Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH didorong mempercepat pemerataan ekonomi. Hal ini dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur yang merata di tiap wilayah. Tujuannya ialah mempersempit potensi kesenjangan perekonomian antara wilayah yang satu dengan lainnya.
Demikian dikatakan Ekonom sekaligus Co-Founder Institute of Social, Economics, and Digital (ISED) Ryan Kiryanto melalui keterangan tertulis, Sabtu (6/8).
"Pemerataan pertumbuhan harus menjadi going concern pemerintah, salah satunya dengan pembangunan infrastruktur dasar secara meluas dan merata untuk mempersempit kesenjangan. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi ke depannya akan lebih stabil, berdaya tahan dan inklusif," ujar dia.
Pernyataannya itu berkaitan dengan laporan pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (5/8). Dalam laporannya, pembentukkan Produk Domestik Bruto (PDB) secara spasial di triwulan II masih didominasi oleh Pulau Jawa dan Sumatra.
Tercatat kontribusi perekonomian Pulau Jawa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 56,55% dan Pulau Sumatra mencapai 22,03%. Sedangkan pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua, dan Bali dan Nusa Tenggara masing-masing berkontribusi 9,09%, 7,10%, 2,51%, dan 2,73%.
Pola kontribusi pertumbuhan tiap pulau ini belum mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Dominasi Pulau Jawa pada perekonomian nasional dinilai Ryan urung mencerminkan pemerataan pertumbuhan ekonomi.
"Ini harus menjadi perhatian. Ini artinya Pulau Jawa dan Sumatera memiliki dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang lebih baik," kata dia.
"Patut untuk dicermati sehingga ke depan daerah-daerah yang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) di bawah PDB nasional perlu menjadi perhatian," tambah Ryan.
Diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2022 berada di level 5,44% (year on year/yoy). Angka pertumbuhan itu dinilai cukup impresif lantaran terjadi di tengah gejolak perekonomian dan geopolitik dunia.
Ryan menyatakan, hal yang paling mengesankan pada capaian pertumbuhan ekonomi nasional itu ialah pergerakan dari sisi lapangan usaha maupun pengeluaran. Keduanya mencatatkan pertumbuhan positif.
Namun hal itu dinilai tak lepas dari pelonggaran mobilitas masyarakat yang diberikan pemerintah. Belum lagi pada triwulan II terdapat momen Ramadan dan Idulfitri yang menjadi pemicu bergeliatnya perekonomian.
"Alhasil konsumsi rumah tangga domestik melonjak, konsumsi makanan, minuman dan transportasi serta komunikasi juga melonjak," kata Ryan.
Hal lain yang juga menjadi catatan positif ialah laju pertumbuhan yang menunjukkan tren peningkatan secara triwulanan. Dimulai dari triwulan III 2021, ekonomi nasional tercatat tumbuh 3,51% (yoy). Kemudian naik di triwulan IV 2021 menjadi 5,02%. Sedangkan di triwulan I 2022, ekonomi nasional tercatat tumbuh 5,01% (yoy).
"Dengan demikian arah atau pola pertumbuhan tahunan dari kuartal ke kuartal berikutnya sudah menuju ke kondisi sebelum pandemi covid-19 di mana PDB tahunan selalu di atas 5%," pungkasnya. (OL-8)
Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi yang masih tertekan, namun menunjukkan ketahanan yang relatif solid.
GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan berdasar kajian kondisi perekonomian sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,7%-5,5%.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,0% pada 2025 dan 5,1% pada 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved