Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Bayangkan sebuah peta besar yang menggambarkan denyut ekonomi Indonesia, dari warung kecil di pelosok, para pelaku industri kreatif di kota-kota besar, hingga perusahaan digital yang menjangkau pasar internasional. Peta ini bukan sekadar deretan angka, melainkan gambaran nyata tentang kehidupan jutaan pelaku usaha yang membentuk gerak perekonomian bangsa. Gambaran besar itulah yang akan diperbarui melalui Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei–Juli 2026.
Sensus Ekonomi bukan hal baru. Indonesia telah melaksanakannya sejak 1986, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik yang menetapkan tiga sensus besar: penduduk, pertanian, dan ekonomi. SE2026 akan menjadi sensus ekonomi kelima, namun hadir dengan cakupan dan pendekatan yang lebih modern.
Untuk pertama kalinya, SE2026 juga memotret perkembangan ekonomi digital, ekonomi kreatif, dan ekonomi lingkungan—tiga pilar penting transformasi ekonomi Indonesia saat ini. Lingkup usaha yang dicatat semakin beragam, metode pengumpulan datanya semakin mutakhir, dan relevansinya semakin kuat karena menyesuaikan dinamika zaman.
Pendataan lengkap SE2026 akan menghasilkan indikator strategis seperti jumlah usaha, tenaga kerja, pendapatan, nilai aset, tingkat keuntungan (Operating Profit Margin), hingga Return on Asset (RoA). Data ini bukan sekadar statistik, melainkan fondasi bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memahami peluang dan tantangan ekonomi secara lebih tajam.
Bagi pemerintah, data SE2026 menjadi panduan penyusunan kebijakan pembangunan nasional dan daerah. Pemerintah bisa melihat sektor mana yang paling produktif, wilayah mana yang memerlukan dorongan investasi, dan ketimpangan mana yang harus segera dikoreksi. Dengan demikian, arah pembangunan bisa lebih presisi, inklusif, dan berpihak pada pemerataan.
Bagi pelaku usaha, SE2026 adalah sumber wawasan bisnis yang sangat penting. Data sensus membantu pelaku usaha menentukan lokasi ekspansi, membaca peta kompetisi, hingga memahami sektor usaha unggulan di setiap daerah. Misalnya, informasi mengenai sebaran hotel di area wisata dapat menjadi acuan investor yang ingin masuk ke bisnis akomodasi.
Data mengenai kluster ekonomi lokal, seperti industri kreatif, kuliner, atau manufaktur, juga memberikan peluang kolaborasi lintas usaha. Hasil SE2026 bahkan berperan besar dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pusat pertumbuhan baru, serta penguatan rantai pasok antarwilayah.
Manfaat sensus juga terasa langsung bagi masyarakat. Ketika pemerintah memiliki data yang akurat, kebijakan dapat disusun lebih tepat sasaran: peluang kerja meningkat, inflasi lebih terkendali, dan akses terhadap peluang usaha lebih terbuka. Sensus Ekonomi bukan hanya menghitung jumlah usaha, tetapi mencoba memahami denyut perekonomian agar pertumbuhan benar-benar memberi manfaat bagi seluruh rakyat.
Dengan data yang komprehensif, pemerintah dapat melihat siapa yang berkembang, siapa yang tertinggal, dan program pemberdayaan apa yang diperlukan untuk mempersempit ketimpangan.
SE2026 bukan sekadar kegiatan pendataan rutin, melainkan investasi besar dalam pengetahuan ekonomi nasional. Melalui sensus ini, Indonesia membangun gambaran menyeluruh tentang kehidupan dunia usaha, dari Sabang sampai Merauke, dari kota besar hingga desa terpencil.
Setiap informasi yang dikumpulkan menjadi dasar untuk memahami arah pertumbuhan, mengidentifikasi peluang baru, dan merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan data yang lengkap dan terpercaya, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat melangkah bersama menuju masa depan yang lebih kuat dan merata.
Melalui Sensus Ekonomi 2026, Indonesia tidak sekadar mengumpulkan angka—tetapi menyiapkan pijakan untuk kemajuan bersama.
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 yang baru dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak sekadar menjadi pembaruan sistem klasifikasi usaha.
Perubahan perilaku konsumen Indonesia melaju cepat. SE2026 memberikan gambaran menyeluruh tentang pertumbuhan belanja digital, tantangan pasar tradisional, dan arah baru ekonomi daerah
Di era percepatan digital yang begitu masif, konsep big data semakin akrab dalam keseharian. Hampir seluruh aktivitas ekonomi kini meninggalkan rekam digital.
Hasil SE2026 akan menjadi basis data tunggal yang sangat berharga bagi pemerintah pusat dan daerah. Bagi pemerintah, data ini memungkinkan perumusan kebijakan yang lebih akurat
Pemerintah tengah bersiap melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), gelombang pendataan nasional yang menjadi fondasi penting dalam membaca denyut ekonomi Indonesia
Data yang lengkap dan presisi merupakan fondasi utama dalam proses pengambilan keputusan.
Mayoritas pelaku usaha kreatif merupakan usaha mikro dan kecil yang berkembang terutama di wilayah perkotaan.
Dalam SE2026, dua moda utama yang digunakan adalah Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) dan Computer Assisted Web Interviewing (CAWI).
Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang akan dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei hingga Juli 2026 memiliki arti strategis yang jauh melampaui sekadar kegiatan pendataan rutin.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari dinamika dunia usaha yang menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Dalam konteks ekonomi, sensus dilakukan untuk mencatat seluruh kegiatan ekonomi pelaku usaha, baik skala mikro, kecil, menengah, maupun besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved