Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK sentral Tiongkok pada Senin (21/8/2023) memangkas suku bunga utama dalam upaya melawan perlambatan pertumbuhan pascacovid-19 di ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Ini terseret oleh ketidakpastian di pasar tenaga kerja dan kelesuan ekonomi global, sehingga melemahkan permintaan barang-barang Tiongkok.
Masalah keuangan di sektor realestat, dengan beberapa pengembang terkemuka di ambang kebangkrutan dan berjuang untuk menyelesaikan proyek, juga menimbulkan hambatan besar bagi pertumbuhan. Mengikuti langkah serupa minggu lalu, bank sentral Tiongkok memangkas suku bunga utama pada Senin dalam upaya merangsang aktivitas.
Suku bunga pinjaman (loan prime rate/LPR) satu tahun, yang berfungsi sebagai patokan untuk pinjaman korporasi, diturunkan dari 3,55% menjadi 3,45%, Bank Rakyat China (PBoC) mengatakan dalam sebuah pernyataan. Namun, LPR lima tahun, yang digunakan untuk menentukan harga hipotek, bertahan di 4,2%.
Baca juga: Hungaria Tetap dalam Resesi di Kuartal Kedua
Diikuti oleh pasar, kedua suku bunga sekarang berada di posisi terendah dalam sejarah, setelah penurunan sebelumnya di Juni. Keputusan tersebut dimaksudkan untuk mendorong bank komersial memberikan lebih banyak pinjaman dan pada tingkat lebih menguntungkan.
Langkah-langkah Senin itu--yang bertentangan dengan penaikan suku bunga di seluruh dunia karena ekonomi utama lain mengekang inflasi--bertujuan secara tidak langsung mendukung kegiatan ekonomi sebagai bendera pertumbuhan. Pemulihan pascacovid-19 yang lama ditunggu setelah pencabutan pembatasan kesehatan pada akhir 2022 telah kehabisan tenaga dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: Belanda Tergelincir dalam Resesi Ringan
Tanda lain bahwa pemulihan goyah yaitu pinjaman untuk rumah tangga turun bulan lalu ke level terendah sejak 2009. Untuk menghidupkan kembali perekonomian, bank sentral menurunkan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (medium-term lending facility/MLF) ke lembaga keuangan, Selasa lalu.
Regulator keuangan pada Jumat sepakat tentang perlunya dukungan keuangan sambil, "Menghindari risiko dan bahaya tersembunyi," lapor media pemerintah. Analis yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan pemotongan LPR yang lebih besar setelah pertemuan pada Jumat.
Trader atau pedagang investasi tampak tidak terkesan dengan pergerakan tersebut. Saham Hong Kong turun 1,4% dan Shanghai turun 0,6%.
Baca juga: Utang Kenya Melesat ke Rekor Tertinggi
Keputusan bank sentral itu muncul saat krisis di raksasa properti Country Garden yang lama dianggap sehat secara finansial dan sekarang terlilit utang. Ini menimbulkan kekhawatiran akan kebangkrutan yang dapat menimbulkan konsekuensi mengerikan bagi sistem keuangan domestik. Masalah Country Garden menumpuk hanya dua tahun setelah krisis meletus di saingan utama Evergrande yang berjuang dengan utang besar.
Selain kesengsaraan realestat, pertumbuhan terhambat oleh konsumsi yang lesu di tengah ketidakpastian di pasar tenaga kerja dan perlambatan ekonomi global. Itu membebani permintaan barang-barang Tiongkok dan memperlambat aktivitas ribuan pabrik.
Tiongkok menangguhkan publikasi bulanan angka pengangguran kaum muda pada Selasa lalu, setelah mencapai rekor tertinggi 21,3% pada Juni, menurut data resmi. Tingkat pengangguran dihitung untuk daerah perkotaan dan oleh karena itu hanya memberikan gambaran sebagian dari situasi.
Serangkaian angka suram dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan tekanan pada para pejabat untuk memperkenalkan rencana pemulihan ekonomi yang luas, tetapi para pembuat kebijakan yang menghindari utang di Beijing enggan. Pihak berwenang malah mengumumkan berbagai langkah untuk meningkatkan sektor swasta yang sangat terpukul selama pandemi dan konsumsi meski belum berpengaruh.
Perlambatan ekonomi mengancam target pertumbuhan yang ditetapkan oleh otoritas sekitar lima persen untuk tahun ini. Jika tercapai, itu akan menjadi salah satu tingkat pertumbuhan tahunan terendah Tiongkok dalam beberapa dekade di luar periode covid-19.
Beijing, Rabu lalu, mengakui kesulitan ekonomi tetapi menepis pesimisme komentator Barat yang meragukan kemampuannya untuk mendukung pertumbuhan global. "Akhirnya, mereka pasti akan terbukti salah," kata Wang Wenbin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok. (AFP/Z-2)
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% bulan ini menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.
IHSG Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, dibuka menguat seiring harapan pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved