Rabu 15 September 2021, 13:25 WIB

Kemenperin Pertanyakan Wacana BPOM Labeli Kemasan Galon Mengandung BPA

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Kemenperin Pertanyakan Wacana BPOM Labeli Kemasan Galon Mengandung BPA

DOK Pribadi.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Edy Sutopo.

 

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) mempertanyakan wacana tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengeluarkan kebijakan soal pelabelan air minum dalam kemasan (AMDK) plastik yang mengandung BPA. Dalam wacana kebijakan itu, BPOM diduga akan mewajibkan kemasan galon polikarbonat (PC) yang mengandng BPA untuk mencantumkan keterangan Bebas BPA dan turunannya atau Lolos batas BPA atau kata semakna.

"Yang saya herankan, kenapa kita sering terlalu cepat mewacanakan suatu kebijakan tanpa terlebih dahulu mengkaji secara mendalam dan komprehensif berbagai aspek yang akan terdampak," ujar Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Edy Sutopo, dalam keterangan resmi, Rabu (15/9). 
Menurut beberapa sumber, BPOM mengadakan pertemuan dengan sejumlah pihak pada Senin 13 September 2021 di kantornya untuk membicarakan mengenai wacana perubahan batas toleransi migrasi Bisfenol A (BPA) dalam kemasan makanan dan minuman dari sebelumnya 0,6  bagian per juta (bpj, mg/kg) menjadi 0,1 bpj. 

Tidak hanya itu, pertemuan tersebut mewacanakan pelabelan air minum dalam kemasan (AMDK) yang menggunakan kemasan plastik mengandung BPA agar mencantumkan keterangan Bebas BPA dan turunannya atau Lolos batas BPA atau kata semakna. Mendengar informasi ini, Edy menyatakan kaget karena tidak ikut diundang dalam pertemuan tersebut. "Terus terang saja kami kaget, karena kami tidak diundang pada rapat tersebut," ucapnya.

Dia mengutarakan seharusnya BPOM perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum membuat wacana pelabelan itu.  Misalnya, kata Edy, BPOM harus melihat negara yang sudah meregulasi terkait BPA, ada tidaknya kasus menonjol yang terjadi di Indonesia ataupun di dunia terkait dengan kemasan yang mengandung BPA, serta ada tidaknya bukti empiris yang didukung scientific evidence, dan urgensi kebijakan ini dilakukan. "Itu pertimbangan yang perlu dilakukan sebelum BPOM mewacanakan kebijakan terkait kemasan pangan yang mengandung BPA. Dalam situasi pandemi saat ekonomi sedang terjadi kontraksi secara mendalam, patutkah kita menambah masalah baru yang tidak benar-benar urgen?" tukasnya mempertanyakan wacana kebijakan BPOM itu.

Dia juga menyoroti dampak yang akan ditimbulkan kebijakan itu nanti terhadap investasi kemasan galon guna ulang yang yang jumlahnya kini tidak sedikit dan psikologis konsumen. Seharusnya, menurut Edy, BPOM perlu lebih berhati-hati dalam melakukan setiap kebijakan yang akan berdampak luas terhadap masyarakat. "Mestinya setiap kebijakan harus ada RIA (Risk Impact Analysis) yang mempertimbangkan berbagai dampak, antara lain teknis, kesehatan, keekonomian, sosial, dan lain-lain," katanya.

Desakan soal label peringatan konsumen pada kemasan galon isi ulang yang mengandung BPA mulai dimunculkan sejak tahun lalu dan pertama kali dilontarkan oleh organisasi yang menyebut diri mereka sebagai Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL). Desakan ini juga bersamaan dengan munculnya air kemasan galon sekali pakai di pasar yang dijual secara masif.

Untuk menghindari keresahan konsumen atas perlakukan JPKL, BPOM mengadakan pertemuan dengan mengundang sejumlah pihak untuk membahasnya. Hasilnya, BPOM mengeluarkan rilis pada 29 Juni 2021 yang dimuat pada situs resminya untuk mengklarifikasi yang disampaikan JPKL. Rilis BPOM itu berbunyi, "Sehubungan dengan isu seputar Bisfenol A (BPA) dalam kemasan galon polikarbonat (PC) yang berkembang, bersama ini Badan POM memberikan penjelasan, di antaranya BPA berbahaya bagi kesehatan apabila terkonsumsi melebihi batas maksimal yang dapat ditoleransi oleh tubuh; batas migrasi maksimal BPA sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg) sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan; hasil sampling dan pengujian laboratorium terhadap kemasan galon AMDK jenis polikarbonat yang dilakukan pada 2021 menunjukkan ada migrasi BPA dari kemasan galon sebesar rata-rata 0,033 bpj. Nilai ini jauh di bawah batas maksimal migrasi yang telah ditetapkan Badan POM, yaitu 0,6 bpj. Selain itu, Badan POM melakukan pengujian cemaran BPA dalam produk AMDK. Hasil uji laboratorium (dengan batas deteksi pengujian sebesar 0,01 bpj) menunjukkan cemaran BPA dalam AMDK tidak terdeteksi."

Baca juga: Presiden Groundbreaking Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Pertama di Indonesia

Sebelumnya Kemenperin juga menegaskan bahwa air kemasan galon baik yang berbahan PET maupun PC aman untuk digunakan oleh industri. (OL-14)

Baca Juga

Ant/Suriani M

Harga Emas Berjangka Kembali Naik

👤Muhamad Fauzi 🕔Kamis 23 September 2021, 07:10 WIB
HARGA Emas merangkak naik dalam perdagangan yang bergejolak pada Rabu atau Kamis pagi WIB...
Antara

Wall Street Ditutup Menguat 1 Persen

👤Muhamad Fauzi 🕔Kamis 23 September 2021, 06:45 WIB
WALL Street berakhir lebih tinggi dengan tiga indeks utama menguat sekitar satu persen pada Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB...
Dok. Blibli

Inisiatif #Pejuanglokal Blibli Bikin UMKM Naik Kelas

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 22 September 2021, 23:54 WIB
Inisiatif itu, lanjut Andreas juga menjadi bagian dari Galeri Indonesia yang merupakan salah satu fitur dalam Blibli yang mendorong pelaku...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sarjana di Tengah Era Disrupsi

Toga kesarjanaan sebagai simbol bahwa seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi akan menjadi sia-sia jika tidak bermanfaat bagi diri dan orang banyak di era yang cepat berubah ini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya