Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
Pada akhirnya harga minyak kembali berjalan lebih tinggi daripada yang diperkirakan. Pasalnya, ternyata pasokan global jauh lebih tipis daripada yang diperkirakan, di tengah meredanya kekhawatiran atas gangguan pemulihan ekonomi oleh Omikron terhadap permintaan global.
Untuk pertama kalinya, harga minyak Brent berada di level US$80 per barel sejak bulan November 2021, begitupun juga dengan WTI.
Meningkatnya mobilitas dan aktivitas pabrik di negara konsumen utama Asia dan berkurangnya persediaan minyak mentah di Amerika telah mendorong harga minyak konsisten untuk bergerak mengalami kenaikan.
"Dengan permintaan masih tertahan akibat maju dan mundurnya Omikron, akhirnya sesuai dengan proyeksi kami dan consensus, OPEC+ setuju untuk melakukan peningkatan produksi sebesar 400.000 barel per hari yang akan dilakukan pada bulan Februari mendatang," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (5/1).
Karena OPEC+ setuju untuk menaikan permintaan produksi, harga juga menjadi jauh lebih tinggi karena mereka yakin prospek permintaan minyak mentah global tidak akan terganggu dengan kehadiran Omikron.
OPEC+ melihat bahwa penawaran dan permintaan secara keseluruhan terlihat lebih baik saat ini. Tantangan terbesar selanjutnya adalah, apakah bisa para produsen untuk mendorong meningkatkan produksi, karena beberapa produsen berpotensi mengalami kesulitan ketika mendorong produksinya untuk mengalami kenaikan, contohnya Nigeria dan Angola.
Sejauh ini, penyebaran Omikron yang begitu pesat, tidak membuat permintaan minyak berkurang. Komite Teknis OPEC+ melihat bahwa minyak akan mencatatkan surplus sebesar 1,4 juta barel per hari dalam 3 bulan pertama pada tahun 2022, atau 25% lebih rendah dari proyeksi bulan lalu.
Namun tentu kita harus mengapresiasi bahwa OPEC+ pada akhirnya yakin untuk tetap berusaha memegang teguh rencananya secara bertahap untuk memulihkan produksi yang dimana sebelumnya terhenti karena pandemi.
Konsumsi bahan bakar sejauh ini terus mengalami pemulihan sejak 2020 silam. Sejauh ini OPEC+ telah mendorong kembali 2/3 dari produksi mereka yang sebelumnya mereka hentikan pada tahap awal pandemi.
Mereka berusaha untuk menjaga keseimbangan pasar, antara penawaran dan permintaan guna menjaga harga minyak yang lebih stabil tanpa harus mendorong harga minyak mengalami penurunan kembali.
Meski demikian, sekalipun produksi ditingkatkan, namun mungkin tidak akan menyentuh 400.000, mungkin setengahnya atau bahkan mungkin lebih sedikit daripada yang diproyeksikan.
Namun apapun itu, stabilnya harga minyak akan memberi salah satu dampak positif, bahwa ada kemungkinan harga minyak di pasar akan turun, sekalipun inflasi akan meningkat seiring dengan konsistennya pembukaan perekonomian dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
"Meskipun Tiongkok mengalami tanda tanda perlambatan permintaan, namun kami yakin bahwa mereka akan segera pulih," kata Nico. (OL-12)
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Jumat setelah meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah.
KEPALA Ekonom Josua Pardede menilai penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat lonjakan harga minyak
Beras premium kelas I yang sebelumnya Rp14.400 per kg menjadi Rp15.200 per kg dan beras premium kelas II naik dari Rp 14 ribu kg menjadi Rp14.800 per kg
Indeks saham Asia-Pasifik jatuh di tengah eskalasi perang AS-Israel dengan Iran. Penutupan Selat Hormuz picu kekhawatiran krisis energi global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, ekonomi Indonesia diyakini masih memilki ketahanan meski terjadi eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel
Memasuki pekan kedua Ramadan 1447 H, harga telur, cabai, dan bawang di Kota Sukabumi mulai turun. Simak daftar harga pangan terbaru dan stok bapokting di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved