Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintah tengah mempersiapkan Indonesia menjadi anggota tetap Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Hal itu dinilai akan membawa perekonomian nasional menjadi lebih baik lantaran dapat sejajar dengan negara-negara maju. Sejauh ini Indonesia berada dalam tahapan aksesi dan ditargetkan dapat rampung dalam tiga tahun ke depan. Namun ternyata, Indonesia juga berpeluang mengalami kerugian jika tergesa-gesa bergabung dengan OECD.
"Ada beberapa konsekuensi dari bergabung dengan OECD yang justru malah bisa menghambat perkembangan dari industri manufaktur," ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CoRE) Mohammad Faisal, Senin (12/8).
Industri pengolahan Indonesia, kata dia, berpotensi mengalami kemunduran kinerja lantaran kehilangan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) atau pembebasan bea masuk yang diberikan oleh Amerika Serikat. Fasilitas itu hanya diberikan Negeri Paman Sam kepada industri dari negara berkembang.
Baca juga : Proyeksi IMF soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sesuai Asesmen BI
Kanggotaan di dalam OECD akan membuat Indonesia dipandang sebagai negara maju. Dus, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri berpotensi tak lagi mendapat fasilitas GSP dari AS yang notabene mitra dagang utama Indonesia.
"Dengan demikian, bisa jadi, sangat mungkin pasar industri manufaktur di luar negeri, negara tujuan, AS, misalnya, akan tergerus. Khususnya industri manufaktur yang ekspor ke AS itu seperti industri TPT, alas kaki," terang Faisal.
Selain itu, orientasi dari OECD adalah condong pada kepentingan-kepentingan negara maju. Sementara Indonesia dari tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) relatif masih jauh dari kategori negara maju.
Baca juga : IMF Proyeksi Ekonomi Indonesia Stagnan di 2024 dan 2025
Alhasil, kepentingan Indonesia berpotensi tak akan menjadi prioritas meski nantinya telah menjadi anggota tetap dari OECD. Mayoritas negara maju, imbuh Faisal, kerap menerapkan kebijakan non tariff bariers pada sistem perdagangannya.
Itu terutama pada produk-produk berteknologi tinggi dan memenuhi syarat serta ketentuan terhadap dampak lingkungan. "Dan dalam banyak hal, negara berkembang (seperti Indonesia) banyak yang belum siap," jelas Faisal.
Hal lain yang juga berpotensi berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia ialah terkait transisi energi. Indonesia yang saat ini masih banyak ditopang oleh industri manufaktur bakal kewalahan jika harus menerapkan standar transisi energi dari OECD.
Pasalnya, hingga saat ini sumber pergerakan industri manufaktur di Tanah Air masih menggunakan energi yang dianggap kotor oleh OECD. "Kalau harus mengikuti interest negara maju dengan energi bersih, ini berarti butuh effort, biaya, sementara sumber daya kita yang kompetitif ada di sana," kata Faisal.
"Jadi, artinya kalau tidak hati-hati, justru menghambat perkembangan industri manufaktur dan artinya juga menghambat pertumbuhan ekonomi," pungkasnya. (Z-11)
Surplus perdagangan yang dialami Indonesia selama 67 bulan berturut-turut, tidak serta-merta membuat perekonomian nasional kebal terhadap risiko geopolitik global.
Pemerintah mengklaim sukses menutup 2025 dengan capaian kinerja perekonomian yang tetap terjaga di tengah tantangan dinamika global.
Teknologi digital kian memainkan peran strategis dalam memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ritel mikro di Indonesia.
WAKIL Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza menegaskan pentingnya penguatan ekosistem usaha, konektivitas rantai pasok, serta digitalisasi layanan UMKM.
REI memanfaatkan momentum kebijakan pemerintah dan geliat pasar yang menguat sebagai titik konsolidasi untuk merapatkan barisan menuju kebangkitan kembali sektor properti.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan perekonomian Indonesia terus mempertahankan momentum positif.
Pemerintah dan pelaku usaha mendorong pembentukan Tim Percepatan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Industri untuk merealisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
PERWAKILAN Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) sekaligus Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing menegaskan target pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,4% tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi masyarakat.
KAMAR Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap kelompok kelas menengah bawah menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar khususnya bagi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Kerusakan padang lamun di pesisir Jawa dan sebagian Sumatra berpotensi menjadi salah satu sumber emisi karbon tersembunyi terbesar di Indonesia.
Taxco Solution, perusahaan konsultan profesional di bidang pajak, akuntansi, kepabeanan, dan hukum, resmi memperluas jangkauan layanannya dengan membuka Kantor Cabang Palembang.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pertumbuhan ekonomi harus dibarengi pemerataan saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Simak poin penting pidatonya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved