Kamis 17 Februari 2022, 22:29 WIB

Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi Perlu Ditopang Peningkatan Produktivitas 

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi Perlu Ditopang Peningkatan Produktivitas 

Antara/Aditya Pradana Putra
Pekerja merakit sepeda motor

 

FORUM pertemuan G20 yang berlangsung di Jakarta membahas berbagai upaya untuk memitigasi dan meminimalkan efek memar atau scarring effect dari pandemi Covid-19, yang berpotensi dialami oleh sejumlah negara, khususnya negara berkembang. 

Profesor dari Cornell University di AS Iwan Jaya Azis mengatakan penting bagi para pembuat kebijakan untuk meningkatkan produktivitas dari sektor industri yang melibatkan masyarakat, seperti UMKM dan manufaktur. Apabila langkah ini tidak dilakukan, maka pertumbuhan ekonomi suatu negara yang terjadi tidak akan berlanjut. 

"Jangan sampai pertumbuhan ekonomi tinggi tapi produktivitas rendah. Saya jamin kalau itu terjadi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan keberlanjutan," kata Iwan, dalam Side Event G20 bertajuk Scarring Effect in Real Sector, Kamis (17/2). 

Selama ini, pertumbuhan produktivitas sebenarnya telah mulai menurun dari sebelum pandemi Covid-19 menyerang, hal itu dapat dilihat dari berbagai masalah yang timbul seperti ketimpangan, kemiskinan, hingga perubahan iklim, yang kemudian diperparah dengan masuknya pandemi Covid-19 beserta krisis energi. 

"Pertumbuhan ekonomi suatu daerah, suatu negara bisa saja tinggi, tetapi memiliki kualitas lingkungan dan ketimpangan ekonomi yang memburuk," kata Iwan. 

Ketika pandemi semakin memukul produktivitas, maka mempengaruhi tingkat output potensial yang seharusnya bisa dicapai. Sebab komponen input terpukul seperti depresiasi modal aset dan tenaga kerja karena kualitas pendidikan yang terganggu secara jangka panjang, sebagai akibat tidak meratanya akses teknologi internet. 

Baca juga : Dana Subsidi Dunia US$1,8 Triliun Hancurkan Alam

Selain komponen nutrisi selama Covid-19 pada manusia yang turun pun pada akhirnya akan berpengaruh ke kualitas tenaga kerja. 

"Dampak jangka panjang atau scarring effects ini yang banyak diamati oleh peneliti," kata Iwan. 

Pemulihan yang terjadi bila para pembuat kebijakan tidak memfokuskan produktivitas, adalah pemulihan hanya akan terjadi pada tingkat agregat makro. Kekhawatirannya, kemungkinan berpotensi menimbulkan ketimpangan karena pemulihan tidak merata. 

Komponen yang tidak pulih yang menjadi memar, dengan keadaan yang berlangsung permanen, seperti keyakinan bahwa Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Sehingga, banyak dunia sudah mulai mempersiapkan untuk hidup dengan Covid-19. 

Kedua, hysteresis atau gejala perpanjangan dari masa lalu yang berlangsung terus baik pada sektor perdagangan barang, tenaga kerja, dan pasar keuangan. Dampaknya, akan banyak dari sisi ekonom yang sebelumnya mengatakan gejala siklus bisnis siklus tidak berdampak jangka panjang, namun akibat pandemi, siklus bisnis, seperti harga komoditas, krisis energi dan sebagainya, maka akan berdampak sangat panjang. 

Ketiga, efek kepada manusia, yang sering terlupakan di belakang naik turunnya kegiatan riil dan keuangan. Krisi pandemi menabrak langsun, membuat masyarakat di dunia menghadapi kekhawatiran kolektif, mengenai kesehatan, kehilangan pekerjaan, pendapatan yang turun, hingga tidak bisa menyekolahkan anak. 

Studi yang menunjukan adanya bukti permanent believe, dimana masyarakat percaya bahwa pandemi ini mungkin berakhir tapi mungkin akan ada pandemi lagi. Ini mengubah perilaku antisipasi masyarakat. 

"Karena pada akhirnya kebijakan hanya menciptakan insentif dan disinsentif. Tetapi pada akhirnya yang diperlukan agen ekonomi yang akan merespon insentif dan disinsentif. Kebijakan hanya membangun suasana. Pada akhirnya yang menentukan pertumbuhan adalah reaksi masyarakat sebagai pelaku ekonomi yang tindakannya didasari keyakinan masing-masing," kata Iwan. 

Maka untuk menghadapi masalah tersebut, altenatifnya yaitu meningkatkan produktivitas sektor-sektor yang tingkat produktif rendah tapi punya potensi untuk semakin tinggi. 

"Jawabannya UMKM, yang bukan hanya sekadar sektor yang harus dibantu slema pandemi, tapi ini strategi jangka panjang untuk menghadapi dampak jangka panjang dari scarring," kata Iwan. (OL-7)

Baca Juga

dok.ist

Pangdam XIV: TNI Jamin Stabilitas Keamanan Obvitnas dan PSN Smelter Nikel CNI Group

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 09:25 WIB
SETIAP ada Obvitnas dan PSN, secara tidak langsung itu merupakan tugas TNI untuk menjamin stabilitas keamanannya, demi kemaslahatan orang...
ANTARA FOTO/Reno Esnir

Indonesia-Brunei Darussalam akan Tingkatkan Kapasitas SDM Parekraf

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 09:18 WIB
Sandiaga Uno melakukan penjajakan kerja sama peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf)...
dok.Ant

Pemerintah Tawarkan Sukuk ritel SR017 Dengan Kupon tetap 5,9 persen

👤Muhammad Fauzi 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 08:23 WIB
PEMERINTAH menawarkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk ritel seri SR017 kepada investor individu secara daring atau online...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya