Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CoRE), Mohammad Faisal turut mengomentari permasalahan yang muncul akibat pinjaman online (pinjol), termasuk kasus bunuh diri satu keluarga yang belum lama ini terjadi.
"Permasalahan yang banyak terkait dengan pinjol harus segera ditindaklanjuti oleh yang berwenang dalam hal preventif maupun juga dalam hal kuratif. Karena ini kaitannya dengan pinjaman dan online, antara paling tidak OJK yang di sektor keuangan dan Kementerian Kominfo harus bekerja sama secara kuat untuk mencegah terjadinya pinjol yang sifatnya itu predatory," kata Faisal saat dihubungi, Rabu (18/12).
Oleh karena itu, Faisal menilai agar provider daripada pinjol harus diawasi lebih ketat, jangan sampai kemudian masyarakat masuk ke dalam satu jebakan pinjaman yang nanti mereka tidak bisa bayar kembali.
"Perlu juga edukasi sebagai langkah preventifnya, karena tanpa adanya edukasi susah untuk kemudian meredam atau melakukan pencegahan. Karena pinjol ini masuknya kan dari gadget, dari hp, yang mana masyarakat pada umumnya gampang sekali untuk menerima berbagai macam informasi melalui Hp, lewat media sosial dan lain-lain. Di sini masuk adanya rayuan atau ketertarikan terhadap twaran-tawaran pinjam yang terlihat mudah dan murah tapi kalau tidak hati-hati ini bisa menjebak," tutur Faisal.
Faisal menegaskan, langkah preventif edukasi dan enforcement terhadap pelaku jasa pinjol yang menjebak harus segera ditindaklanjuti secara lebih serius oleh pemangku kepentingan terkait. "Kalau ini memang dibiarkan, memang bisa mengakibatkan berbagai macam permasalahan, apalagi dalam kondisi sekarang kita lihat dari sisi daya beli kalangan menengah dan juga tentunya yang miskin sedang menjadi sorotan. Kalau kita melihat dampaknya bisa ke sosial itu seperti kasus bunuh diri dan sampai kriminalitas kalau kemudian juga menimbulkan praktik-praktik kejahatan," terangnya.
Dihubungi secara terpisah, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengungkapkan bahwa permasalahan pinjol yang memakan korban harus diselesaikan secara penuh, terkhusus motif masyarakat yang meminjam di pinjol legal maupun ilegal.
"Sebagian dari mereka pasti untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka tertekan dengan biaya hidup semakin tinggi, pendapatan mereka tidak naik bahkan ada yang turun. Ada tekanan bagi mereka untuk mencari pembiayaan. Mereka tidak bisa mencari pembiayaan ke perbankan, mereka mencari pembiayaan alternatif. Jika mereka pendapatannya baik-baik saja, saya yakin mereka tidak akan meminjam ke lembaga pembiayaan," tegas Huda.
Huda pun menyoroti soal credit scoring yang dinilai masih longgar dan kurang menggambarkan kondisi kemampuan bayar seseorang.
"Ini selalu saya sampaikan bahwa credit scoring bisa menjadi kunci untuk meminimalisir dampak negatif dari pinjaman daring ini. Mereka dinilai apa adanya, jika tidak memungkinkan mendapatkan pembiayaan ya memang tidak layak. Seharusnya mereka bukan berutang namun mendapatkan bantuan. Pemerintah harusnya peka akan hal seperti ini," tandasnya. (Fal/M-3)
Kasus pembunuhan dan bunuh diri yang terjadi terhadap satu keluarga di Ciputat Timur, merupakan fenomena gunung es persoalan pinjol.
Polisi ungkap fakta tragis keluarga tewas di Ciputat yang terlilit utang pinjaman online dan akses situs judi.
Jika ditotal sejak dari 2020 hingga 2024, jumlah orang yang bunuh diri karena terlilit utang pinjol sebanyak 61 dengan tujuh di antara mereka ialah balita.
Pemerintah akan berfokus pada peningkatan kesejahteraan pekerja dan masyarakat agar mereka dapat menghindari aktivitas judi online (judol) yang berujung pada pinjaman online (pinjol).
MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) atau Kepala BKKBN Wihaji merespons kasus satu keluarga bunuh diri diduga akibat terlilit pinjaman online (pinjol).
Unit Layanan Modal Mikro (Ulamm) milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM) merupakan layanan pembiayaan yang dirancang khusus untuk membantu pelaku usaha mikro dan kecil.
LPDB Koperasi kembali menegaskan dedikasinya dalam mendukung pemenuhan hak-hak fundamental masyarakat melalui penyaluran pinjaman maupun pembiayaan dana bergulir bagi koperasi
SURVEI Segara Research Institute menunjukkan mayoritas peminjam di Indonesia lebih mengutamakan kecepatan pencairan dana dibandingkan besaran suku bunga dalam memilih sumber pembiayaan.
Akses pembiayaan bagi jutaan masyarakat unbanked dan underbanked yang selama ini belum terlayani optimal oleh sektor perbankan formal makin diperhatikan.
MECA 2025 diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap brand yang mampu menampilkan terobosan pemasaran serta relevan dengan kebutuhan zaman.
Indonesia terus memajukan infrastruktur berkelanjutan melalui model pembiayaan dengan menggabungkan partisipasi pemerintah pusat, daerah, dan swasta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved