Selasa 08 Februari 2022, 12:32 WIB

Kenaikan Harga Pupuk Berdampak Pada Produktivitas Kelapa Sawit

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Kenaikan Harga Pupuk Berdampak Pada Produktivitas Kelapa Sawit

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Ilustrasi

 

Kenaikan harga pupuk, seperti kenaikan harga pupuk berbasis nitrogen dan fosfat yang banyak dikonsumsi petani sawit sebesar 50-80 persen pada pertengahan 2021, berdampak pada menurunnya produktivitas kelapa sawit Indonesia.

"Kenaikan harga pupuk yang merupakan salah satu komponen utama produktivitas kelapa sawit berdampak signifikan pada produktivitas, yang sebelum kenaikan harga pupuk memang sudah terbilang stagnan," terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nisrina Nafisah, Selasa (8/2).

Ia menambahkan, pupuk adalah komponen utama dalam produksi minyak sawit karena berkontribusi sekitar 30-35 persen dari total biaya produksi. Harga pupuk yang mahal akan menambah biaya produksi dan mendorong petani kecil menggunakan lebih sedikit pupuk dan ini akan berakibat pada berkurangnya produktivitas dan produksi.

"Padahal petani kecil berkontribusi hingga 34 persen dari produksi minyak sawit Indonesia," kata Nisrina.

Selain itu, produktivitas kelapa sawit juga menghadapi masalah jangka panjang lainnya seperti kurangnya penanaman kembali, yang akan menyebabkan pertumbuhan output yang lebih lemah.

Pandemi Covid-19 juga menambah disrupsi pada produksi kelapa sawit dunia. Kekurangan tenaga kerja di Malaysia, negara penghasil sawit terbesar kedua selain Indonesia, akibat kebijakan karantina wilayah atau lockdown Covid-19, telah menurunkan kapasitas produksi kelapa sawit Indonesia.

"Cuaca buruk yang menyebabkan banjir di perkebunan kelapa sawit juga mengganggu produktivitas dan kegiatan bercocok tanam," imbuhnya.

Kelangkaan pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga turut berkontribusi pada tingginya harga minyak goreng di Indonesia. Minyak goreng di Indonesia, umumnya dihasilkan dari CPO yang harga domestiknya berkorelasi langsung dengan harga CPO internasional.

Sepanjang 2021, harga CPO internasional naik sebesar 36,3 persen dibandingkan 2020. Hingga Januari 2022, harga sudah mencapai Rp15.000 per kilogram. "Tingginya harga tersebut disebabkan oleh kekurangan pasokan di tengah meningkatnya permintaan di banyak bagian dunia karena ekonomi pulih dari gelombang kedua Covid-19," jelas Nisrina.

Tingginya harga minyak goreng di Indonesia menjadi sorotan sejak kuartal IV 2021 hingga awal kuartal I 2022. Data CIPS mencatat kenaikan harga sebesar 56 persen di Rp 20.667/liter pada Desember 2021.

Harga minyak goreng tetap mahal walaupun sudah turun sejak Januari 2022 menjadi Rp 19.555. Harga ini masih 46,2 persen lebih tinggi dari harga Januari 2021.

Selain menurunnya produktivitas perkebunan kelapa sawit, meningkatnya permintaan global akan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit juga mengurangi pasokan CPO untuk produksi minyak goreng. "Karena Indonesia termasuk ke dalam negara-negara yang telah menerapkan program biodiesel yang mewajibkan pencampuran solar dengan biofuel," kata Nisrina. (OL-12)

 

Baca Juga

Antara

Ekonomi Global Melambat, Sektor Industri Tetap Ekspansif

👤Ficky Ramadhan 🕔Kamis 01 Desember 2022, 23:50 WIB
Menurut S&P Global, sektor manufaktur Indonesia tercatat selalu konsisten di atas tanda dan tidak ada perubahan, yakni...
MI/Seno

Airlangga Beberkan Alasan Serapan Daerah Rendah Tahun Ini

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 01 Desember 2022, 23:39 WIB
Sedianya, pada tahun ini, ada banyak pengeluaran yang ditujukan untuk penanganan covid-19. Namun pada kenyataannya, pandemi...
Dok. Itama Ranoraya

Ganti Logo, Itama Ranoraya Bertekad Terus Tingkatkan Kinerja

👤Mediandonesia.com 🕔Kamis 01 Desember 2022, 23:36 WIB
“Pergantian logo dilakukan dengan tujuan memacu semangat dan gairah baru seluruh insan perusahaan berlari bersama-sama untuk mencapai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya