Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Surya Biru Murni Acetylene (SBMA) Tbk berencana untuk mencatatkan namanya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan penawaran saham perdana kepada publik (Initial Public Offering/IPO) dalam waktu dekat. Perusahaan akan melepas sebanyak 278.400.000 saham dengan harga penawaran sebesar Rp180 per lembar. Adapun bertindak sebagai penjamin efek adalah PT KGI Sekuritas Indonesia.
Selain itu, perseroan juga akan menerbitkan Waran Seri I sebanyak 46.400.000 lembar yang diberikan secara cuma-cuma kepada investor sebagai bentuk insentif. Sehingga setiap pemegang enam saham baru hasil IPO berhak mendapatkan satu Waran Seri I yang mana setiap satu Waran Seri I memungkinkan pemegang saham membeli satu saham perusahaan yang dikeluarkan dalam portepel.
Perusahaan yang bergerak di bidang industri kimia anorganik gas ini akan memanfaatkan dana yang diperoleh dari IPO untuk mendukung pengembangan usahanya. Sekitar 49,01% dana yang didapatkan akan digunakan untuk pengadaan lahan untuk perluasan pabrik. Kemudian 37% bakal digunakan untuk peningkatan kapasitas produksi seiring dengan permintaan pasar yang besar. Sedangkan 13,99% untuk modal usaha.
"Dengan dana IPO yang dikantongi, kami yakin kinerja perusahaan ke depan akan semakin moncer. Rencananya, pengembangan usaha akan terus dilakukan dengan menambah kapasitas produksi. Saat ini, kapasitas produksi mencapai 2 juta liter per tahun dan akan dinaikkan hingga lebih dari 3,5 juta liter per tahun. Untuk itu akan dilakukan penambahan 3 unit lorry tank, 50 tabung vgl oxygen dan investasi 5.000 tabung," ungkap Iwan Sanyoto, Direktur PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk, dalam keterangan yang diterima, Senin (6/7).
Ia mengatakan, sehubungan dengan posisi perseroan yang berada di Pulau Kalimantan dengan banyak industri yang ada di sana, maka kebutuhan gas atau oksigen untuk proses produksi juga akan sangat tinggi. Termasuk di antaranya kebutuhan oksigen medis yang saat ini jumlah permintaan sangat tinggi lantaran banyaknya pasien yang terpapar covid-19.
"Oleh sebab itu sebagai perusahaan yang juga mampu memproduksi oksigen dan produk kimia anorganik tentu kami dapat memanfaatkan peluang pasar tersebut. Apalagi di Kalimantan sangat minim kompetitor lantaran jumlah industri yang memproduksi produk yang sama sangat terbatas," kata Iwan.
Baca juga: Investasi Teknologi dan Keamanan untuk Jadi Bank Digital Terdepan
Khusus untuk produk oksigen medis, diperkirakan hingga 2025 kebutuhannya akan terus meningkat seiring dengan banyaknya rumah sakit baru yang berdiri. Perseroan memperkirakan pasar oksigen medis lebih dari Rp35 miliar per tahun. Pasar yang begitu besar ini akan digarap oleh perseroan dengan strategi penjualan produknya secara bulk size atau berupa liquid.
Hal ini dilakukan perseroan untuk memudahkan perseroan melakukan penetrasi pasar pada daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan kendaraan besar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan perseroan juga akan mengembangkan pangsa pasar dalam bentuk liquid.
Sementara dengan memanfaatkan dana hasil IPO, perseroan juga berencana untuk terus terus membangun stasiun-stasiun distribusi berupa filling station dan distribution hub. Hal ini diperlukan untuk memperluas area distribusi perseroan sehingga jumlah pelanggannya akan terus berkembang. Hingga saat ini, perseroan telah memiliki distribution hub di Samarinda, Berau, Bontang, Tarakan, Tanjung, Nunukan.
Cintia Kasmiranti, Direktur and Corporate Secretary PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk, menambahkan, hingga 31 Mei 2021, perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp32,19 miliar (unaudited). Jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp30,14 miliar.
Sementara laba operasi pada periode itu sebesar Rp2,78 miliar atau lebih rendah jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar Rp3,42 miliar. Sedangkan total aset perusahaan tercatat sebesar Rp199,17 miliar. Jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan total aset yang tercatat sepanjang 2020 senilai Rp195,25 miliar.
Kemudian liabilitas perseroan per 31 Mei 2021 adalah sebesar Rp48,86 miliar atau lebih tinggi jika dibandingkan 2020 sebesar Rp45,27 miliar. Untuk ekuitas pada periode tersebut sebesar Rp150,25 miliar lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sebesar Rp149,98 miliar.
"Dengan memperhatikan ikhtisar kinerja perseroan tersebut, dapat diketahui bahwa perusahaan dalam kondisi sehat. Seiring dengan pertumbuhan bisnis dan juga pangsa pasar yang akan terus diperluas, diyakini ke depan kinerja keuangan perseroan akan semakin berkembang. Manajemen optimistis dengan sumber daya yang ada dan peluang pasar yang menjanjikan akan dipadukan untuk bisa meraih kinerja yang gemilang," kata Cintia. (RO/S-2)
PRESIDEN Prabowo Subianto bertemu dengan petinggi perusahaan global di Amerika Serikat, Jumat (20/2) waktu setempat. Dalam pertemuan itu Indonesia memperkuat sistem investasi
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan pimpinan dari 12 perusahaan investasi terbesar dunia dalam upaya memperkuat kemitraan strategis, dalam pertemuan yang berlangsung di Washington DC.
Presiden Prabowo mengajak General Electric meningkatkan investasi alat kesehatan di Indonesia. Langkah ini seiring pembangunan 10 universitas STEM
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah Indonesia untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif saat berbicara di hadapan para pelaku usaha Amerika Serikat.
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan langkah pemerintah dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5% sekaligus mempercepat pembangunan konektivitas.
GRUP Adani, perusahaan multinasional raksasa asal India, mengumumkan investasi sebesar US$100 miliar untuk mengembangkan pusat data AI skala yang didukung energi terbarukan pada 2035
DALAM rangka memperkuat penetrasi pasar dan memaksimalkan potensi pembiayaan di wilayah Jawa Barat, PT Shinhan Indo Finance (SIF) mengoptimalkan kembali operasional Kantor Cabang Bandung.
Dalam rancangan awal, kewajiban ini akan menyasar perusahaan dengan skala besar, yakni yang memiliki jumlah karyawan minimal 2.000 orang.
Melalui sistem Unified User, hambatan administrasi dalam proses rekrutmen diminimalisir.
MEREK perawatan kulit asal Korea Selatan, Innisfree, menutup seluruh gerai fisiknya di Indonesia. Perusahaan tetap melayani konsumen melalui penguatan kanal digital dan retailer resmi.
Terdapat 1.236 perusahaan industri yang menyelesaikan tahap pembangunan pada 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kali pada 2026.
PERUSAHAAN harus mampu menjalankan dua mesin secara paralel yaitu menjaga bisnis inti tetap optimal sambil terus melakukan langkah-langkah inovasi terobosan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved