Rabu 21 Juli 2021, 14:51 WIB

Pasar Keuangan Global Stagnan, Rupiah Relatif Stabil

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pasar Keuangan Global Stagnan, Rupiah Relatif Stabil

Antara
Ilustrasi karyawan bank menghitung uang rupiah.

 

SETELAH Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed mengisyaratkan untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada 2023, rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah berkisar Rp14.220 per US$ hingga Rp14.530 per US$. Mengingat, investor memindahkan modalnya dari sejumlah pasar negara berkembang. "Sejak saat itu, rupiah relatif stabil di sekitar Rp14.500 per US$, meski ada kasus covid-19 dan PPKM darurat di Jawa dan Bali," ujar ekonom dari FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky, Rabu (21/7).

"Rupiah dinilai cukup kuat karena beberapa faktor eksternal, termasuk sikap The Fed untuk kebijakan moneter yang akomodatif. Meskipun inflasi AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan," imbuhnya.

Baca juga: Ini 6 Kebijakan OJK untuk Jaga Stabilitas Sistem Keuangan di Masa Pandemi

Dalam Semiannual Monetary Policy Report kepada Kongres AS, Gubernur The Fed Jerome Powell menyebut AS masih belum mencapai lapangan kerja maksimum. Pun, masih terlalu dini untuk mengubah arah kebijakan moneter di Negeri Paman Sam.

Selain itu, untuk mendukung pemulihan ekonomi, People’s Bank of China (PBOC) mengumumkan rencana memangkas rasio cadangan wajib (RRR) sebesar 50 basis poin (bps) efektif mulai 15 Juli.

Meski beberapa investor memindahkan aset dari pasar negara berkembang, seperti Indonesia, investor lain mungkin menempatkan aset dalam portofolio yang lebih berisiko. Kondisi ini menghasilkan rupiah yang relatif stabil.

Baca juga: Menkeu: Utang Pemerintah Juga Bantu Sektor Perbankan

Berikut, sedikit penurunan arus masuk modal bersih dari US$8 juta pada pertengahan Juni 2021, kemudian menjadi US$7,34 juta pada pertengahan Juli 2021. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah 1 tahun naik menjadi 3,9% pada pertengahan Juli ini.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun tetap stabil di 6,4% pada Juni-Juli 2021. Dibandingkan dengan mata uang lain, seperti real Brasil dan rupee India, kinerja rupiah relatif lebih baik dan mencatatkan apresiasi sebesar 1,25% (ytd) terhadap US$.

Namun, bila dibandingkan dengan mata uang negara tetangga, ringgit Malaysia dan baht Thailand berhasil melampaui kinerja nilai tukar rupiah. Kedua mata uang negara tetangga mencatat apresiasi yang lebih tinggi dari tahun ke tahun.(OL-11)
 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Ampelsa

Wapres: Upaya Menjadi Produsen Halal belum Optimal

👤Emir Chairullah 🕔Rabu 28 Juli 2021, 12:24 WIB
Ma’ruf menyebutkan, Indonesia belum mampu memanfaatkan potensi ini secara optimal, potensi pasarnya sebagai negara berpenduduk Muslim...
Antara/Hafidz Mubarak

CORE Prediksi Pertumbuhan Triwulan II 4,5% - 5,5%

👤M Ilham Ramadhan 🕔Rabu 28 Juli 2021, 12:22 WIB
Dampak dari pengetatan mobilitas masyarakat itu diprediksi akan terlihat pada perekonomian di triwulan III...
FOTO/brilife.co.id

BRI Life Investigasi Kasus Dugaan Kebocoran Data 2 Juta Nasabah

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 28 Juli 2021, 12:07 WIB
Corporate Secretary BRI Life Ade Nasution mengungkapkan langkah tersebut, sebagai tindak lanjut atas adanya berita di social media pada 27...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Membangun Konektivitas Segitiga Emas Jawa Bagian Tengah

 Untuk membangkitkan pertumbuhan perekonomian di Jawa bagian tengah, Tol Joglosemar menjadi salah satu solusi

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya