Jumat 13 Mei 2022, 14:37 WIB

Pemerintah Akui Harga Minyak Goreng hingga Daging Sapi masih Tinggi

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Pemerintah Akui Harga Minyak Goreng hingga Daging Sapi masih Tinggi

ANTARA/Kornelis Kaha
Petugas mengisi minyak goreng curah kedalam jerIken milik warga di pasar tradisional Naikoten Kota Kupang, NTT, Rabu (11/5/2022)

 

HARGA bahan pangan pokok, seperti minyak goreng, bawang merah hingga daging sapi masih terpantau tinggi hingga awal Mei ini.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah berupaya melakukan pendekatan agar bisa mengelola harga pangan terjaga dengan baik di tengah tingginya harga global, seperti minyak goreng.

"Kita lihat harga minyak goreng curah saat ini year to date itu negatif 4%. Ini harus kita jaga, terutama kita pastikan daya beli masyarakat miskin dan rentan terus kita kelola dengan baik," ujarnya dalam Media Briefing secara virtual, Jumat (13/5).

Dalam data yang dipaparkan Febrio, harga minyak goreng kemasan masih tinggi hingga menembus level Rp26 ribu per liter sampai Mei ini. Berbeda dengan harga minyak goreng curah yang berangsur menurun di level Rp18 ribu-Rp20 ribu per liter, seiring dengan kebijakan harga eceran tertinggi (HET).

Harga bahan pangan lainnya yang masih meningkat ialah bawang merah karena menipisnya stok. Harga stok pangan itu menembus Rp37 ribu per kilogram sampai Mei ini dengan pertumbuhan year to date (ytd) 32,9%.

"Bawang putih itu relatif terjaga, namun bawang merah itu cukup tinggi. Sementara harga gula relatif terjaga," ungkap Febrio.

Baca juga: Harga Minyak Goreng Curah di Kota Depok Naik Lagi

Kemudian, harga daging sapi juga dilaporkan masih meningkat karena stok yang menipis di tengah momentum Ramadan dan Lebaran yang mana menjadi incaran masyarakat.

Mulai dari Januari hingga Maret 2022, harga pangan itu terlihat stabil di kisaran Rp125 ribu-Rp130 ribu per kg. Lalu, pada April hingga Mei, melonjak menjadi Rp135 ribu-Rp144 ribu per kg.

"Daging sapi cukup tinggi terutama saat konteks Ramadan dan Idulfitri. mudah-mudahan ke depan makin bisa dikelola dengan baik," ucap Febrio.

Ia menambahkan, untuk harga cabai merah dan cabai rawit masih relatif terjaga. Pertumbuhan cabai rawit secara year to date disebutkan lebih rendah.

Selanjutnya, harga beras juga dianggap stabil dan bisa dikendalikan pemerintah. Febrio menyinggung, Hal ini akibat curah hujan dalam dua tahun terakhir di Indonesia masih tinggi.

"Sehingga, harga beras bisa kita jaga dengan sangat terkendali. Share beras dalam IHK (indeks harga konsumen kita termasuk paling tinggi dengan 3,33%," pungkas Febrio.

BKF menyimpulkan kenaikan harga pangan nasional tidak lepas dari dinamika global imbas konflik Rusia-Ukraina. Banyak negara, kata Febrio yang mengalami inflasi, terlebih ada disrupsi suplai selama dua tahun selama pandemi covid-19. (A-2)

Baca Juga

Antara

Ekspor CPO Dibuka, Harga TBS Petani Masih Rendah

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:58 WIB
Meski ada kenaikan harga TBS sawit di beberapa daerah, namun relatif masih kecil. Kalangan petani pun meminta pemerintah membuat kebijakan...
Antara

Target Pertumbuhan 2023 Dinilai Terlalu Optimistis

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:50 WIB
Pemerintah dinilai terlalu optimis dalam menargetkan angka pertumbuhan ekonomi 2023 yang berada di kisaran 5,3% hingga...
Antara

SBN Indonesia Masih Menarik Bagi Investor Asing dan Domestik

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:41 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan tingkat imbal surat utang negara AS US Treasury (UST) diproyeksikan bisa mencapai 3,45%...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya