Senin 11 April 2022, 09:44 WIB

Bank Sentral India Mulai Kurangi Kelebihan Likuiditas

 Fetry Wuryasti | Ekonomi
Bank Sentral India Mulai Kurangi Kelebihan Likuiditas

Punit PARANJPE / AFP
Pegawai Bank Punjab National membawa poster saat protes terhadap kebijakan perbankan dari pemerintah India di Mumbai, India.

 

BANK Sentral India pada pertemuan bank dewan gubernur mengatakan siap untuk menggeser fokus kebijakan. Mereka ingin mengurangi kelebihan likuiditas dalam sistem perbankan dan menaikkan proyeksi inflasi. Artinya mereka akan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi.

Bank Sentral India juga kemarin tidak menaikkan tingkat suku bunga. Mereka memilih untuk mempertahankan tingkat suku bunga dan bersikap akomodatif.

"Namun fokus mereka sekarang adalah mengurangi stimulus untuk memastikan bahwa inflasi masih berjalan sesuai dengan target, diiringi dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin (11/4).

Gubernur Bank Sentral India, Shaktikanta Das juga memberikan Informasi mengenai tools baru yang akan memungkinkan otoritas moneter dapat menyerap kelebihan uang tunai dalam sistem perbankan, dengan mempersempit koridor tingkat suku bunga.

Baca juga: Harga Pangan Dunia Capai Rekor Tertinggi akibat Perang Rusia-Ukraina

Alhasil karena keputusan itu, bank sentral India akhirnya melanggar janji untuk menjaga kebijakan moneter untuk tetap longgar selama diperlukan sejak tahun 2019. Namun meski tools tersebut hadir, hal ini akan tetap dikombinasikan dengan upaya untuk memperketat likuiditas.

"Sehingga menurut kami, mereka melakukan pengetatan kebijakan moneter, namun memastikan bahwa likuiditas tetap terjaga supaya pertumbuhan tetap ada sekalipun kebijakan moneter diperketat," kata Nico.

Bank Sentral India juga telah melakukan normalisasi secara efektif agar pengetatan moneter mendapatkan soft landing dalam beberapa bulan mendatang. Imbal hasil obligasi 10y India langsung meningkat menjadi 7,2%, lebih tinggi dari imbal hasil obligasi Indonesia. Angka ini tembus untuk pertama kalinya sejak 2019 silam.

"Bank Sentral India tampaknya ingin mempertahankan kebijakannya, namun juga ingin fokus terhadap pengurangan stimulus. Sehingga kami melihat ada potensi pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan tingkat suku bunga, tapi tahun depan bukan di tahun ini," kata Nico.

India harus melakukan ini secara perlahan apabila ingin melakukan pengetatan moneter agar mereka bisa melakukan kebijakan ini dengan benar. Pemulihan ekonomi di India sebetulnya bukan tanpa tantangan.

Sebab perang antara Rusia dengan Ukraina, telah mengakibatkan lockdown di Tiongkok, yang memberikan tekanan terhadap harga gas. Das melihat perekonomian global sedang menghadapi pergeseran tektonik dari perang menjadi volatilitas yang ekstrem di pasar komoditas dan keuangan.

Das mengatakan ada berbagai macam hambatan. Oleh karena itu dibutuhkan kehati-hatian dalam mengurangi stimulus namun tetap proaktif terhadap mengurangi dampak terhadap pertumbuhan, inflasi, dan kondisi keuangan di India.

"Sejauh yang kami pernah ketahui, di dunia saat ini sedang melakukan pengetatan kebijakan moneter terbesar sejak 1990. Apabila ada sebuah perbedaan, tentu saja akan menyebabkan divergensi kebijakan," kata Nico.

Apalagi The Fed juga akan terus melakukan menaikkan tingkat suku bunga, yang akan membuat stimulus di seluruh dunia akan berkurang untuk menjaga stabilitas pasar.

Pembuat kebijakan di seluruh dunia, juga tengah terfokus untuk memerangi inflasi ketika pemulihan ekonomi tersebut terjadi.

"Namun kami melihat bahwa tidak semua negara mungkin merasakan hal yang sama terhadap inflasi dan pengetatan kebijakan moneter," kata Nico

Sebagian diantaranya mungkin masih dalam situasi dan kondisi struggling karena inflasi yang tidak kunjung naik, dan pemulihan ekonomi yang mungkin juga tidak berjalan dengan baik.

Sejauh ini dari Bank Sentral India juga terlihat bahwa mereka hanya menyediakan tools baru untuk menyerap kelebihan uang tunai sebesar 3,75% namun mereka tidak harus memberikan jaminan sebagai gantinya.

Mekanisme baru ini pertama kali diusulkan pada tahun 2014 untuk membentuk koridor tingkat suku bunga yang pada dasarnya mendorong kenaikkan tingkat suku bunga overnight tanpa pengetatan kebijakan secara langsung.

Bank Sentral India akan mulai menaikkan proyeksi inflasi menjadi 5,7% untuk tahun fiskal yang dimulai pada 1 April naik dari sebelumnya 4,5% pada bulan Februari.

Bank Sentral India juga melihat pertumbuhan ekonomi akan tumbuh sebesar 7,2% turun dari sebelumnya 7,8%. Saat ini Bank Sentral India tengah menempatkan inflasi di atas pertumbuhan untuk membantu mengejar proyeksi inflasi sembari menjaga pertumbuhan tetap berjalan. (Try/OL-09)

Baca Juga

DOK MAJ

The MAJ Residences Bekasi Kebut Progres Pembangunan

👤Widhoroso 🕔Jumat 01 Juli 2022, 18:16 WIB
DINAMIKA pasar properti di Kota Bekasi, Jawa Barat makin bergairah seiring dengan meningkatnya tren properti yang terus tumbuh ke arah...
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang

CSIS: Presidensi G20 Indonesia dapat Benahi Rantai Pasokan Pangan

👤Mediaindonesia 🕔Jumat 01 Juli 2022, 18:08 WIB
Presidensi G20 yang dipegang Indonesia dapat berperan untuk membenahi rantai pasokan pangan...
ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA

PLN Terima Pembayaran Kompensasi Anggaran Listrik 2021 senilai Rp24,6 Triliun

👤 Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 01 Juli 2022, 18:07 WIB
"Kompensasi anggaran 2021 sudah dibayar seluruhnya, lunas dalam waktu yang cepat. Ini adalah rekor, kami juga terkejut dengan dukungan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya