Minggu 20 November 2022, 08:35 WIB

Topang Ekspor Pertanian Rp485 Triliun, Perkebunan Indonesia Etalase Dunia

Dede Susianti | Ekonomi
Topang Ekspor Pertanian Rp485 Triliun, Perkebunan Indonesia Etalase Dunia

Antara/Iggoy el Fitra.
Perajin kopi luwak membersihkan kopi yang akan diolah di Batang Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan), dalam hal ini Direktorat Jenderal Perkebunan, meluncurkan corporate identity sebagai lambang era baru perkebunan Indonesia. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu mentransformasi nilai kerja bioindustri perkebunan yang memiliki fokus, responsif, dan kolaboratif.

Peluncuran secara resmi dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Hotel Green Forest, Pamoyanan, Kota Bogor, Sabtu (19/11) sore. SYL mengatakan bahwa perkebunan merupakan salah satu penopang ekspor pertanian Indonesia dengan capaian total Rp485,16 triliun atau naik 7,29% apabila dibandingkan dengan periode yang sama di 2021.

"Memang kita harus fokus dan terarah dalam membangun perkebunan. Perkebunan itu harus punya prioritas terhadap komoditas yang akan ditingkatkan. Karena itu, efisiensi pemanfaatan sumber daya harus terukur untuk menetapkan target dan tujuan. Semua petani harus bersatu dalam corporate ini," ungkap SYL saat memberikan arahannya.

Menurut SYL, perkebunan Indonesia ialah etalase dunia yang memiliki kekuatan besar terhadap tumbuh kembangnya ekonomi bangsa. Karena itu, SYL ingin semua produk kopi, cokelat, maupun komoditas lain selalu ada di semua pasar dunia. "Saya yakin perkebunan Indonesia akan menjadi perkebunan yang paling hebat besok. Perkebunan Indonesia ialah etalase bagi semua perusahaan di dunia yang menyediakan kopi cokelat dari Indonesia," katanya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah menambahkan bahwa saat ini terdapat tujuh program prioritas yang menjadi reorientasi ke depan. Di antaranya program Logistik Benih Perkebunan (BUN500) yang terdiri dari penguatan nursery dan perbenihan mandiri. "Kami punya program Perkebunan Partisipatif atau Pasti yang terdiri dari peningkatan kapasitas usaha kelapa genjah pandan wangi. Ada program Pabrik Mini Minyak Goreng atau Pamigo." Ada pula Ekosistem Perkebunan (Eksis) melalui Korporasi Kopi (Java Preanger Lestari Mandiri-JPLM) serta Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui program kelapa sawit tumpang sari tanaman pangan (Kesatria).

Nur Alam menegaskan bahwa inilah saatnya Indonesia membangun kekuatan bersama melalui subsektor perkebunan yang jauh lebih maju, mandiri, dan modern melalui lembaga era baru corporate identity. "Kami percaya perkebunan ialah mata rantai harmonis yang selaras dengan harapan masyarakat dan bangsa Indonesia. Inilah saatnya perkebunan membangun kekuatan untuk menjawab tantangan ke depan," tutupnya. (OL-14)

Baca Juga

Ist/BPJS Ketenagakerjaan

Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan Jadi Bantalan Pengaman Sosial

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 04 Desember 2022, 19:47 WIB
BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan mereka yang terkena PHK itu harus segera ditangani dengan Jaminan Kehilangan Pekerjaan...
Antara/M Ibnu Chazar.

Potensi Hanjeli sebagai Alternatif Bahan Pokok Beras

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 04 Desember 2022, 18:17 WIB
Pemerintah diminta memperkenalkan aneka komoditas lokal pengganti beras dengan komoditas lain yang setelah diteliti dan justru punya...
ANTARA FOTO/	FENY SELLY

Wapres Ungkap Strategi Pemerintah Antisipasi Gelombang PHK

👤Emir Chairullah 🕔Minggu 04 Desember 2022, 17:41 WIB
Pemerintah saat ini terus meningkatkan implementasi program padat karya untuk menyerap tenaga kerja yang bakal...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya