Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH negara maju bersiap dengan kenaikan suku bunga bank sentralnya, beberapa investor asing tampaknya mulai menghindari obligasi pemerintah di kawasan Asia dan mencoba mencari obligasi dari negara berkembang kawasan lainnya.
"Pelaku pasar dan investor melihat bahwa tampaknya kawasan Asia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Selasa (8/2).
"Berbeda dengan kawasan Amerika Latin yang justru lebih banyak bergerak head of the curve untuk menciptakan risk premium agar ada ruang antara tingkat suku bunga negara maju dan berkembang," kat Nico.
Saat ini bagi pelaku pasar dan investor asing berharap negara-negara di EMEA atau Eropa, Timur Tengah, dan Afrika untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter terlebih dahulu sebelum Asia.
Alasannya, harga obligasi pemerintah di kawasan Asia mengalami penurunan paling dalam di antara negara-negara berkembang, bahkan sebelum tingkat suku bunga dinaikkan.
Baca juga: Akhir Tahun Saham Asia Lesu Dibayangi Penyebaran Omikron
Apalagi kawasan Amerika Latin dan Eropa justru memberikan pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat daripada wilayah Asia, yang cenderung lebih mempertahankan kebijakan moneter.
Bahkan Tiongkok melonggarkan kebijakanny pada bulan Januari kemarin.
Pasar mengkhawatirkan kemampuan negara-negara berkembang untuk menjaga risk premiumnya dengan tingkat Fed Fund Rate, di saat The Fed mulai menaikan tingkat suku bunga.
Sebab apabila mereka tidak menjaga risk premium dengan baik, ada kemungkinan capital outflow akan cenderung kembali keluar dari negara Asia dan kembali ke negara asalnya.
"Kami melihat yang efektif adalah bahwa setiap negara, menjaga risk premiumnya agar mampu untuk menjaga stabilitas pergerakan pasar," kata Nico.
Ada kemungkinan berbagai Bank Sentral di wilayah Asia akan mulai menaikan tingkat suku bunganya pada kuartal III 2022 tahun ini. Namun Brasil sudah menaikan tingkat suku bunga sebanyak 8,75%.
Kenaikan suku bunga bank sentral Brasil telah dimulai sejak Maret 2021 dan terus naik hingga saat ini berada di 10,75% dari sebelumnya 2%.
Namun ada kemungkinan bagi Brasil setelah terjadi kenaikan tingkat suku bunga negara maju nanti, mereka akan kembali turun menyesuaikan pada kuartal I 2023.
Pada negara-negara seperti Rusia, Republik Ceko, Brasil, dan Chili diperkirakan pengetatan justru akan berhenti pada semester pertama tahun ini. Mereka terlihat lebih bersiap untuk menghadapi kenaikan tingkat suku bunga.
Sedangkan Indonesia dan Malaysia masih mempertahankan tingkat suku bunganya. Di lain sisi, negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Pakistan, dan Srilanka telah menaikan tingkat suku bunga.
Tentu hal ini menjadi ujian bagi stabilitas pasar di kawasan tersebut. Sejauh ini fundamen ekonomi Indonesia yang kuat diharapkan mampu dapat menahan gelombang kenaikan Fed Fund Rate, yang diharapkan setiap tingkat kenaikan FFR merupakan 1:1 dengan kenaikkan tingkat suku bunga Bank Indonesia.
"Tidak lagi seperti dahulu yang perbandingannya terlihat jauh. Permasalahan dari tingkat suku bunga adalah, ketika para regulator menaikan tingkat suku bunga mereka, otomatis akan mendorong imbal hasil juga naik. Akibatnya harga mengalami penurunan," kata Nico.
Hal ini membuat pasar di kawasan Amerika Latin, dan EMEA menjadi terlihat menarik, dibandingkan obligasi kawasan Asia yang kenaikan imbal hasil obligasinya masih tertahan, meskipun sebelumnya hanya menunggu waktu hingga imbal hasil obligasi menemukan titik keseimbangan baru.
Hal ini membuat para pelaku pasar dan investor lebih menyukai obligasi di kawasan Amerika Latin dan EMEA karena harganya yang turun lebih dalam, karena adanya kenaikan tingkat suku bunga sehingga memberikan imbal hasil yang lebih menarik, serta dianggap mampu menjaga stabilitas pasar tatkala volatilitas meningkat akibat kenaikan tingkat Fed Fund Rate nantinya.
"Selain pasar obligasi,pasar saham juga akan merasakan dampak terdalam dari kenaikan tingkat suku bunga nantinya," ucapnya.
"Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa seberapa cepat dan seberapa banyak tingkat suku bunga dinaikkan akan menjadi penentu kemana pasar akan bergerak," kata Nico. (Try/OL-09)
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta pada akhir 2025, hanya 5% dari total penduduk Indonesia.
PRESIDEN Prabowo Subianto bertemu dengan petinggi perusahaan global di Amerika Serikat, Jumat (20/2) waktu setempat. Dalam pertemuan itu Indonesia memperkuat sistem investasi
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan pimpinan dari 12 perusahaan investasi terbesar dunia dalam upaya memperkuat kemitraan strategis, dalam pertemuan yang berlangsung di Washington DC.
Agenda utama pertemuan adalah pembahasan pengembangan, hilirisasi, serta potensi ekspor komoditas kakao Papua ke pasar global.
Konten dari Jepang, Korea, dan India kini telah bertransformasi menjadi kekuatan budaya yang signifikan dalam hiburan global.
Daya tarik utama Gerbang Handara adalah kesempatan untuk mengabadikan momen di depan gerbang yang menawan.
Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga, bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan.
Zhao Zhena, perwakilan Miss China di Miss Universe 2025, menjadi salah satu kontestan yang paling banyak diperbincangkan tahun ini.
Seni batas tektonik yang memisahkan Afrika dan Asia sepertinya berjarak semakin jauh. Celah di dekat perbatasan kedua benua ini perlahan-lahan menjauh satu sama lain.
PAMERAN dagang B2B di sektor konsumen yang menghubungkan pemasok global dengan pembeli Asia, CSE Asia, kembali digelar pada 6-8 November 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved