang juga menyoroti harga air minum di Indonesia yang dinilai paling mahal di dunia berdasarkan harga AMDK. 

Kendati demikian, Bambang juga menyampaikan apresiasi terhadap AQUA yang dinilai berkontribusi pada perkonomuan nasional. Dari sekitar 67 juta UMKM di Indonesia, 80 persen di antaranya menjual air minum kemasan tersebut. 

“Bayangkan berapa banyak tenaga kerja yang terserap dan ini menimbulkan multiplier effect yang luar biasa. Dengan adanya air minum AQUA, mereka akan beli roti, makan, beli ini. Saya salut dengan AQUA,” ujarnya.

Meski sempat diterpa isu soal sumber airnya yang disebut bukan dari pegunungan, Bambang menegaskan AMDK tetap memberikan dampak ekonomi dan sosial yang besar. Ia juga menaruh kepercayaan terhadap hasil penelitian para pakar hidrogeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang membuktikan bahwa sumber air AQUA berasal dari air pegunungan alami dan telah melalui kajian ilmiah mendalam.

“Saya agak belain sedikit. Jadi ini yang pertama adalah mutu. Yang kedua, tentu masalah ketercukupan, ketersediaan daripada air. Karena begitu ini gagal, masyarakat minum apa? Terus yang ketiga adalah dari sisi harga," tandasnya. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya