Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harris Yahya menuturkan sampai saat ini pendanaan transisi energi dari negara maju masih tersendat. Dana yang dijanjikan sebesar US$100 miliar atau sekitar Rp1.552 triliun (kurs Rp15.528) untuk negara berkembang tiap tahunnya tak kunjung terealisasi.
Menurutnya, pembiayaan tersebut amat penting untuk menjalankan program-program percepatan transisi energi di Tanah Air.
"Sampai 2023, pelaksanaan komitmen US$100 miliar masih tersendat-sendat. Bagaimana aksi mitigas iklim ini bisa dijalankan secara baik kalau tidak ada dukungan finansial yang cukup," kata Harris dalam media gathering di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/12).
Baca juga : Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar: Amerika Serikat
Sejumlah proyek transisi energi dikhawatirkan akan terhambat jika janji pendanaan dari negara maju berjalan di tempat. Harris menyebut ada proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Tanah Air yang mengalami keterlambatan pengoperasian komersial atau Commercial Operation Date (COD) dari target yang ditentukan.
"Kalau kita lihat secara jelas, di proyek panas bumi misalnya, ada yang sudah ditargetkan COD di 2024 atau 2025. Tapi, karena pengembangnya sulit mendapat dukungan pendanaan, kegiatan itu mundur terus dan proyek lain akan jalan di tempat," tuturnya.
Hingga pergelaran konferensi perubahan iklim atau Conference of the Parties 28 (COP28) di Dubai pada awal Desember ini, Harris mengungkapkan pemerintah Indonesia terus menagih janji komitmen pendanaan US$100 miliar ke negara maju.
Baca juga : Potensi 60 GW Listrik Tersimpan di 17 Titik Laut Indonesia
Ia berpandangan negara-negara maju tidak bisa melempar tanggung jawab dan membebankan masalah penurunan emisi kepada negara berkembang.
Pasalnya, negara maju menjadi juara dalam menyumbang 67% emisi gas rumah kaca secara global di 2023. Negara itu antara lain Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang dan lainnya.
"Kita lihat program-programnya ada yang dibebankan ke negara berkembang. Ini tentu tidak adil buat negara berkembang," pungkasnya.
Baca juga : Tiongkok, Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar
Dilansir laman resmi Kementerian ESDM disebutkan, pemerintah bertekad menghasilkan listrik sebesar 708 gigawatt (GW) di 2060, 96% di antaranya berasal dari pembangkit listrik energi terbarukan, dan 4% sisanya dari tenaga nuklir. Adapun investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pembangkit listrik dan transmisinya diperkirakan sekitar US$1.108 miliar, dengan investasi tambahan sebesar US%28,5 miliar sampai 2060. (Z-4)
Baca juga : Laporan PBB Bongkar Siasat Negara Produsen Bahan Bakar Fosil di KTT Iklim
Energi panas bumi yang dikelola PGE dipandang mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung peningkatan bauran EBT nasional.
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu telah memainkan peran penting dalam pasokan listrik Indonesia selama beberapa dekade terakhir.
PANAS bumi bisa menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
INDUSTRI panas bumi memiliki prospek baik dalam mendukung pencapaian target pemerintah dalam memperluas kapasitas pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT).
Hadir solusi gabungan yang dirancang untuk mengoptimalkan produksi energi panas bumi dan memajukan pengoperasian berkelanjutan.
Fluida ini bisa memicu gempa sekaligus menjadi sumber energi panas bumi yang lebih besar dari sistem konvensional. Sehingga pemetaan lokasinya menjadi sangat penting.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Inisiatif PLTS Atap ini menjadi langkah penting dalam upaya menurunkan emisi operasional sekaligus memperkuat transisi energi bersih di sektor kesehatan nasional.
Tantangan sektor energi ke depan membutuhkan talenta muda yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap secara mental, keterampilan, dan pemahaman industri sejak di bangku kuliah.
Wacana penghentian insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berpotensi menghambat laju transisi energi nasional.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk merefleksikan dinamika isu energi nasional dan global sepanjang tahun 2025, sekaligus membahas arah kebijakan energi nasional pada tahun 2026.
Pertamina NRE kembali menunjukkan langkah strategisnya dalam transisi energi nasional dengan menandatangani nota kesepahaman bersama perusahaan Tiongkok.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved