Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$4,37 miliar pada September 2021 dengan nilai ekspor mencapai US$20,60 miliar dan impor US$16,23 miliar. Angka ini pun membuat Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 17 bulan berturut-turut.
"Hal ini membuat neraca perdagangan Indonesia selama 17 bulan beruntun membukukan surplus," ungkap Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers secara daring, Jumat (15/10).
Dia merinci, komoditi nonmigas penyumbang surplus terbesar ialah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja. Sedangkan, negara yang memberikan andil terhadap surplus terbesar yaitu Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Margo menambahkan, neraca perdagangan dengan AS mengalami surplus US$1,5 miliar dengan komoditas surplus terbesar yakni pakaian dan aksesorinya.
Kemudian, perdagangan dengan India juga mengalami surplus sebesar US$718,6 juta dengan komoditas utama bahan bakar mineral dan lemak minyak hewan atau nabati.
Surplus perdagangan juga dialami dengan Filipina yang mencapai US$713,9 juta, dengan komoditas penyumbang surplus terbesar yaitu bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya.
Kendati demikian, perdagangan Indonesia juga mengalami defisit dengan beberapa negara, yang terbesar adalah perdagangan dengan Australia, Thailand, dan Ukraina.
"Defisit dengan Australia sebesar US$529,7 juta dikarenakan bahan bakar mineral, dan bijih logam, perak, dan abu," ucapnya.
Sedangkan, defisit perdagangan dengan Thailand mencapai US$346,8 juta yang disebabkan oleh komoditas plastik dan barang dari plastik, diikuti dengan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.
Sementara, perdagangan dengan Ukraina terjadi defisit sebesar US$247,2 juta dengan komoditas utama serealia serta besi dan baja.
Dengan demikian, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari sampai September 2021 mengalami surplus US$25,07 miliar.
"Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Misalnya pada periode yang sama di 2020 yang surplusnya tercatat US$13,35 miliar dan bahkan di 2019 kita mengalami defisit," pungkas Margo. (E-3)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,45%, menandai momentum pembalikan arah ekonomi yang solid.
IHSG mencetak sejarah baru (All Time High) di level 8.859, mengabaikan tensi geopolitik global berkat solidnya data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2025, ekspor tercatat US$24,24 miliar dan impor US$21,84 miliar sehingga surplus US$2,39 miliar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved