Kamis 27 Januari 2022, 21:46 WIB

OJK Ingatkan untuk Jangan Terlena Kinerja Jasa Keuangan Saat ini

Fetry Wuryasti | Ekonomi
OJK Ingatkan untuk Jangan Terlena Kinerja Jasa Keuangan Saat ini

Antara
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

 

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan semua pihak untuk tidak terlena akan kinerja positif sektor jasa keuangan 2021. Sebab pada 2022 dan selanjutnya masih banyak tantangan ekonomi yang harus diwaspadai.

Beberapa hal yang harus diwaspadai antara lain tantangan pemulihan ekonomi di negara-negara maju yang mempunyai dampak rentetan kepada ekonomi Indonesia melalui transmisi suku bunga acuan, transmisi nilai tukar, dan transmisi kenaikan imbal hasil obligasi (yield).

"Itu semua harus kita waspadai. Itu semua harus diantisipasi dengan kebijakan kita ke depan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dalam paparan di MGN Summit 2022, Kamis (27/1).

Di samping juga terdapat tantangan lain seperti, merebaknya virus Covid-19 varian omikron yang tidak boleh dianggap enteng, inflasi global, dan juga gangguan rantai pasok, hingga agenda perubahan iklim.

Khusus di sektor keuangan, ada lima hal yang menjadi fokus OJK di 2022. Pertama, sektor keuangan akan diarahkan untuk memberikan perhatian ke sektor-sektor prioritas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Prioritas ini harus sejalan dengan agenda ekonomi hijau ke depan. 

"OJK akan melanjutkan dari hulu ke hilir stimulus dengan berbagai kebijakan, terutama bobot risiko yang lebih rendah untuk kredit kendaraan berbasis baterai, yang sementara ini hanya ATMR (bobot risiko) lebih murah 25% dibandingkan kredit kendaraan biasa. Kami juga akan melanjutkan stimulus di sektor properti yang akan diperluas mulai hulu sampai hilir," kata Wimboh.


Kedua, OJK juga akan meminta sektor jasa keuangan agar tahan menghadapi berbagai dampak akibat normalisasi kebijakan di negara maju. Di antaranya sektor jasa keuangan harus memiliki ketahanan permodalan yang kuat, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang lebih cepat, juga menjaga likuiditas supaya dalam dan tidak segmented.
"Akan kami lakukan dengan melakukan berbagai tools pengawasan dan tools kebijakan yang OJK miliki," kata Wimboh.

Ketiga, bagaimana mendukung program ekonomi berkelanjutan terutama dalam penciptaan ekonomi baru (new economy) dan lebih fokus kepada ekonomi hijau. Kemarin OJK sudah diluncurkan Taksonomi Hijau sebagai basis bukan hanya untuk OJK melainkan juga untuk seluruh pemangku kepentingan, bahwa sektor-sektor tersebut yang harus didukung untuk maju dan bangkit.

"Kami menyambut baik ground breaking pengolahan batu bara menjadi gas oleh PTBA, yang kami perkirakan akan menyerap tenaga kerja 11 ribu tenaga kerja, dan menghemat impor gas. Kami akan mendukung dampak rentetan berkaitan dengan proyek ini. Karna kredit komersial juga akan meningkat, membuat ruang bagi perbankan dan lembaga keuangan untuk ikut mendukung," kata Wimboh.

OJK bersama pemerintah juga sedang menyiapkan bursa karbon. Pada waktunya nanti bursa karbon akan bisa membuat potensi kredit karbon paling besar di Indonesia, sehingga diharapkan akan ditransaksikan di Indonesia. "Ini diharapkan bisa mendukung percepatan penurunan emisi karbon," kata Wimboh.

Keempat OJK juga akan terus memperluas akses pada UMKM, dengan mengejar mencapai target 30% agregat 2024 untuk perbankan memberikan porsi pembiayaan kepada UMKM.

Kelima, OJK akan mempercepat transformasi digital di sektor jasa keuangan, menyasar level mikro. Sehingga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) akan diinovasikan untuk bisa mentransformasikan bisnisnya ke produk jasa keuangan secara digital.
Wimboh sampaikan pada saat ini, kondisi sektor jasa keuangan stabil dengan indikator kredit perbankan tumbuh 5,24% selama 2021 dari -2,41% pada 2020.

OJK masih punya agenda besar bagaimana restrukturisasi kredit di masa Covid-19 bisa diselesaikan turun dari Rp1000 triliun sekarang kini telah menjadi Rp663,49 triliun terhadap 4 juta debitur. OJK telah meminta perbankan secara gradual membentuk CKPN, yang saat ini sudah dibentuk Rp106,2 triliun atau 16%.

"Kami yakin dengan perbaikan ekonomi ke depan dengan Rp663,49 triliun dalam masa restrukturisasi, akan menjadi baik meski tidak 100%. Sehingga ketika kebijakan restrukturisasi dinormalkan, maka tidak akan mengganggu balance sheet perbankan," kata Wimboh.

Perbankan juga memiliki bantalan permodalan yang kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,67%, dan Wimboh nilai ini cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit ke depan. Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di 2021, tumbuh 12,21%.

Sektor industri keuangan nonbank (IKNB) juga memiliki bantalan yang cukup tinggi, yaitu 539,8% di perusahaan asuransi jiwa dan asuransi umum 327,3%, jauh di atas threshold yang 120%. Gearing ratio di perusahaan pembiayaan juga turun menjadi 1,98 kali, dari dari ambang maksimumnya adalah 10 kali.

"Ini menunjukan kita mempunyai buffer yang cukup dan dengan perbaikan ekonomi maka bisnis perusahaan-perusahaan akan berkembang. Kami akan memperbaiki para debitur sejalan dengan perbaikan ekonomi. Kami harapkan mereka memiliki kemampuan untuk mengangsur ke depan," pungkasnya. (OL-8)

Baca Juga

MI/Permana Pandega

Teten : Kopi Jadi Komoditas Unggulan, 96% Perkebunan Dikuasai Petani

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 16:45 WIB
"Kopi dan rempah adalah komoditas unggulan negara kita yang harus dikelola baik. Harus dikuasai inovasi teknologinya, punya nilai...
ANTARA

Blusukan, Presiden Temukan Harga Minyak Goreng Sudah Rp14 Ribu/liter

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 15:30 WIB
Setibanya di Pasar Muntilan, Jokowi langsung menanyakan harga komoditas pangan...
Ist/Kementan

Pastikan Lalu Lintas Sapi Antar Area Aman, Mentan Turun Langsung

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 14:39 WIB
Mentan Syahrul Yasin Limpo secara langsung memastikan lalu lintas sapi antar area berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya