Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didorong untuk terus memperkuat ekonomi domestik di tengah ketidakpastian dunia. Salah satunya ialah dengan menjaga, atau bahkan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah melalui pengendalian harga-harga.
"Mempertahankan konsumsi masyarakat menengah ke bawah itu merupakan kunci utama karena memang inflasi kita masih cukup tinggi," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad saat dihubungi, Kamis (29/6).
Di saat yang sama, pengambil kebijakan juga diminta untuk bisa memperbaiki belanja. Alih-alih digunakan untuk kegiatan atau program nonproduktif, anggaran tersebut dapat digunakan untuk menjadi daya ungkit perekonomian dalam negeri.
Baca juga: Jinaknya Inflasi dan Melemahnya Daya Beli
"Saya sependapat belanja perjalanan dinas, gaji pegawai itu dikendurkan. K/L yang selama ini harusnya bisa mendorong pertumbuhan seperti Kemenperin, Kemen ESDM yang bertugas di produksi, itu belum cukup signifikan ikut mendorong perekonomian," kata Tauhid.
Hal lain yang tak kalah penting ialah mempertajam investasi. Ini bukan sekadar mengenai realisasi penanaman modal yang masuk ke Tanah Air, melainkan bagaimana dampak rambatannya terhadap perekonomian dalam negeri.
Investasi yang masuk, kata Tauhid, sebisa mungkin mempunyai dampak berganda kepada masyarakat, sehingga penanaman modal itu memiliki nilai tambah. Sektor-sektor yang mestinya didorong untuk menarik investasi juga ialah yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Dinilai Sehat di Tengah Tantangan Global
"Saya kira kembali ke hal-hal pokok seperti itu dan pemerintah harus membuat iklim di investasi yang baik, ini bukan bicara PMA atau PMDN, karena itu adalah bagian dari PDB, tapi multiplier-nya. Misal, PMA atau PMDN itu masuk ke sektor mining yang local labour-nya kecil, itu harus dipikirkan lagi," jelas Tauhid. (Z-6)
Harga emas global dan Antam turun pada 17 Februari 2026. Prediksi untuk Rabu, 18 Februari, diperkirakan stabil atau berpotensi rebound tipis dengan harga Antam Rp2,96–3,05 juta per gram.
Firman Soebagyo kritik impor garam Australia dan nilai pemerintah lemah lindungi petani lokal. Komisi IV DPR desak bangun industri garam nasional.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai berupaya melemahkan Indonesia dan menghambat langkah bangsa.
Pemprov DKI Jakarta memprediksi lonjakan kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama telur ayam, daging, bawang merah, dan minyak goreng.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan nasional surplus dan aman hingga Idulfitri 2026.
Ini tentunya mesti diuji, baik di tingkat konsep maupun fakta sehingga kita bisa berharap semua itu menjadi nyata bagi upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Harga di Pasar Penuin, Pasar Mitra Raya, dan Pasar Tos 3000 menunjukkan harga cabai rawit merah menembus Rp92.950 per kilogram.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menahan BI-Rate di 4,75% untuk stabilkan rupiah di tengah gejolak global. Rupiah Rp16.880 per dolar AS, BI nilai masih undervalued.
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
Cek harga cabai di 5 pasar utama Batam (Tos 3000 hingga Penuin) per 18 Februari 2026. Harga rawit merah tembus Rp85.000/kg jelang Ramadan.
Update harga pangan di Pasar Induk Kramat Jati per 18 Februari 2026. Harga cabai rawit merah mulai turun ke Rp80.000/kg jelang Ramadan 1447 H.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved