Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOMI global masih mengalami tekanan. Bank Dunia dalam Global Economic Prospects edisi Juni 2023, memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju masih akan melambat di level 0,7% pada 2023 dari kondisi 2022 yang tumbuh 2,6%.
Proyeksi ini melihat bahwa masih ada tekanan terhadap negara-negara dari turbulensi ekonomi global yang belum baik.
Lalu bagaimana investor dan pengamat menanggapi hal itu?
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto melihat bahwa efek dan tekanan ekonomi yang dihadapi para negara-negara besar di dunia, tentu dapat berimbas secara global.
“Raksasa ekonomi dunia ini ketika bermasalah tentu akan mempengaruhi ekonomi global, sehingga diharapkan pertumbuhannya selalu baik. Tapi dalam konteks Tiongkok, nyatanya saat ini belum seperti yang diharapkan,” tuturnya saat diskusi ekonomi Tumbuh Makna dengan tema “Pengaruh Tingkat Suku Bunga AS dan Perlambatan Ekonomi Tiongkok Terhadap Ekonomi Indonesia”, di Satrio Tower, Jakarta, Senin (17/8)
Eko menambahkan, dalam konteks ekonomi Tiongkok, diproyeksikan pertumbuhannya dapat mencapai sampai 6%, namun kemudian berbagai indikatornya tidak terlihat menuju pertumbuhan yang cukup. “Revisinya ada di angka 5 setengah dan angka ini pun sebenarnya belum cukup maksimal, karena untuk sekelas Tiongkok minimal di angka 7% bila ingin pulih. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang hanya di angka 5% saja sudah cukup. Sementara itu, untuk Amerika sendiri, tingkat inflasinya sudah cukup rendah di angka 3%, tinggal ditunggu saja, apakah konsisten atau sifatnya sementara,” katanya.
Meski gejolak ekonomi global sedang tinggi, Eko meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, terutama dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia,
“Indonesia bagaimana? Ekonomi Indonesia driver utamanya adalah domestik. Jadi selama domestiknya masih bisa bergulir, sebetulnya kita masih bisa tumbuh sekitar 4,8%. Memang tidak se-impresif pemerintah yang memiliki target 5,3%, tapi kalau sedikit di bawah 5% menurut saya masih mungkin yah, karena mempertimbangkan kelesuan yang terjadi pada tataran ekonomi global,” kata Eko menambahkan.
Sementara itu, Co-Founder Tumbuh Makna, Fenny Tjahyadi mengatakan bahwa indikator perlambatan ekonomi di Indonesia belum terlihat, meskipun telah terjadi tekanan global kenaikan suku bunga AS. Salah satu faktor ekonomi Indonesia masih sehat, menurut Fenny, antara lain adalah nilai tukar mata uang Indonesia, yakni rupiah yang masih terbilang stabil di antara nilai tukar mata uang negara lainnya di dunia.
“Bahkan pada Juli ini inflasi sudah masuk ke rentang target Bank Indonesia. Awal bulan Juli pun inflasi kita turun ke level 3,52%. Untuk kategori transportasi mengalami deflasi sebesar 0,1%. Sedangkan untuk sektor makanan dan minuman inflasinya melambat di bawah 0,5 persen. Ini terjadi karena permintaannya sudah normal kembali pasca libur hari raya dan juga untuk suplainya sudah cukup tinggi. Selain itu, nilai tukar kita terbilang masih cukup kondusif di tengah nilai tukar mata uang negara-negara lain yang terkena dampak,” katanya.
Bahkan Fenny melihat, BI kemungkinan akan menurunkan suku bunga dalam beberapa waktu ke depan sehingga dinilai sangat kondusif dan sangat bagus bagi para investor untuk mengambil peluang yang ada.
“Berdasarkan konsensus di pasar, kita melihat bahwa BI masih punya ruang untuk menurunkan tingkat suku bunga. Kita memperkirakan penurunannya itu bisa sampai 50 hingga 75 basis point itu sampai di awal 2024. Dengan adanya kemungkinan penurunan suku bunga ini, kita melihat akan jadi sentimen positif terutama di instrumen pendapatan tetap seperti obligasi. Itu tercermin dari net buy asing per bulan Juni sampai akhir Juni itu mencapai Rp80 triliun,” jelasnya
Dari sektor IHSG 2023, Fenny menilai, valuasi yang terjadi saat ini sangat menarik untuk para investor.
Untuk sektor saham, Fenny melihat setidaknya ada dua sektor yang memilki potensi bagus, terutama menjelang pemilu 2024, yakni sektor properti dan telekomunikasi.
“Kalau sektor mungkin bisa mempertimbangkan sektor-sektor yang terdampak oleh penurunan suku bunga tadi, mungkin misalnya seperti properti atau menjelang pemilu ini, sektor telekomunikasi dengan penunjangnya itu juga akan menarik,” tambah Fenny menganalisa.
Melihat kondisi global dan pasar yang begitu dinamis, Analis dan Perencana Keuangan Benny Sufami menekankan bagi para investor untuk sabar dalam melakukan investasi pada 2023. Menurutnya, potensi pasar yang saat ini sangat menarik dan menguntungkan harus dapat dicermati dengan baik dan tepat.
“Investor harus sabar dan menunggu karena ada potensi yang cukup menarik pada 2023 ini. Tren ini seperti Maret 2020 lalu di mana akan ada pertumbuhan yang positif sehingga dalam 12 bulan kita bisa melesat bila berkaca pada awal pandemi,” ujarnya.
Meski begitu Benny menekankan bahwa para investor harus tetap berpatokan pada profil risiko masing-masing. (RO/E-1)
Comeback BTS diprediksi picu ledakan ekonomi global. Tur 82 konser berpotensi pecahkan rekor, sementara Seoul mulai rasakan dampak BTSnomics.
Trump panik harga minyak melonjak akibat perang Iran-Israel. Washington berencana cabut sanksi negara penghasil minyak demi stabilkan pasar dan pasokan global.
G7 gelar rapat darurat saat harga minyak tembus US$120 per barel. Krisis Selat Hormuz ancam inflasi global dan picu rencana pelepasan cadangan minyak darurat IEA.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf sindir salah kalkulasi Donald Trump terkait harga minyak dunia. Ia peringatkan produksi energi global terancam akibat agresi AS-Israel.
Bursa saham Australia dan AS anjlok tajam pagi ini setelah harga minyak dunia meroket melampaui US$100 per barel
Konflik Timur Tengah picu panic buying dan ancaman kelangkaan BBM di Thailand. Pemerintah pantau ketat pasokan seiring lonjakan harga di tingkat lokal.
Nilai tukar mata uang Rupiah hari ini 20 Maret 2026 bergerak di zona merah, mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini 19 Maret 2026 bergerak fluktuatif di level Rp16.900-an. Cek juga harga emas Antam yang menguat hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi fluktuatif pada 18 Maret 2026 usai BI menahan suku bunga di 4,75%. Cek harga kurs terbaru di sini.
Nilai tukar rupiah ditutup stagnan Rp16.997 per dolar AS hari ini (17/3). Cek hasil RDG Bank Indonesia terkait BI-Rate dan dampak pernyataan dovish Gubernur BI.
BANK Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate hari ini 17 Maret 2026 sebesar 4,75 persen untuk memperkuat rupiah
Kurs rupiah hari ini 17 Maret 2026 menguat ke Rp16.965 per dolar AS. Pasar menanti pengumuman BI Rate di tengah tensi geopolitik Timur Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved