Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didoronG mengoptimalisasi sektor-sektor potensial guna menghasilkan investasi yang berkualitas. Langkah ini bertujuan agar modal yang tertanam di dalam negeri berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja nasional.
Associate Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menilai, Indonesia sejauh ini terlalu fokus pada pencapaian angka investasi. Padahal esensi dari penanaman modal lebih dari pada sekadar besaran nilai yang dapat diperoleh.
"Persoalan kita adalah lebih melihat dari angka investasi, bukan dari kualitas investasi yang masuk. Karena kalau kita lihat, dari investasi yang masuk itu bergerak ke sektor tersier, bukan yang sekunder atau primer," ujarnya kepada Media Indonesia, Rabu (25/1).
"Kalau dari teori itu memang sektor sekunder dan primer yang menyerap tenaga kerja lebih besar. Misal, untuk sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan itu menyerap tenaga kerja cukup besar. Tapi memang sektor itu dinilai high risk bagi investor," tambahnya.
Karenanya, pengambil kebijakan didorong untuk bisa mencari cara agar sektor-sektor padat karya yang dinilai berisiko tinggi bagi investor menjadi menarik. Apa yang dilakukan pemerintah Thailand, kata Abdul, dapat ditiru oleh Indonesia.
Negeri Seribu Pagoda itu diketahui memberikan insentif yang cukup besar kepada investor yang mau menanamkan modalnya jauh dari ibu kota. Semakin jauh investasi dari Bangkok, makin besar pula insentif yang diterima oleh investor.
"Hal yang seperti itu mestinya juga bisa dilakukan di Indonesia, bagaimana kita bisa mendorong investor masuk ke sektor yang berisiko tinggi," terang Abdul.
Tingginya investasi di sektor berisiko tinggi dan padat karya dinilai menjadi salah satu faktor peningkatan penyerapan tenaga kerja. Dus, selain memperoleh pemerataan investasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat juga dapat dirasakan.
Hal lain yang perlu dibenahi guna mendapatkan optimalisasi penyerapan tenaga kerja dari investasi ialah terkait regulasi dan stabilitas. "Setiap tahun kita selalu dihadapkan pada masalah buruh. Pemerintah perlu membenahi hal ini sehingga tidak lagi muncul demo-demo buruh yang seolah menjadi agenda tahunan," kata Abdul.
"Karena ketika tiap tahun terjadi demo, artinya ini memberikan cerminan bagi investor bahwa investasi di Indonesia itu mahal dan berisiko. Itu akan berdampak pada perpindahan investor dari Indonesia ke tempat lain, utamanya ke Vietnam," lanjutnya.
Namun terlepas dari pekerjaan rumah tersebut, Abdul menilai target investasi yang ditetapkan sebesar Rp1.400 triliun tahun ini masih dapat tercapai. Itu karena perekonomian Indonesia diprediksi akan berada di dalam kondisi yang relatif baik ketimbang banyak negara.
Selain itu, agenda hilirisasi industri yang digaungkan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir juga dinilai menjadi faktor yang menarik bagi investor. Hanya, itu juga perlu didukung dengan kepastian hukum agar keyakinan penanam modal dapat meningkat. (OL-8)
PRESIDEN Prabowo Subianto bertemu dengan petinggi perusahaan global di Amerika Serikat, Jumat (20/2) waktu setempat. Dalam pertemuan itu Indonesia memperkuat sistem investasi
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan pimpinan dari 12 perusahaan investasi terbesar dunia dalam upaya memperkuat kemitraan strategis, dalam pertemuan yang berlangsung di Washington DC.
Agenda utama pertemuan adalah pembahasan pengembangan, hilirisasi, serta potensi ekspor komoditas kakao Papua ke pasar global.
Kesepakatan besar ini diresmikan dalam ajang US-Indonesia Business Summit 2026 yang berlangsung di Washington D.C., Rabu (18/2) waktu setempat.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah Indonesia untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif saat berbicara di hadapan para pelaku usaha Amerika Serikat.
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan langkah pemerintah dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5% sekaligus mempercepat pembangunan konektivitas.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved