Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SURPLUS neraca dagang semestinya dapat menambah cadangan devisa. Namun nyatanya itu berbanding terbalik dengan Indonesia. Alih-alih bertambah, cadangan devisa Indonesia justru kian menyusut dalam beberapa bulan terakhir.
Ekonom Makroekonomi dan Keuangan dari Lembaga Penyelidik Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Teuku Riefky mengatakan, kondiail itu terjadi karena dua hal.
Pertama, adanya intervensi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, dan kedua banyaknya valas yang disimpan di perbankan negara lain karena bunga yang ditawarkan lebih kompetitif.
"Karena ada intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah dan juga adanya penempatan dana di bank asing, ini karena suku bunga lebih kompetitif dibandingkan, ini membuat cadangan devisa kita relatif tidak meningkat dan bahkan terus menurun," kata Riefky saat dihubungi, Rabu (9/11).
Berdasarkan laporan BI, posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2022 tercatat sebesar US$130,2 miliar, setara Rp2.041,86 triliun. Nilai cadangan devisa itu menyusut. Dari Juni 2022, misalnya, nilai cadangan devisa tercatat mencapai US$136,4 miliar.
Artinya, dalam kurun waktu empat bulan, terjadi penurunan cadangan devisa sebesar US$6,2 miliar. Dalam keterangannya, BI menyampaikan, penurunan cadangan devisa pada Oktober disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan untuk mendukung intervensi bank sentral dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Riefky berpendapat, kendati posisi cadangan devisa saat ini masih aman, tetap perlu dicermati hal itu akan berdampak pada kemampuan intervensi maupun pembayaran utang luar negeri di masa mendatang.
"Implikasi dari penurunan cadangan devisa ini memang kemampuan kita untuk intervensi ke depannya akan lebih sedikit," tandasnya.
Untuk mendorong bertambahnya nilai cadangan devisa, Riefky mengatakan, upaya yang bisa dilakukan ialah membuat suku bunga deposito di Indonesia menjadi kompetitif. "Ini yang ke depan perlu terus diperhatikan agar surplus neraca dagang ini membuat mata uang asing seperti dolar AS bisa stay di dalam negeri," pungkasnya. (OL-8)
Pelebaran defisit anggaran dalam revisi RAPBN 2026 berkonsekuensi pada penambahan utang yang signifikan.
Postur APBN tiap tahun terus tertekan karena dibebani utang jatuh tempo dalam jumlah besar.
Proyeksi hingga akhir tahun menunjukkan kebutuhan pembiayaan melalui utang mencapai Rp245 triliun–300 triliun, sehingga total utang pemerintah berpotensi menembus Rp9.400 triliun.
Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp599.440 miliar untuk pembayaran bunga utang 2026
UTANG pemerintah makin mencemaskan. Pada awal 2025 ini, total utang pemerintah pusat membengkak menjadi Rp8.909,14 triliun. Angka itu setara dengan 40,2% produk domestik bruto (PDB).
Utang negara adalah alat yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan dan merangsang perekonomian, tetapi juga membawa risiko jika dikelola dengan buruk.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved