Jumat 15 Oktober 2021, 14:12 WIB

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 17 Bulan Berturut-Turut

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 17 Bulan Berturut-Turut

Antara
Suasana aktivitas bongkar muatan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/6).

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$4,37 miliar pada September 2021 dengan nilai ekspor mencapai US$20,60 miliar dan impor US$16,23 miliar. Angka ini pun membuat Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 17 bulan berturut-turut.

"Hal ini membuat neraca perdagangan Indonesia selama 17 bulan beruntun membukukan surplus," ungkap Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers secara daring, Jumat (15/10).

Dia merinci, komoditi nonmigas penyumbang surplus terbesar ialah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja. Sedangkan, negara yang memberikan andil terhadap surplus terbesar yaitu Amerika Serikat, India, dan Filipina.

Margo menambahkan, neraca perdagangan dengan AS mengalami surplus US$1,5 miliar dengan komoditas surplus terbesar yakni pakaian dan aksesorinya.

Kemudian, perdagangan dengan India juga mengalami surplus sebesar US$718,6 juta dengan komoditas utama bahan bakar mineral dan lemak minyak hewan atau nabati.

Surplus perdagangan juga dialami dengan Filipina yang mencapai US$713,9 juta, dengan komoditas penyumbang surplus terbesar yaitu bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya.

Kendati demikian, perdagangan Indonesia juga mengalami defisit dengan beberapa negara, yang terbesar adalah perdagangan dengan Australia, Thailand, dan Ukraina.

"Defisit dengan Australia sebesar US$529,7 juta dikarenakan bahan bakar mineral, dan bijih logam, perak, dan abu," ucapnya.

Sedangkan, defisit perdagangan dengan Thailand mencapai US$346,8 juta yang disebabkan oleh komoditas plastik dan barang dari plastik, diikuti dengan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.

Sementara, perdagangan dengan Ukraina terjadi defisit sebesar US$247,2 juta dengan komoditas utama serealia serta besi dan baja.

Dengan demikian, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari sampai September 2021 mengalami surplus US$25,07 miliar.

"Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya pada periode yang sama di 2020 yang surplusnya tercatat US$13,35 miliar dan bahkan di 2019 kita mengalami defisit," pungkas Margo. (E-3)

Baca Juga

Antara/Sigid Kurniawan.

Rachmat Gobel Apresiasi Pembatalan PPKM Level 3 saat Nataru

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 Desember 2021, 15:31 WIB
Pengumuman oleh Menko Marinves itu berarti membatalkan pengumuman yang dilakukan Menko PMK Muhajir Effendy pada Rabu 17 November...
ANTARA/OLHA MULALINDA

Pertamina dan AKR Corporindo Belum Setor Pajak Bahan Bakar Rp2 T

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 08 Desember 2021, 15:00 WIB
"PT Pertamina dan PT AKR Corporindo belum menyetorkan PBBKB yang terkandung dalam kompensasi BBM yang diterima dari pemerintah,...
ANTARA/ISMAR PATRIZKI

Mendag: Pengusaha Waralaba mesti Adaptasi Kondisi Normal Baru

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 08 Desember 2021, 14:42 WIB
Indonesia tidak lagi menjadi pasar bagi waralaba asing. Pasalnya, waralaba lokal sudah menjadi tuan rumah dan menguasai pasar dalam negeri,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya