Sabtu 21 Januari 2023, 09:45 WIB

Indonesia Relatif Aman dari Dampak Resesi

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Indonesia Relatif Aman dari Dampak Resesi

MI/Susanto
ilustrasi

 

PENELITI dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hasran menilai kebijakan makro yang diambil pemerintah membuat Indonesia relatif aman dari resesi.

"Misalnya saja, untuk mengontrol inflasi, Indonesia tidak hanya menggunakan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia, tapi juga dibarengi dengan menjaga keterjangkauan harga pangan di pasar dan di tingkat petani," ujarnya dikutip dari siaran pers, Sabtu (21/1).

Hasran melanjutkan, dampak dari kebijakan itu dapat dilihat dari tingkat inflasi Indonesia yang berada di kisaran 5% selama tahun 2022 dengan tingkat suku bunga acuan kisaran 5,50%.

Di sisi lain, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 30,1%, jauh dari batas aman 60% yang ditetapkan dalam undang-undang.

Cadangan devisa Indonesia juga berada dalam kategori aman, yaitu setara dengan pembiayaan 5,9 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Walaupun begitu, sektor perdagangan sangat mungkin terdampak resesi global dan hal ini bisa menghentikan surplus neraca perdagangan yang sempat diraih Indonesia sejak awal 2020.

Surplus yang disebabkan oleh naiknya harga-harga komoditas seperti batu bara, nikel dan Crude Palm Oil (CPO) ini akan terhenti karena adanya penurunan permintaan dan harga untuk komoditas-komoditas tadi di pasar global.

Hasran mengatakan, penyebab utama resesi ekonomi kali ini adalah naiknya suku bunga bank sentral negara-negara kekuatan utama dunia sebagai upaya dalam menekan inflasi.

Baca juga: Perlu Diversifikasi Ekspor untuk Antisipasi Resesi Global

Dia juga melihat kondisi tersebut akan membuat industri membayar biaya bunga pinjaman yang lebih tinggi. Untuk meminimalisasi itu, industri akan lebih memilih mengurangi produksinya dan mengurangi jumlah tenaga kerja.

"Kondisi ini akan menyebabkan berkurangnya daya beli karena masyarakat akan memprioritaskan konsumsinya pada hal-hal yang dianggap penting. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan sektor-sektor terkait," tutur Hasran.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semenjak pulih dari pandemi covid-19, data kemiskinan per Maret 2022 menunjukkan adanya penurunan sebesar 0,60% dibanding Maret 2021. Namun, ketika inflasi menghantam perekonomian kemiskinan kembali meningkat sebesar 0,03% di September 2022.

Masyarakat berpenghasilan rendah harus mengalokasikan konsumsinya pada pos-pos yang lebih penting berdasarkan skala prioritas, seperti mengurangi pengeluaran di luar konsumsi pangan. Di saat yang sama, pemerintah perlu mempertimbangkan alokasi bantuan sosial yang lebih terarah dan lebih menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

Berkurangnya permintaan di Eropa dan Amerika sebagai dampak dari krisis biaya hidup ini akan mempengaruhi produksi dan margin perusahaan-perusahaan multinasional atau perusahaan manufaktur di Indonesia.

"Dalam masa ini, perusahaan akan bisa saja melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sedangkan lapangan pekerjaan baru yang dibuka akan lebih sedikit," pungkas Hasran.(OL-5)

Baca Juga

AFP

Harga Minyak Global Bergerak Waspada Jelang Pertemuan Pejabat Eropa

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:35 WIB
Di tengah tekanan sanksi ekonomi, inflasi, dan kerusuhan yang meluas, pemerintah Iran dilaporkan telah meningkatkan penjualan minyak ke...
MI/Haryanto

8 UMKM Binaan Terbaik Semen Gresik Terpilih Ikuti Bazar Kementerian BUMN

👤Haryanto 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:10 WIB
PT SEMEN Gresik (PTSG)  melalui Rumah BUMN (RB) Rembang mengirimkan 8 UMKM Binaan Terbaik yang telah  terpilih mengikuti Bazar...
Antara

Kementan Perkuat Mekanisasi Pertanian Guna Hadapi Krisis Pangan Global

👤Ficky Ramadhan 🕔Jumat 27 Januari 2023, 13:30 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) tengah bersiap untuk melakukan intervensi teknologi mekanisasi pertanian guna menghadapi potensi krisis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya