Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri membenarkan terkait harga beras di pasar yang saat ini tengah mengalami lonjakan harga.
Abdullah mengatakan, faktor penyebab lonjakan harga tersebut diakibatkan oleh stok beras yang ada di penggilingan mulai menipis dan membuat harga beras terkerek naik.
"Penyebabnya karena memang stok di penggilingan itu tidak banyak. Itu membuat harga beras di penggilingan tidak karuan, sehingga ketika sampai di pedagang harganya sudah tinggi," kata Abdullah kepada Media Indonesia, Sabtu (2/9).
Baca juga : Lautan Jadi Peluang Ekonomi Baru bagi ASEAN
Walaupun saat ini harga beras di pasar mengalami kenaikan, Abdullah mengaku stok beras sendiri masih tercukupi dan tidak kekurangan di pasaran.
Namun, ia mengatakan, stok yang ada tersebut hanya sampai 4 bulan ke depan dan untuk mencari stok beras yang ada di penggilingan masih sulit.
Baca juga : Bapanas Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Beras
"Stok saat ini tercukupi di pasaran dan tidak kekurangan. Tapi memang untuk mencari di penggilingan dan untuk sampai 4 bulan ke depan itu relatif membuat kita untuk berpikir keras," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan penyebab terjadinya kenaikan harga beras di pasaran pada saat ini. Salah satunya, disebabkan oleh harga Gabah Kering Panen (GKP) yang melonjak ke angka Rp6.700 per kg sampai Rp7.300 per kg.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengatakan, kenaikan harga gabah itu diakibatkan oleh produksi padi yang saat ini tengah menurun akibat cuaca ekstrem El Nino. Sehingga, membuat stok GKP berkurang dan membuat para penggiling padi mengurangi produksi beras mereka karena kesulitan mendapatkan gabah dari petani dan juga karena harga yang tinggi.
"Saat ini para penggiling padi memerlukan stok GKP untuk dijadikan beras. GKP yang saat ini ada, tentunya tidak dapat mencukupi pabrik. Hal itu dikarenakan harga GKP yang beranjak naik akibat produksi padi yang menurun akibat El Nino," kata Arief kepada Media Indonesia, Sabtu (2/9). (Z-5)
KENAIKAN harga beras di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, yang menembus hampir Rp1 juta per karung memicu respons cepat pemerintah.
Suplai daging sapi di dalam negeri saat ini masih didominasi dari sapi lokal. Sapi lokal disebut memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia antara 40% hingga 70%.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Pasar Kanggraksan, Kota Cirebon, harga cabai rawit merah kini sudah mencapai Rp100 ribu per kilogram dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram.
Harga cabai rawit naik hampir 100 persen dari sebelumnya Rp57 ribu per kilogram (kg) naik menjadi Rp85 ribu per kg.
Harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp90.000 per kilogram. Beberapa hari sebelumnya, pedagang sempat menjual cabai rawit dengan harga Rp100.000 per kilogram.
Selain daging ayam, harga cabai merah dan daging sapi di Kota Medan juga tercatat mengalami kenaikan pada awal Februari.
Dengan konsumsi masyarakat Kabupaten Mukomuko, lanjut dia, yang hanya 20 ribu ton per tahun, maka terdapat surplus sekitar 20 ribu ton beras.
Panen di sejumlah wilayah Kabupaten Sukoharjo masih dijual bebas, meski harga GKP (gabah kering panen) di bawah harga HPP Pemerintah.
Total produksi beras dari Januari hingga April 2025 mencapai 13,95 juta ton. Sementara total konsumsi beras pada Januari - April 2025 mencapai 10,36 juta ton.
Di Banyumas terdapat dua gudang, Cilacap memiliki empat gudang, sementara Banjarnegara dan Purbalingga masing-masing memiliki satu gudang
"Masa panen raya diprediksi berlangsung pada akhir Februari hingga April 2025,"
Presiden Prabowo Subianto akan menerbitkan peraturan pemerintah soal harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen Rp6.500
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved