Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) melihat adanya anomali pada kinerja mata uang dolar AS, dimana dengan berbagai kendala seperti isu plafon utang AS dan ekspektasi tingkat suku bunga AS Fed Fund Rate (FFR) yang telah berada di puncak, namun indeks dolar DXY tetap perkasa. Karena itu, BI memutuskan untuk menahan BI Rate di angka 5,75%.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan salah satu yang menjadi isu memang adalah ketidakpastian keuangan global yang masih berlanjut.
"Dengan yang terjadi di AS terkait plafon utang, ada anomali. Kenapa FFR sudah di puncak, terjadi debt ceiling tapi indeks dolar DXY tetap kuat di kisaran 102-104. Ini harus kami lihat masih ada ketidakpastian geopoilitik dan juga di beberapa negara lain. Beruntung arus dana asing (net inflow) Indonesia masih masuk," kata Perry, di Jakarta, Kamis (25/5).
Baca juga : Pasar Menanti Keputusan BI Rates Pekan Ini
Tekanan depresiasi nilai tukar terjadi di seluruh dunia tidak hanya rupiah. Sehingga Bank Indonesia menyatakan fokus kebijakan tingkat suku bunga BI rate tetap untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Supaya imported inflation tetap rendah dan dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan bisa dimitigasi," kata Perry.
Baca juga : Kadin: Jika AS Gagal Bayar, Dunia bakal Alami Guncangan Ekonomi
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (25/5) bertengger di kisaran 14.948 per dolar AS, bergerak tipis dari Rabu (24/5) di kisaran 14.952 per dolar AS.
Bank Indonesia masih meyakini suku bunga The Fed udah mencapai puncak dan melihat kemungkinan tidak naik di bulan Juni. Tetapi anomali yang terjadi yaitu inflasi AS turunnya sangat lambat, dan kemudian suku bunga AS masih akan berada di ketinggian untuk waktu yang lebih lama.
"Ini agak berbeda dengan analis yang memperkirakan kemungkinan FFR akan turun di akhir tahun," kata Perry.
Kedua, berlanjutnya negosiasi plafon utang, dimana sejarah mengatakan perdebatan akan terseleaikan atau terjadi kompormi antara pemerintahan dan DPR Amerika.
"Tapi kompromi itu apakah dengan penurunan expenditure atau belanja modal. Ini harus kami lihat lebih jauh negosiasi yang kemungkinan akan sampai Juni," kata Perry. (Z-4)
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia menahan BI-Rate di 4,75% untuk stabilkan rupiah di tengah gejolak global. Rupiah Rp16.880 per dolar AS, BI nilai masih undervalued.
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
IHSG hari ini (18/2/2026) melonjak 1,19% ke level 8.310,23. Pasar optimis menanti hasil RDG Bank Indonesia dan rilis data kredit. Cek saham top gainers di sini.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Comeback BTS diprediksi picu ledakan ekonomi global. Tur 82 konser berpotensi pecahkan rekor, sementara Seoul mulai rasakan dampak BTSnomics.
Trump panik harga minyak melonjak akibat perang Iran-Israel. Washington berencana cabut sanksi negara penghasil minyak demi stabilkan pasar dan pasokan global.
G7 gelar rapat darurat saat harga minyak tembus US$120 per barel. Krisis Selat Hormuz ancam inflasi global dan picu rencana pelepasan cadangan minyak darurat IEA.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf sindir salah kalkulasi Donald Trump terkait harga minyak dunia. Ia peringatkan produksi energi global terancam akibat agresi AS-Israel.
Bursa saham Australia dan AS anjlok tajam pagi ini setelah harga minyak dunia meroket melampaui US$100 per barel
Konflik Timur Tengah picu panic buying dan ancaman kelangkaan BBM di Thailand. Pemerintah pantau ketat pasokan seiring lonjakan harga di tingkat lokal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved