Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengungkapkan ada penurunan proyeksi pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di tahun ini. Dari sebelumnya diperkirakan akan tumbuh 6-7%, lalu dikoreksi menjadi 5% hingga akhir tahun ini.
Ia mengatakan adanya koreksi proyeksi tersebut akibat adanya penurunan daya beli yang memengaruhi konsumsi masyarakat.
"Perkiraan kita industri mamin tumbuh sekitar 5%, menurun dari sebelumnya di kisaran 7%. Kita melihat situasi sekarang sulit. Daya beli semakin melemah karena biaya hidup yang naik," ujar Adhi di acara SIAL Interfood 2023 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/11).
Baca juga: Rencana Produsen Bahan Bakar Fosil Ancam Batas Pemanasan Global
Adhi menjelaskan pada kuartal III 2023, industri mamin tumbuh 4,39% secara tahunan atau year on year (yoy). Menyusut dibanding periode yang sama di tahun lalu yang tumbuh 4,9% yoy.
Masyarakat kelas menengah ke atas disebut tengah mengerem untuk berbelanja dan mengalihkan uang mereka untuk tabungan. Sementara, ada pelemahan daya beli masyarakat di kelas menengah ke bawah karena kenaikan harga komoditas pangan.
"Saya pikir di kuartal III 2023 industri mamin bisa tumbuh 5%, tapi ternyata belum bisa. Masyarakat menengah ke atas selektif dalam belanja. Lalu, dengan harga pokok yang naik membuat daya beli semakin lemah di kelas menengah ke bawah," ucapnya.
Baca juga: Lanjutkan Ekspansi, Progesys Sasar Proyek Industri dan Infrastruktur
Faktor lainnya yang menyebabkan pertumbuhan industri mamin menurun karena kondisi global yang tidak menentu. Seperti memanasnya konflik Hamas-Israel, perang Rusia-Ukraina yang belum berakhir. Ini berdampak pada terganggunya rantai pasokan, produksi, dan logistik global.
"Kondisi global agak mengkhawatirkan. Banyak negara-negara yang terganggu logistiknya karena perang. Ekspor kita juga terganggu karena buyer (pembeli) global mengerem pembelian," jelas Adhi.
Ketua GAPMMI berharap dengan adanya momentum pemilu dapat mendongkrak pertumbuhan industri mamin yang lesu di kuartal III 2023. Ia melihat ada peluang baik d yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha saat di tahun politik. Kegiatan kampanye ataupun pertemuan politik biasanya meningkatkan permintaan suplai mamin.
"Tahun depan ini kan cukup panjang agenda politik. Ada pemilihan presiden, gubernur, bupati. Kalau itu berjalan aman, harapannya bisa menciptakan pertumbuhan industri mamin," pungkasnya.
(Z-9)
Penunjukan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebagai anggota Dewan Energi Nasional memberikan kepastian arah kebijakan ketahanan energi bagi sektor industri.
Industri makanan dan minuman Indonesia tumbuh 6,4% pada Triwulan III 2025. Namun, konsumsi susu nasional masih rendah dan ketergantungan impor bahan baku jadi tantangan utama.
KEBUTUHAN efisiensi operasional dan konsistensi proses kerja di industri food & beverage (F&B) semakin meningkat seiring dengan bertambah outlet dan kompleksitas bisnis.
Sejak berdiri, organisasi ini mampu menyalurkan lebih dari 4.000 porsi makanan kepada mereka yang membutuhkan.
Kebijakan pembatasan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 memicu kekhawatiran luas.
Industri makanan dan minuman nasional menunjukkan geliat pertumbuhan yang luar biasa, terutama di segmen halal.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved