Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
MEREKA yang kini berusia 35 tahun dan ingin pensiun di usia 55 tahun mungkin bertanya-tanya, perlu menyiapkan dana berapa agar bisa mandiri dari sisi keuangan saat pensiun hingga usia 75 tahun sehingga tidak menyusahkan anak-anak atau keluarga pada nantinya?
Perencana keuangan bersertifikat OneShildt Agustina Fitria mengungkapkan apabila biaya hidup seseorang saat usia 35 tahun sekitar Rp5 juta, lalu karena inflasi maka biaya hidupnya saat pensiun nanti bisa menjadi Rp10,9 juta.
Lalu berapa dana yang dibutuhkan hingga usia 75 tahun?
Baca juga : Makin Bijak Atur Keuangan Bagi 'First-Time Mom' ala Devina Hermawan
"Gaya hidupnya masih sama, misalnya sekarang senang makan di warung A, seterusnya di situ. Untuk hidup dari usia 55 tahun hingga 75 tahun dibutuhkan biaya Rp2,2 miliar," ujar Agustina.
Menurut Fitria, untuk mencapai dana Rp2,2 miliar, seseorang bisa memilih antara menabung atau berinvestasi.
Apabila menabung jadi pilihan, uang yang harus disetorkan setidaknya setara inflasi yakni Rp6 juta per bulan.
Baca juga : Ini Tips Mengatur Keuangan bagi Orangtua Baru
"Berarti dia harus punya income Rp5 juta tambah Rp6 juta yakni Rp11 juta. Kalau dia baru prepare di usia 35 tahun," kata Fitria.
Tetapi, bila pilihannya investasi, misalnya dengan return (imbal hasil) sebanyak 6%, maka perkiraan uang yang perlu disiapkan yakni sekitar Rp4,8 juta per bulan.
"Jadi, sebenarnya akan lebih bagi investasi karena jangka waktunya panjang, 20 tahun. Kalau menabung saja akan berat. Dengan kita tahu bahwa kita harus investasi segini berarti penghasilan kita harus punya penghasilan harus Rp9,8 juta per bulan," ungkap Fitria.
Baca juga : Ajinomoto Health Provider Ajak Para Ibu PKK Sadar Gizi Keluarga di 16 Kota Indonesia
Selain melakukan perhitungan manual, saat ini ada aplikasi yang bisa digunakan, misalnya yang memiliki fitur kalkulator dana hari tua.
Seseorang perlu mengisi besaran biaya hidup saat ini, usia saat ini misalnya 35 tahun, usia pensiun 55 tahun, asumsi investasi 6%, dan inflasi 4%, maka hasilnya dana pensiun yang dibutuhkan Rp2,2 miliar.
Lalu, bagaimana bila usia harapan hidup ternyata melebihi 75 tahun atau di luar perkiraan?
Baca juga : Anak di Keluarga KDRT Rentan Menormalisasi Kekerasan
Menurut Fitria, di situlah gunanya aset aktif seperti rumah yang dikontrakkan karena aset tetap ada sehingga bisa terus memberikan pendapatan.
Di sisi lain, cobalah memanfaatkan jaminan hari tua (JHT) yang difasilitasi kantor tempat bekerja.
Seseorang yang sudah bekerja sejak usia 25 tahun contohnya, diperkirakan saldo JHT sudah mencapai Rp40 juta di usia 35 tahun.
Baca juga : Mulai Petualangan Keluarga Tak Terlupakan Bersama Novotel dan Mothercare di Indonesia
Apabila dia memilih investasi dengan imbal hasil 6% maka setoran berkala bisa menjadi Rp4,5 juta atau lebih rendah dari sebelumnya, saat dia tidak memasukkan JHT, yakni Rp4,8 juta.
"Kalau punya aset lain misalnya tanah warisan, bisa jadi sumber hidup pensiun nanti. Bisa dijual, disewakan, atau kalau misal itu sawah bisa menghasilkan panen setiap tiga bulan misalnya," kata Fitria.
Dalam hidup selalu ada risiko seperti inflasi yang pada saat tinggi akan menyebabkan risiko pada finansial sehingga biaya akan naik.
Baca juga : Asuransi Jadi Solusi Upaya Lindungi Stabilitas Keuangan
Selain itu, ada juga risiko kesehatan, sakit berat atau ringan yang mengharuskan berobat terus-menerus. Kondisi itu, kata Fitria, akan juga menguras arus kas atau laporan keuangan seseorang sehingga dia membutuhkan persiapan dana.
"Kemudian, punya aset hilang atau rusak misalnya rumah, tapi, rusak. Kalau biaya besar sebaiknya kita alihkan ke asuransi, tapi, kalau bisa ditanggung sendiri, kita siapkan pakai dana darurat," ujar Fitria.
Dia lalu menyimpulkan, demi mencapai tujuan keuangan, seseorang harus terus meningkatkan pendapatannya dan sebisa mungkin lebih tinggi dari inflasi. Selanjutnya, lakukan investasi, juga proteksi karena investasi tidak akan berjalan tanpa adanya pendapatan.
Baca juga : Indonesia Perlu Undang-Undang Soal Pengasuhan Anak
"Jangan lupa disiplin. Supaya disiplin kita harus punya alasan kuat mengapa harus melakukan perencanaan keuangan. Misalnya ingin saat pensiun tidak mau merepotkan anak," pungkas Fitria. (Ant/Z-1)
Motivasi tersebut muncul karena Gen Z belajar dari pengalaman beban finansial atau kesalahan pengelolaan keuangan yang dilakukan generasi orangtua mereka di masa lalu.
Harga emas global dan Antam turun pada 17 Februari 2026. Prediksi untuk Rabu, 18 Februari, diperkirakan stabil atau berpotensi rebound tipis dengan harga Antam Rp2,96–3,05 juta per gram.
Kemudahan transaksi digital, mulai dari one-click checkout hingga godaan promo di notifikasi ponsel, menjadi pemicu utama tingginya perilaku konsumtif.
Sentimen global masih cukup kondusif bagi penguatan harga emas dalam jangka pendek.
SCAM Kamboja bukan sekadar cerita kriminal lintas negara atau kisah tragis warga negara yang terjerat pekerjaan palsu di luar negeri.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved