Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Perusahaan Didorong Berperan dalam Inklusi Tenaga Kerja Neurodivergen

Basuki Eka Purnama
12/11/2025 11:29
Perusahaan Didorong Berperan dalam Inklusi Tenaga Kerja Neurodivergen
Erik Ridwan Santoso, profesional di bidang strategi bisnis dan merger & acquisition, dalam sesi diskusi yang digelar Rotary Club Jakarta, baru-baru ini.(MI/HO)

PERUSAHAAN dinilai memiliki peran penting dalam membuka peluang kerja bagi individu neurodivergen, terutama melalui penerapan kebijakan rekrutmen yang inklusif dan penyediaan lingkungan kerja yang adaptif. Hal itu disampaikan Erik Ridwan Santoso, profesional di bidang strategi bisnis dan merger & acquisition, dalam sesi diskusi yang digelar Rotary Club Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Erik, neurodivergen merujuk pada individu dengan pola kerja otak dan cara berpikir yang berbeda dari mayoritas neurotipikal. Perbedaan tersebut memengaruhi cara berkomunikasi, sensitivitas sensorik, hingga proses belajar dan bekerja. 

Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini tidak seharusnya dipandang sebagai kekurangan, melainkan sebagai bentuk variasi neurologis yang justru dapat menjadi keunggulan apabila difasilitasi dengan tepat.

“Banyak individu neurodivergen memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa. Tantangannya ada pada bagaimana lingkungan kerja dapat memahami, menghargai, dan memaksimalkan potensi tersebut,” ujar Erik.

Erik menjelaskan bahwa banyak penyandang neurodivergen menghadapi hambatan sejak awal, mulai dari sulitnya mendapatkan diagnosis sejak usia dini, hingga keterbatasan akses pada pendidikan dengan pendekatan khusus. 

Ketika memasuki dunia kerja, tantangan semakin besar karena proses rekrutmen sering kali menitikberatkan kemampuan komunikasi verbal dan interaksi sosial yang tidak selalu sesuai dengan karakter mereka. 

Sensitivitas sensorik bervariasi pada setiap individu, ada yang peka suara, peka cahaya,yang dapat memengaruhi kenyamanan dan produktivitas mereka di lingkungan kantor yang tidak dirancang secara ramah sensorik.

Lebih lanjut, Erik mendorong perusahaan untuk mulai membuka ruang yang lebih inklusif melalui penciptaan format wawancara kerja yang lebih fleksibel, memberikan penilaian berbasis tugas atau hasil, serta membuka peluang magang, pelatihan, atau penempatan kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan individu neurodivergen. 

Ia juga menekankan bahwa pilihan kerja hybrid atau remote dapat menjadi solusi yang mendukung produktivitas. 

“Inklusi bukan sekadar CSR. Ini investasi potensi manusia,” tegasnya.

Dalam paparannya, Erik menyinggung keberadaan PUPA Center, lembaga yang menyediakan pelatihan keterampilan digital, pendampingan psikososial, hingga program penempatan kerja bagi individu neurodivergen. 

Lembaga tersebut disebut mampu membantu peserta membangun kepercayaan diri sekaligus mengembangkan kemampuan adaptasi di lingkungan profesional. Sejumlah peserta Rotary Club yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan ketertarikan untuk menjajaki kolaborasi dengan lembaga itu.

Erik berharap semakin banyak perusahaan yang mengambil peran dalam pemberdayaan tenaga kerja neurodivergen. Selain memberikan dampak sosial, langkah tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 8 dan 10, yaitu pekerjaan layak dan pengurangan ketimpangan. 

“Satu perusahaan, satu kesempatan saja sudah membawa perubahan besar,” kata Erik.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab, di mana peserta didorong untuk mengunjungi pusat pelatihan neurodivergen guna memahami langsung kebutuhan, karakteristik, serta potensi kontribusi mereka di dunia kerja. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya