Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KENAIKAN impor Indonesia di Mei bisa dimaklumi. Pasalnya, di pertengahan tahun biasanya terjadi kenaikan impor, khususnya terkait bahan pangan.
"Kita harus melihat juga secara keseluruhan, karena memang biasanya di Mei dan Juni itu impor naik. Jadi apakah ini hanya sementara atau musiman, karena dilihat dari rilis BPS memang impor pangan naik ya meski tidak signifikan," ujar Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, kepada Media Indonesia, Rabu (19/6).
Yose menegaskan bahwa impor tidak perlu ditekan meski nilai rupiah terus melemah. Selama masih surplus dengan ekspor yang meningkat, ekonomi Indonesia masih tumbuh positif.
Baca juga : Harga Pangan dan Energi Melonjak, BPS: Dampak ke Inflasi Masih Minim
"Yang harus diperhatikan itu apakah impor yang dilakukan bisa berdampak pada peningkatan ekspor enggak? Misalnya ekspor bahan baku untuk produksi yang kemudian diekspor lagi. Jadi selama kita jual lebih besar daripada beli itu enggak masalah ya," imbuhnya.
Impor juga disebutnya berbarengan dengan masuknya investasi asing. Jadi makin banyak investor yang masuk juga akan memengaruhi impor Indonesia, misalnya impor alat produksi atau manufaktur yang naik.
Untuk itu, dia berharap pemerintah terus mendorong peningkatan ekspor sehingga bisa memperkuat devisa negara di tengah melemahnya rupiah. Selain itu perlu langkah-langkah strategis untuk terus meningkatkan produksi dalam negeri.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada Mei mencapai US$19,40 miliar. Nilai ini naik 14,82% dibandingkan April 2024 dengan sektor nonmigas menjadi penyumbang terbesar senilai US$16,65 miliar atau naik 19,70% dibandingkan April 2024.
Ekspor Indonesia juga meningkat sebesar 13,82% secara bulanan (month to month/mtm) menjadi US$22,33 miliar dibanding April 2024 sebesar US$19,62 miliar. (Z-2)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Mendagri Tito Karnavian memaparkan skema bansos korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, termasuk bantuan Rp8 juta untuk rumah rusak berat serta Dana Tunggu Hunian Rp1,8 juta.
BPS Targetkan Verifikasi 106 Ribu Peserta PBI-JKN Penyintas Penyakit Kronis Tuntas Sebelum Lebaran 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) terus memperkuat dan memutakhirkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus memantau dinamika pasar keuangan secara cermat dan merespons secara tepat guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah konflik Timur Tengah.
Mata uang rupiah ditutup melemah ke 16.787 per dolar AS (27/2). Ketegangan Iran-AS dan tarif panel surya 104% jadi pemicu utama. Simak ulasan lengkapnya.
Kurs Rupiah hari ini menguat ke Rp16.759 per dolar AS. Simak analisis pemicu penguatan dari sisi minat obligasi pemerintah dan dampak kebijakan tarif AS.
Nilai tukar rupiah melemah ke 16.829 per dolar AS pada 24 Februari 2026. Simak analisis penyebab tekanan eksternal dan proyeksi suku bunga The Fed di sini.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah pada Selasa pagi (24/2/2026) melemah 10 poin ke level Rp16.835 per dolar AS. Simak analisis penyebab pelemahan rupiah hari ini.
Kurs rupiah menguat ke level 16.885 (JISDOR) setelah kesepakatan dagang New Golden Age RI-AS diteken Prabowo dan Trump. Simak analisis lengkapnya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved