Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Pertanian masih menjadi penopang utama pangan nasional, namun jutaan petani gurem di Indonesia masih hidup dalam keterbatasan. Petani gurem adalah petani yang menggarap lahan kurang dari 0,5 hektare. Kelompok ini menghadapi kesulitan modal, akses teknologi, hingga keterbatasan pasar, sehingga banyak di antaranya terjebak dalam kemiskinan, bahkan miskin ekstrem.
Anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah, menegaskan bahwa saatnya pemerintah menghadirkan kebijakan khusus dan dukungan politik yang berpihak kepada petani gurem agar mereka bisa keluar dari kerentanan ekonomi.
“Petani gurem selalu tersisihkan dari kebijakan dan program pemerintah. Saatnya ada regulasi khusus serta dukungan politik yang nyata untuk mereka,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Rina mengutip data Sensus Pertanian BPS yang mencatat jumlah petani gurem mencapai 17,2 juta keluarga. Ia menekankan pentingnya langkah strategis berupa redistribusi lahan dan reformasi agraria sebagai pintu masuk untuk memperkuat posisi mereka.
Tak hanya soal lahan, Rina juga mendorong adanya fasilitas kredit mikro berbunga rendah, asuransi pertanian untuk melindungi dari risiko gagal panen, bantuan sosial produktif berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga penyediaan bibit dan modal kerja.
“Intinya, petani gurem harus bisa bertransformasi menjadi petani kecil komersial dengan posisi tawar kuat, sehingga terlindungi dari kerentanan ekonomi,” jelasnya.
Selain itu, ia menilai pembangunan infrastruktur pertanian dan ketahanan pangan harus dipacu dengan alokasi minimal 5 persen APBN untuk sektor pertanian. Target peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) juga perlu masuk dalam kerangka APBN agar kesejahteraan petani benar-benar terjamin.
“Petani gurem membutuhkan dukungan nyata reforma agraira dan kebijakan lainnya dalam menghadapi risiko budidaya di hulu, agar mereka bisa bangkit dan berkontribusi lebih besar pada kemandirian pangan nasional,” pungkasnya. (Ant/E-3)
Hingga kini banyak petani Indonesia masih berstatus gurem dengan kepemilikan lahan rata-rata kurang dari 0,5 hektare.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Kunjungan pertama dalam 8 tahun ini menjadi titik balik hubungan kedua negara.
Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Di bawah kepemimpinan Addin, GP Ansor bahu membahu menggerakkan aktivitas pangan melalui Banser Patriot Ketahanan Pangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved