Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan masalah minimnya regenerasi dan lahan pertanian yang semakin sempit menjadi penyebab utama menurunnya usaha pertanian di Indonesia selama 10 tahun terakhir.
Berdasarkan diseminasi hasil sensus pertanian 2023 tahap 1 oleh BPS, usaha pertanian di Indonesia menyusut 2,35 juta sejak 2013 menjadi 29,3 juta unit di tahun ini.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan sekitar 58% tenaga kerja pertanian berumur 45 tahun ke atas pada Februari 2023.
Baca juga : Nilai Tukar Petani Naik Tipis, Didorong Kenaikan Harga Komoditas
Dengan rincian 13,83 juta orang berumur 45-59 tahun atau setara 33,9% dari total tenaga kerja petani dan 24% berumur 60 tahun ke atas atau sebanyak 9,77 juta orang. Sisanya 42% tenaga kerja pertanian berumur 44 tahun ke bawah.
"Ada tren pekerja di sektor pertanian cenderung menua dan ini menjadi perhatian kita bersama untuk bagaimana mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian," ungkap Amalia dalam konferensi pers, Senin (4/12).
Amalia menyampaikan tantangan di sektor pertanian lainnya ialah berkaitan dengan produktivitas pertanian yang rendah. Pada 2023, penduduk yang bekerja di sektor pertanian dengan status informal sebanyak 88,42%. Angka ini bertambah dibanding 2013 yang tercatat pada kisaran 88%.
Baca juga : Sensus Pertanian 2023 Dimulai 1 Juni, Gunakan Tiga Metode
Lalu, rendahnya produktivitas pertanian juga disebabkan mayoritas tenaga kerja pertanian atau 74,89% dari total pekerja hanya menamatkan pendidikan paling tinggi sekolah dasar di Februari 2023.
Sekretaris Utama (Sestama) BPS Atqo Mardiyanto menambahkan penyebab lain menurunnya jumlah usaha pertanian selama 10 tahun terakhir karena permasalahan lahan yang semakin mengecil. Ia menyebut petani gurem atau petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare di Jawa mengalami penyimpitan. Di Yogyakarta, persentase jumlah rumah tangga usaha pertanian (RTUP) gurem turun 13,91% dibandingkan 2013.
"Makin ke sini lahan makin sempit dan jangan program-program (pertanian) bukan ekstensifikasi tapi intensifikasi. Jadi, selama 10 tahun terakhir ada perubahan lahan," terangnya.
Baca juga : Menyoal Kesejahteraan Petani di Tahun 2022
Ia menjelaskan berkurangnya lahan itu lantaran pengelola usaha pertanian perorangan menjual lahan tersebut kepada pihak lain.
"Kalau di Yogyakarta ya misalnya, dijual mungkin lahannya. Yang tadinya untuk usaha pertanian, sekarang tidak lagi Jadi lahan pertanian banyak berkurang. Bisa dijual, bisa diwariskan ke lain," pungkas Atqo. (Z-4)
Petani di berbagai wilayah Provinsi Aceh tengah dilanda keresahan besar pada musim tanam padi rendengan, musim tanam utama yang sangat menentukan produksi pangan tahunan
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.
Kehadiran personel TNI dan dukungan pemerintah provinsi memberikan suntikan semangat baru bagi petani serta pemerintah daerah, terutama di tengah tantangan keterbatasan fiskal.
Kementan memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra.
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY).
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebesar 147,91 juta orang.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, atau meningkat 2,83% dibandingkan tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved