Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
AKHIR pekan lalu pasar finansial dikejutkan dengan berita salah satu Bank di Amerika Serikat, Silicon Valley Bank (SVB) yang kolaps dan diambil alih oleh Lembaga Penjaminan Simpanan Amerika Serikat Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC).
Berdiri pada 1983, SVB berspesialisasi pada perbankan untuk startup teknologi yang memiliki 29 kantor di seluruh dunia dengan aset senilai USD 209 miliar dan deposito sekitar USD 175,4 miliar per akhir 2022.
SVB ada di peringkat 16 dalam daftar bank dengan aset terbesar di AS. Namun, 89% deposito SVB tidak memiliki jaminan.
Baca juga: Berkaca Dari Kejatuhan Bank Besar di AS, Begini Cara Mengamankan Investasi
Kejatuhan SVB bermula dari rencana mereka untuk menambah modal sekitar USD 2,25 miliar melalui penerbitan saham akibat kekurangan likuiditas, hal ini direspon negatif oleh nasabah dan memicu penarikan dana besar-besaran hingga USD 42 miliar.
SVB terpaksa menjual kepemilikan obligasi senilai USD 21 miliar yang menyebabkan kerugian hingga USD 1,8 Milliar akibat harga obligasi yang lebih rendah saat ini.
Dalam temu media di Jakarta, Manuel Adhy Purwanto selaku Head of Research Moduit mengatakan,’’Kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang agresif untuk meredam inflasi telah berdampak negatif ke sektor finansial. "
"Hal ini dapat mempengaruhi kebijakan Bank Sentral The Fed kedepan. Ekspektasi kenaikan suku bunga The FED pada 22 maret turun menjadi sebesar 25 basis poin dengan ekspektasi terminal rate (puncak suku bunga) di 5,25%, turun dari sebelumnya di 5,75%’,’ jelas Manuel dalam keterangan, Jumat (17/3).
SVB Berdampak ke Pasar Saham
Di satu sisi kolapsnya SVB berdampak negatif ke pasar saham, namun positif ke pasar obligasi.
“Menyikapi kondisi tersebut, investor saat ini dapat mengambil peluang berinvestasi di obligasi pemerintah baik melalui Reksadana Pendapatan Tetap atau membeli obligasi secara langsung seperti obligasi retail SR018 atau obligasi Fixed Rate (FR) yang tersedia di platform Moduit,” saran Manuel.
Baca juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Angka 5,75%
Private Wealth Management
Moduit merupakan platform wealth management untuk berinvestasi Reksa Dana, Obligasi dan produk investasi lainnya yang sudah terlisensi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Moduit, yang terdaftar sebagai PT. Moduit Digital Indonesia, merupakan perusahaan teknologi finansial yang menyediakan layanan Private Wealth Management secara digital, di mana pengguna bisa mendapatkan nasihat investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan berbagai pilihan produk wealth management yang telah terkurasi.
Baca juga: Moduit dan Finansialku Bersinergi untuk Jangkau Investor Pemula
“PT Moduit Digital Indonesia telah memiliki 3 lisensi dari OJK, yaitu Penasihat Investasi, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) & Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek (MPPPE) Level 2, serta sudah terdaftar di Kementerian Komunikasi & Informatika,” terang Head of Marketing & Communication, Moduit Ari Prastowo, pada kesempatan sama.
Moduit bekerja sama dengan institusi finansial terbaik untuk menyediakan berbagai jenis produk Reksa Dana dari konvensional hingga Syariah serta obligasi.
Dalam memasarkan produknya, Moduit sudah memiliki lebih dari 150 advisor partner yang berlisensi OJK dan rata-rata berpengalaman lebih dari 15 tahun di industri wealth management. “Saat ini, Moduit sudah ada di beberapa kota besar di Indonesia, dengan kantor pusat di Jakarta dan lounge di Bandung, Medan & Surabaya,” imbuh Ari. (RO/S-4)
Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pengumuman Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif sambil mempertahankan peringkat Baa2.
REFORMASI tata kelola dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan investor di tengah tekanan yang belakangan membayangi pasar keuangan domestik.
Banyaknya peraturan yang tumpang tindih, proses perizinan yang berlapis, serta perubahan kebijakan yang terlalu sering telah menjadi penghambat nyata bagi investasi di Indonesia.
Keterlibatan investor asing turut dipertimbangkan seiring keterbatasan teknologi nasional dan masih berlangsungnya penyusunan regulasi karbon biru di Indonesia.
Living Lab Ventures (LLV), unit corporate venture capital Sinar Mas Land, menyelenggarakan Inside LLV pada 27 Januari 2026 di Digital Experience Center (DXC), BSD City.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) memanggil Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) untuk membahas rencana peningkatan porsi saham beredar (free float) 15%.
DI tengah dinamika pasar global dan domestik yang tidak menentu, investor dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan peluang.
OJK bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) resmi mengintegrasikan sistem perizinan dan pendaftaran reksa dana untuk meningkatkan efisiensi administrasi di pasar modal.
Indonesia berada di ambang peluncuran instrumen investasi syariah baru yang diprediksi mengubah lanskap ekosistem emas nasional: Reksa Dana Bursa (RDB) Emas Syariah perdana.
STAR Asset Management (STAR AM) resmi menandatangani perjanjian kerja sama dengan Bank Sinarmas terkait penyediaan fasilitas kredit bagi produk Reksa Dana STAR Stable Income Fund.
IIM terus memperluas cakupan dan pendalaman manfaat program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan dampak sosial berkelanjutan.
Pergeseran Perspektif Gen Z Pengaruhi Keputusan Berinvestasi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved