Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Perilaku Belanja Orang Indonesia Berubah: Apa yang Diungkap Sensus Ekonomi 2026?

Media Indonesia
13/12/2025 07:00
Perilaku Belanja Orang Indonesia Berubah: Apa yang Diungkap Sensus Ekonomi 2026?
Ilustrasi: Warga menggunakan ponsel untuk berbelanja secara daring di salah satu situs belanja.(ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

PERILAKU belanja masyarakat Indonesia dalam satu dekade terakhir berubah dengan sangat cepat, jauh berbeda dibandingkan pola konsumsi di masa lalu. Kini, masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan digital, melakukan pembayaran nontunai, hingga membeli kebutuhan harian melalui aplikasi.

Perubahan ini bukan sekadar pergeseran gaya hidup, tetapi transformasi struktural yang memengaruhi seluruh sektor usaha, mulai dari warung kecil hingga perusahaan besar. Di tengah dinamika yang terus bergerak ini, Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) hadir sebagai instrumen penting untuk membaca ulang pola konsumsi masyarakat dan arah pergerakan perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan ritel modern dan layanan e-grocery menjadi contoh nyata dari perubahan tersebut. Minimarket semakin mudah ditemukan di berbagai sudut kota maupun desa, menawarkan layanan yang seragam dan nyaman. Pada saat yang sama, layanan belanja kebutuhan pokok melalui aplikasi kian diminati, terutama oleh generasi muda dan keluarga urban yang mengutamakan efisiensi. Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele karena mengubah lanskap persaingan ritel dan berdampak langsung pada rantai pasok kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, modernisasi tidak serta-merta menghapus keberadaan pasar tradisional. Banyak pasar yang tetap bertahan bahkan menjadi pilihan utama ketika harga kebutuhan meningkat atau ketika masyarakat membutuhkan bahan makanan segar. Interaksi sosial antara pedagang dan pembeli, fleksibilitas tawar-menawar, serta harga yang kerap lebih bersaing menjadikan pasar tradisional tetap relevan. Yang berubah adalah tantangan yang mereka hadapi: persaingan dengan platform digital, tuntutan kebersihan yang lebih tinggi, serta selera konsumen yang terus berkembang.

Pertanyaannya kini, apakah pasar tradisional masih cukup kuat bertahan? Atau justru mengalami penurunan perlahan? Untuk menjawabnya, diperlukan data yang benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Di sinilah pentingnya SE2026. Sensus ini tidak hanya menghitung jumlah usaha atau sektor ekonomi, tetapi juga memetakan bagaimana perilaku konsumen membentuk struktur ekonomi di setiap daerah. SE2026 akan membantu menjawab berbagai pertanyaan krusial yang selama ini hanya dijawab dengan asumsi: Apakah toko kecil di kota mulai kehilangan pelanggan? Seberapa pesat pertumbuhan usaha daring? Apakah e-grocery hanya marak di kota besar atau telah menjangkau wilayah lain? Bagaimana posisi pasar tradisional di tengah ekspansi ritel modern?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berperan besar dalam menyusun arah kebijakan pemerintah. Daerah dengan pasar tradisional yang masih kuat perlu mendapat dukungan revitalisasi, bukan digeser oleh dominasi waralaba. Sebaliknya, daerah yang mengalami peningkatan belanja daring memerlukan penguatan infrastruktur logistik. Tanpa data akurat, kebijakan berisiko bias, reaktif, dan tidak menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Pergeseran perilaku konsumen adalah kenyataan yang tak bisa dihindari. Namun memahaminya tidak cukup hanya mengandalkan tren sesaat atau pengamatan di media sosial.

Kita memerlukan potret yang utuh, komprehensif, dan dapat dipercaya, dan Sensus Ekonomi 2026 memberi kesempatan untuk melihat perubahan itu secara menyeluruh. Dengan data yang kuat, Indonesia dapat merancang strategi ekonomi yang bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi memanfaatkannya secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

(RO/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya